Training Peningkatan K3 Di Lingkungan Rumah Tangga dilaksanakan di Makassar

0
1127

Makassar, Jurnalpost – Pada tanggal 16 September 2016 International Labour Organisasition (ILO) melalui akun Twitternya @ilo menyampaikan bahwa “Work-related accidents and illnesses claim more victims each year than armed conflict. Decent work is safe work” atau kecelakaan dan penyakit yang terkait dengan pekerjaan ternyata memakan korban lebih banyak setiap tahunnya dibanding korban konflik bersenjata.

Training Peningkatan K3 Di Lingkungan Rumah Tangga dilaksanakan di Makassar

Hal inilah yang mendasari ILO terus bekerja untuk memperkuat K3 di semua sektor dengan prinsip decent work is safe work atau kerja layak adalah kerja yang aman, termasuk di sektor rumah tangga.

Hari ini (Selasa 27/09/16) ILO-Promote melaksanakan kegiatan training K3 di Sekretariat Serikat Pekerja Rumah Tangga (SPRT) Paraikatte Makassar, di Perumahan Griya Bukit Antang Sejahterah, Makassar.

Irfan Afandi trainer ILO-Promote untuk K3 menjelaskan bahwa “secara singkat Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dapat diartikan sebagai semua kondisi dan faktor yang dapat berdampak pada keselamatan dan kesehatan kerja pada tenaga kerja maupun orang lain di tempat kerja”

Menurutnya hal yang tidak disadari banyak kalangan adalah ada begitu banyak ancaman kesehatan dan keselamatan kerja yang ada di rumah tangga. Dia mencotohkan misalnya ; Bahaya fisik akibat getaran, bising, panas, kelembaban, pencahayaan, radiasi ion, api, dsb. Bahaya Kimia: disinfektan, deterjen, pewarna, pemutih, pengharum, cat, gas cair, minyak, dsb. Bahaya Psikososial: jam kerja panjang, kurang istirahat, tanpa libur, gaji telat, kekerasan verbal, dsb. Bahaya Ergonomi: beban berat, posisi kerja diatas siku, kerja jongkok, gerakan terus menerus dan postur tubuh statis, dsb. Bahaya Listrik: kesetrum, arus pendek, dsb. Bahaya Tempat Kerja: bekerja di ketinggian, lantai licin, topografi,

30 orang PRT yang ikut dalam training ini terlihat sangat antusias mengikuti semua sesi kegiatan. Pada sesi pertama setelah mendengar penjelasan dari Trainer mereka diminta untuk menggambar tubuh manusia dan menentukan pada gambar tersebut, titik-titik mana yang rawan terhadap ancaman K3 bagi mereka yang bekerja sebagai PRT.

Dari sesi ini, terlihat ada begitu banyak pemikiran yang berhasil dirumuskan PRT pada gambar itu, misalanya mereka menunjuk pinggang yang sering sakit karena mengangkat beban berat, tangan yang rawan terkena pisau sebagai alat kerja PRT atau bahkan ada yang menunjuk gambar hati, karena menurutnya sering makan hati akibat upah telat dibayar majikan, dll.

Pelatihan ini juga terlihat berlangsung sangat menyenangkan bagi peserta. Hal ini juga dikarenakan metode Kinaesthetic learning yang diterapkan pada training ini, dimana peserta pelatihan lebih banyak melakukan praktek langsung ketimbang mendengar ceramah dari Pelatih.

Di sesi akhir setelah melakukan praktek ke beberapa rumah di area sekitar tempat training, mereka kemudian diminta untuk membuat tiga rencana perbaikan di tempat kerja masing-masing. Mereka akan mendokumentasikan rencana perbaikan tersebut dengan membuat foto “sebelum” dan “sesudah”. Irfan menjanjikan bahwa foto-foto tersebut akan dimonitor dan dilombakan pada 3 bulan berikutnya. Pemenang rencananya akan diundang ke Jakarta, karena foto-foto tersebut akan dipamerkan kepada para pejabat dan stakeholder terkait pada sebuah even khusus di Jakarta.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here