Topik: Tanoto Foundation

Berawal dari Facebook, 2 Perusahaan Besar di Kaltim Biayai Pelatihan Pembelajaran Aktif MIKIR

Perusahaan Besar

Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Jurnalpost – Pelatihan pembelajaran aktif Tanoto Foundation yang menggunakan skenario MIKIR (Mengalami, Interaksi, Komunikasi dan Refleksi) selama ini banyak diadopsi oleh Dinas Pendidikan dan Kemenag daerah mitra seperti Kukar dan Balikpapan. Sebagai Mitra Tanoto Foundation, mereka melatihkan ke pendidik yang bukan target sasaran langsung program. Jumlah pesertanya pada tahun 2019 bahkan mencapai 695 orang terdiri dari kepsek, guru dan pengawas.

Namun ternyata bukan entitas pemerintah saja yang tertarik untuk menyebarluaskan. Dua perusahaan besar pertambangan batu bara yaitu Indominco Mandiri dan sub contractornya Pama Persada, baru-baru ini ikut berperan membiayai pelatihan pembelajaran aktif tersebut. Pelatihan kali diikuti 81 guru yang berasal dari desa Santan Tengah dan Santan Ilir di Marrangkayu, Kutai Kartenegara, Kaltim.

Menariknya, diseminasi ini terjadi karena ada seorang guru yang melihat postingan-postingan pembelajaran oleh guru-guru yang pernah dilatih oleh Tanoto Foundation di Facebook. Nama ibu itu adalah Kartini, ketua Kelompok Kerja Guru di Marrangkayu. “Jadi saya bergabung dengan grup Forum Peningkatan Kualitas Pendidikan di Facebook, dan saya sangat tertarik dengan model pembelajaran-pembelajaran yang membuat siswa aktif, kreatif dan inovatif yang diposting disitu yang selama ini belum banyak kami lakukan,” ujarnya (10 April 2019).

Dia kemudian menghubungi salah satu fasilitator daerah Tanoto Foundation di Marrangkayu, Nanang Nuryanto, melihat kemungkinan pelatihan untuk guru-guru di Marrangkayu. Setelah mendapatkan kepastian pelatihan bisa dilakukan, ia mengajukan proposal pembiayaan ke Indominco. Proposal tersebut dengan cepat disetujui. Indominco menalangi bagian konsumsi pelatihan, dan perusahaan sub contractornya yaitu PAMA Persada membiayai bagian honor fasilitator.

“Biasanya persebaran pelatihan pembelajaran aktif PINTAR diusulkan oleh Kemenag, Dinas Pendidikan atau UPT, nah kali ini benar-benar digagas oleh guru, terutama olehi bu Kartini. Mereka ingin mengubah metodologi mengajar mereka yang selama ini lebih banyak klasikal atau ceramah, ke yang membuat siswa memiliki skill yang dibutuhkan untuk menghadapi era industry 4.0, “ ujar Nanang Nuryanto.

Keberhasilan Pelatihan

Pelatihan yang dilakukan, menurut para peserta, membuahkan hasil yang memuaskan. Setelah tiga hari menjalani pelatihan dan praktik langsung di sekolah, guru-guru merasa memiliki ketrampilan mengajar yang baru. “Selama mengikuti pelatihan, saya merasa dapat paling banyak ilmu disini. Membuat lembar kerja dan rencana pembelajaran bisa hanya dengan acuan dari kompetensi dasar atau KD, tanpa melihat buku teks lagi. Padahal sebelumnya saya selalu tergantung buku teks,” ujar ibu Hasnah, salah satu peserta.

Pada pelajaran IPA, Siswa-siswa SD 015 Marrangkayu diminta membuat mobil-mobilan, gasing dan dan pinang pusing atau berputar, sambil mengidentifikasi dan melaporkan tentang hubungan pengaruh gaya dan gerak. Ratna, guru yang mengajar praktik pada pelajaran tersebut, ketika refleksi, merasa mendapatkan pengetahuan yang luar biasa setelah pelatihan, bahkan ia bercerita sambil menangis. “Dengan pembelajaran ini, anak-anak benar-benar menjadi aktif, mereka benar-benar terlibat dan mengalami langsung. Kenapa ya pembelajaran dari dahulu tidak seperti ini,” ujar guru dari SD 015 tersebut.

Siswa kelas 5 di SDN 015 Marrngkayu juga berhasil mengidentifikasi pengaruh limbah terhadap lingkungan. Siswa membuat percobaan memasukkan ikan ke berbagai media air yang dicampuri dengan minyak jelantah, rinso dan lain-lain. Mereka membuat laporan dan presentasi tentang hasil percobaan tersebut.

Bahkan Ibu Kartini, penggagas diadakannya pelatihan ini, ingin juga nanti menyelenggarakan pelatihan modul 2 program PINTAR. “Pembelajaran aktif ini berhasil membuat siswa mengalami dan mengeksplorasi potensi siswa. Kami penasaran seperti apa modul II. Karena modul satu ini saja memberikan kami banyak pengetahuan baru,” ujarnya

Community Development Officer PT Indominco, Sulaiman, walaupun ingin melihat capaian lebih jauh, mengatakan perusahaan siap untuk mendanai pelatihan modul II. “Kami siap membiayai lebih jauh kalau dampak positifnya nyata di lapangan dan isi dari modul II itu jelas sasarannya,” ujarnya.

Tulus Sutopo, Kabid Pembinaan SD Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutai Kartanegara sangat menghargai kontribusi dua perusahaan tersebut. “Kita patut berterima kasih pada perusahaan-perusahaan yang perduli dengan peningkatan kualitas pendidikan di Kukar. Model ini bisa diikuti oleh perusahaan-perusahaan lainnya di kecamatan lainnya di wilayah Kukar,” katanya.

Sandra Lakembe, Government Liason Officer Tanoto Foundation Kalimantan Timur, mewakili pihak Tanoto Foundation, juga sangat mengapresiasi inisaitif yang dilakukan guru-guru di Marrangkayu dan sumbangsih perusahaan terhadap pelatihan. “Kabupaten Kutai Kartanegara sedang defisit anggaran. Keterlibatan perusahaan dan sumber-sumber daya daerah yang lain sangat diperlukan untuk memastikan tersebarnya praktik pengajaran yang lebih sesuai dengan zaman ini,” ujarnya.

Inilah Beberapa Praktik Strategi Menarik Sumbangan Buku dari Masyarakat

Praktik Strategi Menarik

Kalimantan Timur, Jurnalpost – Agar siswa gemar membaca buku, banyak rekayasa yang harus dilakukan sekolah. Tanpa rekayasa yang terprogram, kebiasaan membaca buku juga tidak akan tumbuh. Salah satu yang penting adalah rekayasa menarik sumbangan buku dari masyarakat.

Sekolah-sekolah yang sudah menerapkan program literasi, biasanya mengalami kendala kekurangan buku saat program tersebut sudah berjalan. Siswa masih mau membaca buku, tetapi buku-buku yang bagus sudah terbaca semua. Hal ini bisa menurunkan semangat dan minat siswa untuk membaca.

Misalnya di SD 12 Kutai Kartanegara. Semenjak dilatihkan program budaya baca, sekolah mitra Tanoto Foundation ini sudah mulai menjalankan program literasi. Namun menurut Siti Albani, sekolahnya masih kekurangan banyak buku “Buku di sekolah banyak sudah dibaca siswa. Strategi kami adalah kami akan memutar buku yang ada di pojok baca di setiap kelas ke kelas-kelas yang lain,” ujarnya.

Di sekolah-sekolah lain, beberapa strategi telah dilakukan untuk mendulang buku dari masyarakat, seperti berikut ini:

Madrasah Ibtidaiyah Asy Syauqi Kutai Kartanegara: Bekerja sama Dengan Perusahaan

Madrasah Ibtidaiyah Asy Syauqi langganan membeli buku paket pelajaran pada sebuah perusahaan buku. Dengan cerdik, sang kepala madrasah, ibu Iip Syarifah, sebagai timbal balik pembelian buku tersebut, mengusulkan perusahaan membantu meningkatkan budaya literasi sekolah. Ia mengusulkan perusahaan mengadakan reading day per kelas tiap minggu. Usul tersebut diterima. Perusahaan sesuai jadwal membawa banyak buku cerita ke kelas. Selama kurang lebih satu jam, para siswa membaca dan menceritakan isi buku bacaan. Perusahaan memberikan hadiah buku carita bagi siswa yang berani bercerita di depan teman-temannya dengan baik. Kegiatan seperti ini sudah berlangsung dua kali. Selain itu, ibu Iip juga membentuk paguyuban kelas dan mengorganisasikannya lewat grup di whats apps. Lewat aplikasi tersebut, ia menghimbau orang tua siswa yang tergabung di dalamnya menyumbangkan buku. Saat penyerahan buku, gambar-gambarnya juga ia share di grup, sehingga memantik orang tua lainnya untuk perduli.

MI AL Aula Balikpapan : Mengumpulkan Buku dari Paguyuban Kelas dan Arisan Buku

Komite atau paguyuban kelas di Mi Al Aula cukup aktif untuk mengumpulkan buku. Ketua komite kelas satu yang sering datang ke sekolah, menghimbau para anggota paguyuban untuk menyumbangkan buku di rumah masing-masing untuk diletakkan di sudut baca.. Selain kegiatan tersebut, siswa kelas V Mi Al Aula juga punya kreatifitas. Mereka membuat arisan buku. Seluruh siswa mengumpulkan uang untuk satu orang, dan hasilnya dibelikan buku yang kemudian diletakkan di pojok baca.

SDN 003 Tenggarong: Menarik Buku dari Calon Alumni

Untuk menambah jumlah buku, SDN 003 Tenggarong mewajibkan para siswa yang mau lulus menyumbangkan minimal satu buku buku cerita ke sekolah. Buku tersebut kemudian distempel tersendiri. Stempel alumni. Setiap lulusan sekolah, rata-rata sekolah mendapatkan 60 buku dari alumni. “Cukup banyak untuk menambah buku di sudut-sudut baca, yang kami rolling ke sudut baca ke setiap kelas yang lain,” ujar Kurnia, guru sekolah tersebut.

Mendulang buku di MTs Balikpapan; Program Koinku untuk Buku

MTs 1 Balikpapan memiliki cara unik untuk mendulang buku. Sekali sebulan pada hari Senin saat sehabis upacara, sekolah mengadakan sumbangan koinku untuk buku atau disingkat kutu buku. Siswa yang ditunjuk khusus berkeliling menyodorkan kotak sumbangan. Karena jumlah siswa di madrasah tersebut berjumlah lebih dari 1000, hasil yang didapat cukup banyak, kurang lebih satu juta rupiah dalam sekali pengumpulan. Uang yang didapat dibelikan buku lewat kelompok literasi yang aktif di Balikpapan yaitu Komunitas Bikers Sosial. “Buku yang didapat lebih murah dan lebih variatif, sesuai selera siswa,” kata ibu Ummi Putri Balia, penggagas gerakan koinku untuk buku di madrasah ini. Sekolah saat ini telah membuat pojok baca, taman baca di tengah sekolah, dan juga jadwal membaca rutin.

SMPN1 Balikpapan: Lomba Perpustakaan Mini Kelas

Atas inisiasi ibu Aryanti, SMPN Balikpapan mengawali gerakan literasi di sekolah tersebut dengan mengadakan lomba perpustakaan mini kelas. Mereka membentuk kepanitiaan yang terdiri dari guru bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Mereka mengundang orang tua siswa dan mengumumkan bahwa sekolah akan memulai gerakan literasi dengan lomba perpustakaan mini kelas yang akan dikelola orang tua siswa. Salah satu kriteria ikut lomba perpustakaaan mini kelas adalah bukunya harus berjumlah minimal 60 eks dan sesuai dengan usia anak. Karena persyaratan jumlah buku tersebut, orang tua siswa berlomba-lomba menyumbangkan buku ke sekolah untuk diisikan di perpustakaan mini di kelas. Buku yang terkumpul dari lomba ini lebih dari 600 buku.

Madrasah Ibtidaiyah Nahdatul Ulama Balikpapan: Arisan dan Pengajian Penggalangan Dana

Pak Gunanto, kepala madrasah MINU, bukan hanya kepala madrasah biasa. Ia merupakan pedakwah aktif di komunitas. Untuk membangkitkan peran serta masyarakat masyarakat, ia menggagas pertemuan rutin. Isi pertemuan adalah pengajian, arisan dan penggalangan dana. Saat pertemuan, dia melaporkan keadaan keuangan sekolah, pengeluaran dan pendapatan, serta kebutuhan yang masih harus dipenuhi. Penggalangan dana dilakukan lewat kotak amal, dan sumbangan bulan berjalan. Hasil sumbangan dibelikan untuk kebutuhan sekolah, salah satunya buku-buku yang mengisi pojok baca dan taman baca. “Lewat pertemuan rutin dengan masyarakat, masyarakat menjadi lebih terikat dengan kita. Mereka menjadi lebih perduli dengan program sekolah, termasuk program literasi,” ujarnya.

Masih banyak trik-trik lain yang telah dijalankan banyak sekolah untuk memperoleh buku. Sekolah-sekolah mengajukan proposal ke perusahaan, perpustakaan daerah atau toko-toko buku. Sekolah bisa juga menyelenggarakan bazar buku dengan penerbit buku atau ikut dalam kegiatan-kegiatan literasi lain.

Bekerjasama dengan Dinas Pendidikan dan Kemenag, Tanoto Foundation berusaha terus menerus meningkatkan budaya baca di sekolah-sekolah di daerah mitranya. Tanoto Foundation di awal tahun 2019 ikut menyumbangkan buku bagi 44 sekolah-sekolah mitra SD dan MI yang ada di Balikpapan, Kutai Kartanegara dan Samarinda. Masing-masing sekolah mendapatkan 70 buku cerita, atau totalnya 3080 buku.

Sasar Perguruan Tinggi, Tanoto Foundation Latih 76 Dosen Tenaga Kependidikan

Peserta berdiskusi
Peserta berdiskusi tentang MIKIR saat pelatihan pembelajaran aktif dan manajemen berbasis sekolah bagi dosen-dosen sekolah mitra LPTK yang diselenggarakan di Hotel Harris, Samarinda. 2- 4 Maret 2019

Samarinda, Kalimantan Timur,Jurnalpost – Setelah melatih lebih dari 1200 pendidik SD/MI dan SMP/MTs, Tanoto Foundatio kali ini melatihkan Pembelajaran aktif MIKIR (Mengalami, Interaksi, Komunikasi dan Refleksi), manajemen berbasis sekolah, dan budaya baca kepada 76 dosen Universitas Mulawarman dan IAIN Samarinda. Pelatihan ini merupakan hasil kerjasama Universitas Mulawarman, IAIN Samarinda dan Tanoto Foundation.

Salah satu tujuan pelatihan adalah agar di tingkat institusi pencetak guru, pembelajaran aktif dan gerakan literasi juga massif dilakukan. Mahasiswa calon guru akan menjalani pembelajaran aktif yang ujungnya juga akan diterapkan pada siswa ketika mahasiswa tersebut telah lulus dan jadi guru. “Kita berharap praktik baik yang telah dilatihkan oleh Tanoto Foundation ini menyebar ke seluruh dosen kependidikan, mahasiswa dan pendidik lainnya,” ujar Prof. Dr. Amir Masruhim, Dekan FKIP Universitas Mulawarman saat membuka pelatihan di Hotel Harris, Samarinda, 2 Maret 2019

Dekan FKIP juga berharap pemilik perusahaan-perusahaan besar yang ada di Kaltim mencontoh program filantropi yang dilakukan oleh Tanoto Foundation di bidang pendidikan. “Kita memiliki banyak perusahaan besar di Kalimantan ini. Kalau mereka juga berkontribusi aktif mendermakan sebagian hartanya seperti Tanoto Foundation, pendidikan di daerah ini akan cepat maju dan berkembang,” tegasnya.

Sementara itu, Sirin Wahyu Nugroho, Kepala Sub Direktorat Pendidikan Akademik Kemenristekdikti berharap para dosen bisa membuat mahasiswa yang sekarang ini kebanyakan disebut kaum milenial, merasa nyaman di kampus. Menurutnya, ciri khas para remaja sekarang mencari suasana dan lingkungan yang membuat mereka merasa betah.

Oleh karena itu, menurutnya pengembangan soft skill itu menjadi sangat penting. “Jadi mahasiswa tidak hanya mengetahui subjek perkuliahan saja, juga bagaimana mereka terlibat dalam kegiatan yang bisa mengasah soft skill mereka seperti kolaborasi dan komunikasi. Kerja-kerja yang banyak melibatkan aktivitas bersama akan lebih membuat mereka nyaman sekaligus meningkatkan soft skill mereka,” ujarnya saat memberikan sambutan pada pelatihan yang akan berlangsung tiga hari ini (2-4 Maret 2019).

Ia mengatakan soft skill seperti kemampuan bekerjasama sangat penting dimiliki mahasiswa karena di dalam dunia kerja, yang dibutuhkan adalah kerjasama tim. “Jadi kurikulum yang dibangun semestinya adalah kurikulum yang mampu mendorong terasahnya soft skill seperti itu,” ujarnya.

Provincial Coordinator Program PINTAR Tanoto Foundation Kaltim, Affan Surya berharap para dosen menerapkan di tempat perkuliahan apa yang sudah dilatihkan, sehingga pengajaran di sekolah nantinya juga semakin baik. “Meningkatnya kualitas pendidikan di tingkat sekolah akan bisa memastikan berkembangnya potensi siswa. Jika potensi siswas berkembang, maka peluang untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik ke depan akan lebih besar,” ujarnya.

Affan juga menekankan bahwa Pelatihan Pembelajaran Aktif dengan mamakai unsur-unsur MIKIR dirancang untuk menghadapi era industry abad 21. Bukan hanya bagaimana materi pelajaran yang disampaikan tercerap dengan baik, tapi juga bagaimana soft skill seperti kreatitas, kemampuan kerjasama, kemampuan komunikasi dan tampil percaya diri terintegrasi pada anak didik.

Kemenag Balikpapan Replikasi Besar-Besaran Program PINTAR Tanoto Foundation

Kemenag Balikpapan
289 guru madrasah ibtidaiyah se Balikpapan ikut dalam pembukaan pelatihan praktik baik pembelajaran yang diselenggarakan oleh Kemenag Balikpapan dan Tanoto Foundation di Aula Rumah Jabatan Walikota Balikpapan, 30 Januari 2019

Balikpapan, Kalimantan Timur, Jurnalpost – Kementrian Agama Kota Balikpapan bekerja sama dengan Tanoto Foundation melaksanakan penyebaran atau replikasi Modul Satu Program PINTAR pelatihan praktik baik pembelajaran aktif ke semua madrasah Ibtidaiyah se-kota Balikpapan yang berjumlah 24 sekolah. Peserta pelatihan adalah seluruh guru dan kepala sekolah dari 24 madrasah tersebut yang mencapai 289 orang, kecuali yang sudah mendapatkan pelatihan sebelumnya dari Tanoto Foundation. “Semua guru, bahkan guru agama, dari madrasah ibtidaiyah di Balikpapan, kita ikutkan dalam pelatihan ini,” ujar Khundori, Spesialis Pembelajaran Sekolah Dasar Tanoto Foundation Kaltim.

Penyebarluasan pelatihan atau sering disebut diseminasi adalah tindak lanjut dari kegiatan sebelumnya yaitu Pertemuan Stakeholder yang dilaksanakan sekitar bulan Desember 2018 terkait peningkatan mutu pendidikan di Balikpapan. Kemenag Balikpapan bertekad menyebarluaskan praktik baik pembelajaran ke semua pendidik di madrasah, tidak hanya Madrasah Ibtidaiyah, namun juga ke depan ke Madrasah Tsanawiyah yang ada di Balikpapan.

“Saya berharap, dengan pelatihan yang diperuntukkan untuk semua guru madrasah Ibtidaiyah yang ada di Balikpapan ini, satu tahun ke depan ini kita akan mengalami perubahan besar-besaran. Kualitas pembelajaran di semua madrasah meningkat pesat dan orang tua siswa semakin tertarik menyekolahkan anaknya ke madrasah,” ujar Sartono, Kasi Pendidikan Madrasah mewakili Kepala Kemenag saat membuka pelatihan di Aula Rumah Jabatan Walikota Balikpapan, Rabu (30 Januari 2019)

Sartono berharap dengan pelatihan besar-besaran ini semua guru madrasah memiliki kesamaan visi dan pandangan tentang bagaimana pembelajaran yang baik, cara penyampaian dan kontennya. “Metode pembelajaran itu lebih penting dari pelajaran itu sendiri. Bagaimana pun menariknya suatu pelajaran kalau cara membawakannya tidak menarik, pelajaran itu tidak akan banyak terserap oleh siswa,” tegasnya menginginkan guru berkomitmen menerapkan pembelajaran aktif.

Pelatihan untuk 289 pendidik ini dilakukan sebanyak tiga gelombang dan dilaksanakan di dua tempat, di Aula Rujab Bupati dan MI Sentral Cendekia Muslim. Setiap gelombang terbagi menjadi dua kelompok. Pelatihan akan berlangsung sampai pertengahan bulan Februari 2019.

Dana pelatihan berasal dari dana BOS masing – masing madrasah. Tanoto Foundation hanya menanggung honor untuk fasilitator daerah yang melatih. ”Pelatihan besar-besaran ini merupakan komitmen Kemenag dalam meningkatkan kualitas guru di daerah ini agar lebih inovatif dan kreatif,” ujar Syamsul Huda, Pengawas Madrasah Ibtidaiyah Kaltim.

Sebelumnya sekitar bulan Oktober 2018, Tanoto Foundation telah melatihkan pembelajaran aktif untuk pendidik dari 4 Madrasah Ibtidaiyah Mitra Tanoto Foundation di Balikpapan, yaitu Madrasah Ibtidaiyah NU, Al Ula, Sentra Cendekia Muslim dan MIN 1 Balikpapan. Masing masing madrasah mengirimkan tujuh guru. Sisa guru yang belum terlatih di masing-masing madrasah tersebut ikut pelatihan replikasi ini.

“Dengan melatihkan pembelajaran aktif memakai pendekatan MIKIR, kita berharap metode mengajar guru di madrasah menyesuaikan dengan kebutuhan zaman, menjadi lebih interaktif dan melibatkan siswa. Ini sangat penting mempersiapkan siswa menyambut era Industri 0.4 ke depan,” ujar Affan Surya, Provincial Coordinator program PINTAR Tanoto Foundation Kaltim.

Tanoto Foundation Hibahkan 21.720 Buku Bacaan di Jambi

Tanoto Foundation
Adi Sinaga dari Tanoto Foundation bersana sejumlah pejabat Dinas Pendidikan Kabupaten Tebo Provinsi Jambi hadir dalam pembagian buku di wilayah tersebut, Rabu, (16/1/2019).

JAMBI, JURNALPOST – Lembaga filantropi yang berfokus pada pendidikan Tanoto Foundation melalui Program PINTAR (Pengembangan Inovasi Kualitas Pembelajaran) dan STEP (School Transition and Empowerment Project) menghibahkan sekitar 21.720 buku bacaan di Provinsi Jambi.

Puluhan ribu buku ini dibagikan kepada 9 SD program STEP di Kecamatan Maro Sebo Ilir, serta 18 SD dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) program PINTAR di Kecamatan Muara Bulian dan Pemayung, Kabupaten Batang Hari Jambi.

Koordinator Kabupaten Program STEP Tanoto Foundation di Provinsi Jambi, Adi Sinaga, mengatakan bahwa Antilla Julie dari Northern Michigan University tahun 2013 lalu melakukan penelitian bahwa keterampilan literasi semenjak kecil, sangat menentukan kesuksesan siswa, baik di sekolah maupun dalam kehidupannya di masa depan.

“Makanya kita ingin memastikan praktik literasi sukses dilakukan semenjak dini,” ujar Adi Sinaga, Kamis (17/1/2019), usai membagikan buku di Kabupaten Batang Hari.

Menurutnya, tidak hanya akan memastikan anak-anak bisa menangkap mata pelajaran di sekolah dengan baik, tetapi juga akan menjadi bekal keberhasilan menjalani masa sekolah berikutnya dan masa depan hingga dewasa.

Selain di Batang Hari, Tanoto Foundation juga memberikan buku bacaan kepada 22 SD program STEP dan 18 SD/MI program PINTAR di Kabupaten Tanjung Jabung Barat Provinsi Jambi serta 8 SD program STEP di Kabupaten Tebo Provinsi Jambi.

”Buku bacaan yang dihibahkan tersebut merupakan buku bacaan berjenjang yang disesuaikan dengan keterampilan membaca siswa, terutama untuk siswa kelas awal,” kata Adi.

Penyerahan bantuan buku oleh Tanoto Foundation ini, mendapat respon baik dari Dinas Pendidikan Kab. Batang Hari.

”Pemerintah Kabupaten Batang Hari mengucapkan terima kasih kepada Tanoto Foundation atas pembagian buku ini. Semoga dengan adanya buku bacaan ini, minat membaca anak di Batanghari semakin meningkat,” ujar Kepala Disdik Batang Hari, Jamilah.

Disebutkannya, salah satu penggerak kegiatan belajar mengajar adalah buku. ”Sebab buku merupakan jendela ilmu, karena melalui buku dapat diketahui berbagai hal,” jelasnya.

Senada dengan Jamilah, Kabid GTK Dinas Pendidikan Kabupaten Tebo, Syafrial juga menyampaikan terima kasih atas bantuan buku yang diberikan Tanoto Foundation.

Program ini tentunya akan mendorong sekolah-sekolah yang menerima buku agar memanfaatkannya.

”Buku tersebut sangat berguna untuk meningkatkan kemampuan membaca anak dalam proses pembelajaran di kelas,” ungkap Syafrial di SD 44/VIII Teluk Singkawang.

Sementara itu, Koordinator Tanoto Foundation Provinsi Jambi, Medi Yusva berharap, buku bacaan berjenjang yang telah dihibahkan tersebut mampu membuat anak-anak rajin membaca sesuai dengan tingkatannya.

”Harapannya anak-anak tambah rajin membaca setelah adanya beragam buku menarik dari Tanoto Foundation ini,” katanya.

Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Luncurkan Program PINTAR Tanoto Foundation

program PINTAR
Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikbud, Hamid Muhammad PhD, bersama dewan pembina Tanoto Foundation, Belinda Tanoto, meninjau stan pameran dari sekolah mitra program PINTAR

Jakarta, Jurnalpost – Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikbud, Hamid Muhammad, M.Sc., Ph.D didampingi anggota Dewan Pembina Tanoto Foundation Belinda Tanoto, hari ini meluncurkan PINTAR, sebuah program peningkatan kualitas pendidikan dasar di Indonesia. PINTAR, atau Pengembangan Inovasi Kualitas Pembelajaran, berfokus pada tiga pendekatan, yaitu membangun praktik-praktik baik pembelajaran, manajemen dan kepemimpinan sekolah; mendukung pemerintah menyebarluaskan praktik-praktik baik; dan mendukung Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) dalam pendidikan calon guru.

“Dalam banyak assesmen nasional dan internasional, kita wajib prihatin dengan kondisi pendidikan di Indonesia. Saatnya kita tidak cuma melakukan seminar, FGD dan sebagainya, tapi benar benar melakukan sesuatu untuk memperbaikinya. Kami berterima kasih pada Tanoto Foundation yang telah ikut melakukan sesuatu dan berpartisipasi mengatasi salah satu masalah utama pendidikan di negeri ini yaitu masalah pembelajaran,” ujar Hamid Muhammad. (28 September 2018)

Walikota Balikpapan, Rizal Effendi yang hadir dalam peluncuran program, mengungkapkan rasa terima kasihnya atas kerjasama tersebut. “Kalau ada sebuah lembaga yang perduli pada pendidikan, maka kita berikan apresiasi setinggi-tingginya. Apalagi lembaga yang memberikan pelatihan kepada guru-guru. Salah satu tantangan terbesar pendidikan saat ini adalah masih perlunya peningkatan kualitas guru,” ujarnya.

Tanoto Foundation yang didirikan Sukanto Tanoto dan Tinah Bingei Tanoto memulai kegiatan sejak 1981. Sampai sekarang, Tanoto Foundation terus berinvestasi pada program-program yang menyentuh seluruh tahapan siklus kehidupan, mulai dari anak-anak usia dini hingga usia produktif. Tanoto Foundation berkomitmen mengembangkan Lingkungan Pembelajaran yang berkualitas, mendukung pengembangan Pemimpin Masa Depan, serta mendukung Penelitian Kesehatan. Program PINTAR merupakan salah satu komponen dari komitmen Tanoto Foundation dalam mengembangkan Lingkungan Pembelajaran yang berkualitas.

“PINTAR dirancang untuk mendukung pemerintah dalam meningkatkan mutu pendidikan dasar melalui program penguatan kapasitas pengelolaan dan kepemimpinan sekolah, peningkatan kualitas guru, serta partisipasi orangtua dan masyarakat. Kami di Tanoto Foundation percaya bahwa pendidikan berkualitas akan mempercepat munculnya kesetaraan peluang. Keyakinan kami turut diperkuat dengan hasil penelitian Mc Kinsey tahun 2017 bahwa program peningkatan kualitas guru dan kepemimpinan sekolah berdampak besar bagi peningkatan mutu pendidikan di Indonesia,” kata anggota Dewan Pembina Tanoto Foundation Belinda Tanoto.

Sebelumnya, Tanoto Foundation telah menjalankan program peningkatan kualitas pendidikan, atau Pelita Pendidikan, sejak 2010. Program ini telah bermitra dengan lebih dari 500 sekolah yang menjangkau 43.000 siswa, serta meningkatkan kapasitas dan kompetensi lebih dari 5.000 guru di tiga provinsi, yaitu Sumatera Utara, Riau, dan Jambi.

PINTAR adalah kelanjutan dan pengembangan program Pelita Pendidikan yang juga dirancang untuk menjawab tantangan sistem pendidikan di Indonesia yang kompleks, di mana Indonesia menempati posisi keempat sebagai negara dengan sistem pendidikan terbesar, setelah China, India, dan Amerika Serikat. Lebih dari 250.000 sekolah tersebar di seluruh Nusantara, serta lebih dari 2,6 juta guru dan 50 juta murid. Program PINTAR diharapkan memberi dampak yang lebih dalam dan menjangkau wilayah Indonesia lebih luas.

Mulai tahun 2018 program PINTAR diperluas ke 14 kabupaten dan kota dan 10 LPTK di 5 provinsi, yaitu Sumatera Utara, Riau, Jambi, Jawa Tengah, Kalimantan Timur, dan akan berkembang ke 30 daerah dan bermitra dengan 810 sekolah pada tahun 2019. Bekerja sama dengan pemerintah, yaitu Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan; Kementerian Agama; Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi; pemerintah provinsi; serta pemerintah kabupaten dan kota; pada 2022 program PINTAR ditargetkan menjangkau 12.000 sekolah di Indonesia.

Pastikan Kemajuan Program Dapat Diukur, Tanoto Foundation Adakan Pelatihan Monitoring dan Evaluasi

Tanoto Foundation

JURNALPOST – Balikpapan, Kalimantan Timur,- Bekerjasama dengan Pemkot Balikpapan dan Pemkab Kutai Kartanegara, Tanoto Foundation baru-baru ini mengadakan Pelatihan Monitoring dan Evaluasi di hotel Novotel Balikpapan (04-06 September 2018). Pelatihan ini untuk memastikan bahwa program Pelita Pendidikan yang dikenalkan oleh Tanoto Foundation dan baru saja dikerjasamakan dengan kedua kab/kota tersebut, kemajuan dan perkembangannya terukur, bisa dinilai sehingga hasilnya bisa benar-benar dipertanggungjawabkan di depan publik.

Pelatihan dihadiri oleh 22 peserta dari Kutai Kartanegara dan Balikpapan. Mereka terdiri dari guru, kepala sekolah dan pengawas yang terpilih dari tingkat SD/MI dan SMP/MTs.

Mereka belajar berbagai instrumen monitoring dan evaluasi terkait dengan manajemen sekolah, pembelajaran dan kompetensi siswa.

Mereka diproyeksikan terjun ke lapangan mengukur tingkat awal sekolah atau mengambil baseline data pada pertengahan bulan September 2018 ini dan akan terjun kembali dua tahun lagi ke depan untuk mengukur tingkat perubahan sekolah setelah mendapatkan intervensi Program Pelita Pendidikan.

“Sehingga bisa dilihat signifikan atau tidaknya perubahan dan perkembangan sekolah setelah adanya program ini, dan menjadi pertanggungjawaban ke publik dan pemerintah. Data awal ini akan menjadi pijakan dan pembanding kemajuan sekolah dari tahun ke tahun,” ujar Budi Setiawan, Spesialis Monitoring dan Evaluation program Pelita Pendidikan yang menjadi koordinator kegiatan.

Baseline data akan diambil di tujuh sekolah di Kutai Kartanegara dan tujuh sekolah di Balikpapan. 14 sekolah ini akan menjadi sampel dari 48 SD/MI dan SMP/MTs yang baru terpilih menjadi mitra Pelita Pendidikan.

Program pendidikan yang lahir dari kebaikan Sukanto Tanoto yang ingin menyumbangkan sebagian dana miliknya untuk kemajuan pendidikan di Indonesia ini, akan mengintervensi sekolah dengan pelatihan dan pendampingan peningkatan mutu guru, kepala sekolah, pengawas dan komite.

Sasaran utama program adalah peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah. Pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan whole school development, atau seluruh aspek berkaitan dengan sekolah akan disasar dan seluruh stakeholder sekolah secara langsung maupun tidak langsung akan dilibatkan dalam program.

Program hanya berkaitan dengan bantuan teknis peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan bukan pengembangan infrastruktur.

Sosialisasi Program di Balikpapan

Bersamaan kegiatan program ini, program Pelita Pendidikan juga telah disosialisasikan pada tanggal 4 September 2018 kepada stakeholder program di hotel Swiss Belinn Balikpapan. Program yang baru masuk di Balikpapan dan Kutai Kartanegara pada bulan Juli ini mendapat sambutan positif dari Dinas Pendidikan, Kemenag Balikpapan dan stakeholder yang lainnya.

Kepala Kemenag Balikpapan, Hakimin, di hadapan para pengawas, kepala sekolah/madrasah dan guru menyatakan bahwa keberhasilan program juga ditentukan oleh kesungguhan guru menjalankan program.

Sementara Muhaimin, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Balikpapan berharap dengan program ini dapat memotivasi guru untuk belajar lebih baik lagi. “Masih banyak kekurangan guru yang harus diperbaiki,” ujarnya.

Kutai Kartanegara MoU dengan Tanoto Foundation Tingkatkan Mutu Pendidikan

Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur – Bertempat di Pendopo Kantor Bupati Kutai Kartanegara, Drs Edi Darmansyah MSi, selaku Plt. Bupati Kutai Kartanegara, menandatangani kesepakatan atau MoU dengan Tanoto Foundation untuk pelaksanaan program Pelita Pendidikan di daerah tersebut. Tanoto Foundation adalah lembaga filantropi yang didirikan oleh Sukanto Tanoto dan Tinah Bingei Tanoto berfokus pada kegiatan pendidikan. Pada acara tersebut, Tanoto Foundation diwakili oleh Stuart Weston, Direktur Program Pelita Pendidikan (2/8/2018).

Skema awal kerjasama ini akan berlangsung selama tiga tahun yaitu mulai tahun 2018 sampai 31 Desember 2020. Tanoto Foundation akan melatih kepala sekolah dan guru-guru di 24 sekolah terpilih untuk meningkatkan kapasitasnya dalam mengimplementasikan pembelajaran aktif, manajemen sekolah, dan budaya baca. Di 24 sekolah yang terpilih tersebut, terdiri dari 12 SD, 4 MI, 6 SMP, dan 2 MTs yang berada di dua kecamatan yaitu Tenggarong dan Tenggarong Seberang.

“Sebelum program dimulai, sekolah-sekolah tersebut akan dilakukan asesmen kemampuan membaca dan matematika. Untuk siswa SD dan MI, terutama siswa kelas awal, akan diuji kemampuan literasinya dengan menggunakan instrumen standar internasional EGRA (early grade reading assessment) dan EGMA (early grade mathematic assesment),” ujar Stuart Weston menjelaskan kepada Plt. Bupati dan para undangan yang hadir.

Hasil asesmen tersebut akan menjadi data awal sebagai pijakan dalam mengembangkan program pelatihan dan pendampingan untuk sekolah mitra. Untuk melihat keberhasilan program, hasil asesmen awal akan dibandingkan dengan data-data setelah intervensi program.

Plt. Bupati Kutai Kartanegara yang menyambut baik program ini, berharap akan terjadi banyak perubahan pada mutu guru dan kepala sekolah setelah program berjalan. “Kami sangat siap mengawal program ini. Program yang dikerjasamakan memang sangat sesuai dengan kebutuhan daerah ini,” ujarnya.

Kutai Kartanegara memiliki jumlah Sekolah Dasar sebanyak 466 dan sekolah Menengah Pertama sebanyak 166, MI dan MTs masing-masing sekitar 40-an. “Ke depan program ini akan didiseminasikan ke sekolah dan madrasah lainnya,” kata Stuart lagi.

Penandatangan MoU dihadiri oleh para pemangku kepentingan pendidikan, di antaranya Kepala Dinas Pendidikan, Kepala Kemenag Kutai Kartanegara dan Provincial Coordinator Program Pelita Pendididikan Tanoto Foundation untuk Kalimantan Timur.

Program Pelita Pendidikan yang diprakarsai oleh Tanoto Foundation pada tahun 2018 dilaksanakan di 14 kabupaten di 5 provinsi yaitu, Sumatera Utara, Jateng, Jambi, Riau dan Kaliman Timur. Di Kalimantan Timur, program ini bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kota Balikpapan, serta Universitas Mulawarman dan IAIN Samarinda.

LATEST NEWS

RANDOM NEWS