Topik: sekolah

Lomba Bedah Kelas; Cara SD ini Bangkitkan Sumbangsih Masyarakat pada Sekolah

Penampakan kelas sesudah bedah kelas
Penampakan kelas sesudah bedah kelas

Balikpapan, Kalimantan Timur, Jurnalpost – Agar siswa senang tinggal di sekolah, maka kelas sebagai tempat belajar anak harus nyaman, indah, rapi dan mendukung pembelajaran. Namun bagaimana caranya agar tercipta kelas semacam itu tanpa harus membebani sekolah untuk membiayainya. Nah SDN 011 Balikpapan Tengah punya kiatnya, yaitu dengan mengadakan lomba bedah kelas.

Lomba bedah kelas adalah lomba yang diikuti oleh orang tua siswa masing-masing kelas yang tergabung dalam komite kelas atau paguyuban kelas untuk menunjukkan kelas yang paling rapi, indah dan menunjang pembelajaran. Untuk memperbaiki kelas tempat anaknya belajar tersebut, mereka tidak memakai dana sekolah tapi dana bersama-sama yang dihimpun komite kelas masing-masing.

Nah bagaimana cara mengawali agar lomba seperti ini bisa terlaksana. Pertama, agar orang tua siswa memahami bahwa sekolah tidak bisa membiayai semua kebutuhan sekolah, pada waktu rapat penerimaan rapor siswa, kepala sekolah menceritakan secara terbuka keuangan, dan kebutuhan sekolah, dan apa yang diharapkan dari orang tua siswa untuk berperan.

Kedua, penguatan oleh komite sekolah tentang pentingnya peran komite mendukung sekolah. Lewat keterbukaan tersebut, orang tua menjadi sadar bahwa tentang kebutuhan sekolah dan apa yang bisa mereka sumbangkan secara suka rela. Pertemuan tersebut akhirnya menyepakati bahwa, agar mereka termotivasi menyumbangkan dana, tenaga, dan lain-lain ke sekolah, mereka semua ikut dalam lomba bedah kelas yang diselenggarakan oleh komite sekolah.

“Upaya membangkitkan peran orang tua siswa ini semakin terdorong setelah ikut pelatihan Peran Serta Masyarakat yang diadakan oleh Program PINTAR Tanoto Foundation. Kami langsung eksekusi di sekolah dengan mengadakan lomba ini, “ ujar Sahidayati, Kepala Sekolah, 31 Mei 2019.

Lomba ini sangat efektif memotivasi orang tua siswa untuk berperan secara sukarela mewujudkan kelas yang menunjang anak-anak mereka belajar. Selama dua bulan, waktu yang diberikan oleh juri untuk membenahi kelas, orang tua siswa yang tergabung dalam komite kelas, ramai-ramai bergotong-royong memperbaiki kelas masing-masing. Mereka biasa datang biasanya pada hari sabtu atau minggu sore.

Mereka menyumbang apa saja yang mereka mampu, baik dalam bentuk tenaga, keahlian dan dana. Ada yang mengecat, menggambar, membuat lemari pojok baca dan lain-lain. Semua dana berasal dari mereka sendiri. Kepala sekolah menyerahkan sepenuhnya hal tersebut pada komite kelas.

Juri yang terdiri dari Ketua Komite, Pengawas dan Kepala sekolah dari sekolah lain, menilai kelas berdasarkan beberapa kriteria: keindahan, kerapian, kreatifitas dan pojok budaya baca. Juri sengaja dipilih dari orang luar, kecuali komite, untuk menjaga netralitas.

Agar pojok budaya baca kaya dengan buku-buku, orang tua siswa juga sepakat bahwa tiap siswa akan menyumbangkan satu buku. Buku tersebut diletakkan di pojok kelas masing-masing dan menjadi miliki bersama.

Lomba tersebut akhirnya dimenangkan oleh kelas tiga. ibu Sudiyem sebagai wali kelas menerima piala langsung dari pengawas sekolah, Slamet Mulyadi. Rencananya sekolah akan mengadakan lomba bedah kelas per enam bulan sekali, dan piala yang dipegang kelas tiga saat ini adalah piala bergilir.

“Lomba ini berhasil membuat sekolah banyak berubah lebih indah dan lebih menunjang pembelajaran. Buku-buku semakin banyak yang menunjang program membaca lima belas menit sebelum pembelajaran yang ada di sekolah kami,” ujar Sahidayati, Kepala Sekolah.

Menurut Soetrisno, selain membuat sekolah menjadi Taman Siswa, hubungan antar orang tua siswa juga semakin akrab. “Orang tua siswa semakin saling mengenal dan jalinan silaturahmi semacam ini sangat penting untuk mendukung pengembangan sekolah ke depan,” ujarnya.

Menurut Communication Specialist Program PINTAR Tanoto Foundation Kaltim, Mustajib, tanpa peran orang tua siswa yang besar, sekolah sulit untuk berkembang melampaui target. “Sumbangan ke sekolah akan mempercepat kemajuan sekolah dan itu sangat dibolehkan asalkan tidak ditentukan besarannya dan kapan waktu menyetornya,” ujarnya.

Biaya Mandiri, Sekolah-Sekolah ini Tergoda dan Bergegas Latih Gurunya Sendiri Pembelajaran MIKIR

Guru dan Fasda sedang berdiskusi dalam pelatihan pembelajaran aktif yang dilakukan di SDN 007 Muara Jawa, Kutai Kartanegara
Guru dan Fasda sedang berdiskusi dalam pelatihan pembelajaran aktif yang dilakukan di SDN 007 Muara Jawa, Kutai Kartanegara

Strategi pembelajaran memakai pendekatan MIKIR yang dikenalkan Tanoto Foundation rupanya menarik sekolah-sekolah di Kalimantan Timur untuk segera mengadopsinya secara menyeluruh dengan menularkannya ke guru-guru yang belum mendapatkan pelatihan langsung dari Tanoto Foundation. Belum genap sebulan atau pertengahan Oktober setelah dilakukan pelatihan secara terbatas, beberapa sekolah langsung tancap gas secara mandiri menyelenggarakan pelatihan yang sama untuk guru-guru yang belum berkesempatan ikut di pelatihan awal.

Kutai Kartanegara, Kaltim, Jurnalpost – Empat sekolah mitra Tanoto Foundation di Kecamatan Tenggarong Seberang Kabupaten Kutai Kartanegara yaitu SDN 03, 07, 08, dan 027 menyelenggarakan pelatihan pembelajaran mengadopsi program PINTAR Tanoto Foundation selama tiga hari (12-14 November). Pelatihan ini tersebut diperuntukkan bagi 34 guru yang belum dilatih secara langsung dengan skema pembiayaan oleh Tanoto Foundation dan dipusatkan di SDN 027 Tenggarong Seberang.

“Agar kualitas guru meningkat secara merata, kami berinisiatif untuk segera mengadopsi pelatihan ini ke semua guru di sekolah dengan mandiri memakai biaya BOS Nasional. Pertengahan Oktober yang lalu, yang dilatih dengan pembiayaan dari Tanoto Foundation terbatas hanya untuk rata-rata 12 orang per sekolah, sedangkan guru sisanya belum,” ujar pak I Dewa Made Oka, Kepala Sekolah SDN 027 Tenggarong Seberang, yang merupakan sekolah mitra program PINTAR Tanoto Foundation.

Pelatihan pembelajaran yang dilakukan oleh Tanoto Foundation merupakan pelatihan pembelajaran yang berorientasi pada pembelajaran aktif, atau pembelajaran yang berpusat pada siswa dan tidak lagi pada guru. “Paradigma belajarnya berubah. Kalau dulu kegiatan siswa selama belajar lebih banyak to listen atau mendengarkan guru, sekarang lebih banyak to do, atau melakukan sesuatu dan guru didorong memiliki kemampuan fasilitasi yang baik,” ujar Mustajib, Communication Specialist Program PINTAR Tanoto Foundation Kalimantan Timur.

Bahkan Sekolah SD 007 Muara Jawa lebih cepat lagi dalam mengadopsi program ini. Pada akhir bulan Oktober atau kurang lebih setengah bulan setelah dilatihkan program ini ke sekolah mitra, selama tiga hari (27-29 Oktober), sekolah yang bukan mitra Tanoto Foundation ini, menyelenggarakan pelatihan bagi seluruh guru yang berjumlah 22 orang di sekolah tersebut.

“Saya segera melakukannya karena saya yakin dengan model pembelajaran ini, guru menjadi lebih termotivasi untuk kreatif dan siswa menjadi lebih cepat menyerap pembelajaran daripada sebelumnya,” ujar Ketut Arta, Kepala Sekolah SDN 007 Muara Jawa yang pernah menjadi juara dua kepala sekolah berprestasi tingkat provinsi Kalimantan Timur ini. Pelatihan di SDN 007 sebagian dibiayai secara mandiri oleh para guru peserta sebanyak 75 ribu per orang, sisanya diambilkan dari dan BOS nasional.

Dengan model pembelajaran aktif memakai strategi Mengalami, Interaksi, Komunikasi dan Refleksi atau MIKIR, pembelajaran lebih mengarah untuk mengaktifkan HOTS (Higher Order Thinking Skills). Siswa difasilitasi untuk terlibat melakukan percobaan, bekerjasama dalam tim, melakukan analisis dan membuat laporan yang tersetruktur dan panjang. “Dengan metode ini, ketrampilan lunak atau soft skill seperti kemampuan berkerjasama, kreatif dan berpikir analitis yang sangat dibutuhkan untuk hidup bersaing di masa mendatang, kita asah semenjak dini,” ujar Mustajib, Communication Specialist Tanoto Foundation.

Digaji Rp 100 Ribu per Bulan: Saya tidak pernah menghitung itu, Biarlah Allah SWT yang mencukupkan rezeki saya

Pangkep, Jurnalpost – Menjadi guru di daerah terpencil harus banyak sabar, demikian ucapan salah satu tenaga pengajar didaerah terpencil yang letak sekolahnya di Kelurahan Bontoa, Kecamatan Minasa Tene, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Di SDN 60 Bung Sekitar 4 guru berstatus Tenaga Honorer dan 3 orang berstatus PNS sedangkan di SDN 44 Bakka 5 Guru Honorer dan 3 Orang PNS. Masa depan bangsa ada di tangan para guru, Inilah kisah pilu Guru-guru di daerah Terpencil.

Di Gaji 200 Pertriwulan

“Mengajar di daerah pelosok banyak tantangan yang harus dihadapi butuh tenaga yang luar biasa untuk mengubah kebiasaan negatif siswa, seperti tidak mandi pagi kalau mau ke sekolah, bolos hanya untuk bermain, tidak sikat gigi, lebih mementingkan kerja membantu orangtuanya, dan lain-lain” Ujarnya.

“Saya kadang menyampaikan kepada orangtua dan murid bahwa sekolah itu sangat penting apalagi di pegunungan siswa baru bisa pegang buku, kalau di sekolah, jadi sebaiknya dimanfaatkan baik-baik waktu saat belajar disekolah, karena anak di pegunungan tak punya banyak waktu untuk belajar di rumah”

“Cinta saya dan teman-teman mengajar pada pendidikan mengalahkan segalanya. Gunung pun kan kudaki demi kasih saya kepada anak didiknya di SDN 60 Bung. Ya lumayan jauh sih. Kalau berjalan kaki kesekolah sekitar 2 jam dan lamanya, tapi demi sebuah pengabdian untuk pendidikan, rasa capek itu tidak pernah dirasakan.”

Namun, bagi guru-guru di Daerah terpencil, baginya pengabdian dan profesi sebagai guru merupakan sebuah panggilan jiwa untuk melayani sesama.

“Saya sudah 16 tahun mengabdi sebagai guru honorer di daerah terpencil. Saya sudah malang melintang menelusuri hutan dan lereng-lereng gunung untuk mengajar atau memberikan pendidikan bagi anak-anak yang membutuhkan, Saya akhirnya berpikir, saya harus tetap ada di sini. Karena kalau bukan saya siapa lagi” Jelasnya kepada jurnalpost.

Meraih kemuliaan hidup melalui pengorbanan dan pengabdian yang belum tentu mampu dijalani semua orang. Sayangnya, pengabdian yang diberikan mereka tidak sesuai dengan penghargaan dan kesejahteraan yang semestinya diterima dari negara. Terhitung sejak 1 Januari 2015 kini tunjangan guru daerah terpencil sudah ditiadakan oleh pemerintah, hal ini berdasar pada aturan Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.

Dan ditetapkan berdasarkan data dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi; dan data dari Kemdikbud bahwa Lokasi SDN 60 Bung dan SDN 44 Bakka sudah dikeluarkan dari kategori daerah tertinggal padahal jika melihat dari latar belakang sebelum aturan tersebut diberlakukan kondisi lingkungan SDN 60 Bung dan SDN 44 Bakka sama sekali tidak mengalami perubahan.

Harapan kami kepada pemerintah sebagai gurdacil: Sebaiknya pemerintah meninjau ulang kebijakan yang selama ini telah menghilangkan pemberian tunjangan bagi guru daerah terpencil.

Jangan tanya berapa gaji yang diterima teman-teman Guru honor saya setiap bulannya untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup di wilayah yang serba terbatas dan terpencil. Apalagi dengan tangungan keluarga yang menjadi tanggung jawab mereka. Mereka tak pernah mengeluh, meski honor yang diterima hanya Rp300 ribu pertriwulan dari BOS.

’’Saya tidak pernah menghitung itu, yang terpenting bagi saya bagaimana bisa berbagi ilmu sehingga anak didik bisa pintar,’’ tuturnya. ’’Biarlah Allah SWT yang mencukupkan rezeki saya,’’ lanjutnya.

Kami para guru sudah merelakan sebagian hidup kami, kehilangan waktu berharga bersama keluarga tercinta untuk mengajar di daerah terpencil. Membiarkan masa muda dan kekuatan mereka tergerus oleh langkah-langkah kecil menembus hutan. Membagi sedikit ilmunya untuk sedikit menghilangkan “dahaga ilmu” masyarakat daerah terpencil.

Masa depan bangsa ada di tangan para guru, walaupun daerah terpencil dan jauh dari keluarga, semoga indonesia makin banyak melahirkan guru-guru berkualitas yang mau mendidik siapa saja dan dimana saja tanpa pandang bulu. (*)

TONTON VIDEO KISAH PERJALANAN GURU PELOSOK MENUJU TEMPAT TUGAS

Begini Tip-tip Sederhana Merumuskan Solusi Masalah Sekolah Secara Tepat

JURNALPOST – Haharu, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur – Merumuskan solusi untuk masalah-masalah di sekolah ternyata tidak selalu gampang. Solusi yang ditawarkan kadang tidak bisa memecahkan masalah secara komprehensif.

Oleh karena itu, untuk membantu para peneliti yang merupakan Fasiliatator Daerah INOVASI Sumba TImur memfasilitasi pemecahan masalah-masalah sekolah, Afifuddin, Education Officer INOVASI memberikan banyak tip memecahkan masalah-masalah di sekolah dengan menggunakan beberapa komponen pendekatan PDIA (Problem Driven Iterative Adaptation), sebuah pendekatan khas program pendidikan INOVASI.

tip Sederhana Merumuskan Solusi Masalah Sekolah
Mbedu Pekarihi (paling kanan), seorang fasda INOVASI Sumba Timur sedang membantu merumuskan masalah-masalah dan solusinya di sekolah.

Misalnya, di Haharu, salah satu kecamatan di Sumba Timur, beberapa guru yang diteliti pada tahap awal penggunaan eksplorasi PDIA menyatakan masalah di sekolahnya diantaranya sebagai berikut: siswa belum bisa membaca lancar, metode pembelajaran belum bervariasi, kurangnya media pembelajaran dan lain-lain.

Menurut Afif, agar perumusan solusi yang dilakukan lebih komprehensif dan lebih tepat, pernyataan-pernyataan masalah tersebut, harus digali lebih dalam, dicari sampai akar masalahnya. Salah satunya dengan menggunakan 5-whys atau lima mengapa yang diajukan secara berurutan? Mengapa media pembelajaran di sekolah tersebut kurang? Kalau guru menyatakan karena mereka kurang kreatif, pernyataan tersebut harus terus dikejar dengan pertanyaan lanjutan, mengapa kurang kreatif? dan pertanyaan-pertanyaan mengapa selanjutnya sampai didapatkan jawaban yang dianggap sudah mentok atau akar masalahnya. Setelah ditemukan akar masalah, maka solusinya baru dirancang.

Namun menurut Afifuddin, kalau solusi yang ditemukan satu saja, barangkali ada kesalahan perumusan akar masalahnya. “Aturan dasarnya adalah jika kita tidak temukan kurang lebih tiga alternatif solusi untuk satu masalah, sebenarnya kita tidak memiliki masalah. Kita bisa jadi merumuskan solusinya itu sendiri sebagai masalah. Itu berarti kita belum temukan akar masalahnya” kata Afif selanjutnya baru baru ini.

Misalnya, menurut Afif, saat masalah yang dinyatakan guru adalah kurangnya media pembelajaran dan solusi yang ditawarkan adalah memperbanyak media pembelajaran. Maka masalah yang dinyatakan tersebut bukanlah masalah, tapi solusi yang disalahtempatkan sebagai masalah. Pendidik oleh karenanya harus menggali akar masalahnya kembali. “Pernyataannya masalahnya perlu diperbaiki,” ujarnya.

Tips yang kedua, untuk solusi masalah, perumusannya bisa menggunakan 5 bagaimana atau five hows? “Misalnya masalah di sekolah adalah kurangnya kemampuan guru menggunakan media, solusi yang diberikan digali sebanyak-banyaknya sampai kurang lebih lima macam, misalnya dengan melatih guru menciptakan media, membaca banyak buku, melakukan pertemuan belajar antar mereka sendiri atau KKG dan lain lain.

Dari berbagai alternatif solusi tersebut, dipilih solusi yang paling memungkinkan untuk dilakukan berdasarkan ketersediaan sumber daya, kemampuan sekolah dan lain-lain,” ujarnya lebih lanjut.

Tips yang ketiga, kalau five hows pertama dengan banyak alternative solusi, five hows kedua dengan solusi secara bertingkat. “Misalnya pada masalah guru kurang mampu mengajar membaca. Kalau solusi yang diajukan adalah guru harus dilatih penguasaan membaca, solusi tersebut terus diperdalam lagi dengan pertanyaan bagaimana bentu pelatihan membacanya? Dan bagaimana selanjutnya sampai solusi tersebut bersifat operasional,” ujarnya

Dengan beberapa metode merumuskan solusi ini, Afifuddin berharap masalah-masalah sekolah bisa teratasi oleh sekolah itu sendiri secara lokal. “Beberapa metode ini yang diperkenalkan ke para guru, kepala sekolah dan para pendidik sekolah lain dimaksudkan agar sekolah bisa merumuskan sendiri masalah di sekolahnya dan mengatasinya secara mandiri, “ kata Afif

Menurut Afif, dengan kemampuan para guru, kepala sekolah dan para pendidik lainnya menemukan masalah dan merumuskan solusinya dengan benar, sekolah bisa menjadi berdaya dan tidak tergantung lagi dengan arahan-arahan dari pihak-pihak lain.

Mbedu Pekarihi, salah seorang kepala sekolah di Kandahang, Sumba Timur menyatakan bahwa setelah mempraktikkan penggunaan metode-metode sederhana tersebut, ia mendapatkan banyak inspirasi memecahkan masalah di sekolahnya. “Kita akan melakukan model begini di sekolah bersama guru, atau di KKG gugus. Berusaha bersama-sama dengan mereka merumuskan masalah dengan tepat dan mencari alternatif solusinya sehingga sekolah lebih berkualitas,” ujarnya.

Demikian juga ibu Dorkas Kondanamu, Kepala Sekolah SD Inpress Kamalaputi merasa terinpirasi dengan pelatihan pemecahan masalah secara lokal dan praktiknya tersebut. “Selama kami melakukan penelitian, ternyata yang banyak dinyatakan oleh guru pernyataan solusi, tapi yang dibungkus sebagai masalah. Jadi seharusnya pernyataan tersebut diteliti lebih jauh, supaya didapatkan masalah dengan banyak alternatif solusi,” ujarnya.

Program INOVASI di NTT dimulai pada bulan Juli 2017. Penandatanganan MoUnya dengan pemerintah provinsi Nusa Tenggara Timur dilakukan bulan November 2017. Program pendidikan yang didanai oleh pemerintah Australia ini akan dilaksanakan sampai akhir tahun 2019.

Inilah Metode Transisi Kebahasaan yang Efektif di Sekolah

Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, Jurnalpost – Salah satu hasil penelitian yang dilakukan di Sumba oleh ACDP pada tahun 2016 menyatakan bahwa salah satu penyebab rendahnya kualitas siswa kelas awal adalah karena rendahnya penguasaan mereka terhadap bahasa pengantar pembelajarannya yaitu Bahasa Indonesia.

Metode Transisi Kebahasaan yang  Efektif di Sekolah

Hal tersebut ditambah lagi dengan buku-buku paketnya yang juga berbahasa Indonesia. Agar anak-anak mampu menguasai materi ajar secara cepat, diperlukan cara-cara transisi bahasa pengantar pembelajaran dari bahasa daerah ke bahasa Indonesia secara lebih efektif.

Selama ini agar siswa cepat mengerti materi yang disajikan, para guru di kelas awal membawakan materi pembelajarannnya dengan melakukan penerjemahan langsung bahasa Indonesia ke Bahasa Daerah.

Hal ini seperti yang dilakukan oleh Bapak Yulius, guru di SD Kadahang Sumba Timur, kalau dia merasa anak-anak tidak mengerti bahasa Indonesia terhadap materi pelajaran yang ia sampaikan, dia langsung beralih menerangkannya dalam bahasa daerah

“Misalnya, kata pecahan dan definisinya. Kalau saya terangkan pakai Bahasa Indonesia, murid yang berbahasa Kapunduk, bahasa lokal disini, tidak akan ada yang mengerti. Oleh karena itu, saya langsung beralih, menjelaskannya dengan pakai bahasa lokal Kapunduk,” ujarnya baru-baru ini saat workshop yang diselenggarakan INOVASI di SD Kadahang, Haharu, baru-baru ini.

Tapi efektifkah cara begini?. Menurut Johnny Tjia, ahli linguistik dan konsultan INOVASI untuk proyek rintisan Transisi Bahasa Pengantar Pembelajaran di Sumba Timur, hal tersebut tidak efektif. “Cara yang dilakukan oleh para guru dengan selang-seling menggunakan Bahasa Indonesia dan bahasa daerah ini kurang efektif untuk mendukung pembelajaran siswa,” ujarnya

Menurutnya, hal tersebut dikarenakan beberapa hal; pertama akan membingungkan siswa dalam berbahasa. Para siswa akhirnya dalam kesehariannya terbawa menggunakan Bahasa Indonesia dan Bahasa Daerah secara tidak konsisten atau campur-campur.

“Mereka akan terbawa-bawa meniru gurunya untuk berbicara campur-campur dalam kesehariannya yang mengakibatkan cara berbahasanya tidak sesuai dengan kaidah berbahasa dan kosa kata yang tepat. Hal tersebut bisa menyusahkan anak dalam proses bernalar secara cepat dan juga menulis,” ujarnya.

Praktik tersebut menurutnya juga rawan memicu siswa untuk stress. Mereka harus belajar materi pelajaran, sekaligus belajar bahasa baru, dalam hal ini bahasa Indonesia. “Jadi dalam satu sesi, beban belajar mereka lipat dua. Stress ini juga bisa terjadi pada guru. Mereka harus selalu berpikir langsung bagaimana menerjemahkan Bahasa Indonesia ke bahasa lokal terus-menerus dan juga sebaliknya selama pembelajaran,” ujarnya.

Menurutnya, praktik tersebut juga membuat siswa tidak mengerti secara sempurna bahasa Lokal dan Bahasa Indonesia semenjak dini. “Terutama bahasa lokal, anak-anak tidak akan mengerti bahasanya sendiri secara penuh, hanya sepotong-sepotong dan lama-lama bisa hilang karena tidak menjadi bahasa pengantar pembelajaran secara sempurna,” ujarnya.

Lalu bagaimana cara melakukan transisi bahasa pengantar pembelajaran yang lebih efektif dari bahasa daerah ke Bahasa Indonesia agar bahasa lokal juga sepenuhnya dimengerti oleh siswa. Doktor Ahli Linguistik lulusan Leiden ini menyatakan ada beberapa strategi yang bisa dilakukan.

Ia menamakannya dengan strategi 90 : 10, dan 50 : 50. “Strategi ini hanya penamaan saja, dalam penerapannya sangat fleksibel. Yang dimaksud 90 banding 10 yaitu ketika mengajar kelas awal, guru hanya menggunakan bahasa lokal saja, tanpa penggunaan Bahasa Indonesia dari hari, katakanlah, Senin sampai Jumat. Tidak boleh menerjemahkan langsung ke bahasa daerah. Di hari Sabtu, guru menggunakan Bahasa Indonesia secara full, tapi pada materi yang sudah dimengerti siswa dan diajarkan sebelumnya,” ujarnya.

Menurutnya, hal ini sangat penting dilakukan , agar siswa benar-benar mengerti konten pembelajaran. “Yang paling penting dalam pelajaran itu adalah pengetahuannya atau konten pembelajarannya. Karena dibawakan dalam bahasa ibu mereka, nalar mereka akan jalan, dan konsep-konsep pembelajaran akan lebih mudah mereka mengerti. Kalau dibawakan dalam Bahasa Indonesia atau selang seling dengan Bahasa daerah, siswa kemungkinan besar akan sedikit menyerap konten pembelajaran. Konsentrasi mereka juga terpecah belajar bahasa baru,“ ujarnya.

Demikian pula konsep 50:50; setelah merasa para siswanya mengerti konten pembelajaran karena sudah disampaikan dalam Bahasa daerah secara penuh, para guru dapat menggunakan Bahasa Indonesia pada topik pelajaran yang sama. Misalnya pada hari Senin, Selasa, dan Rabu, memakai bahasa daerah dan hari selanjutnya yaitu hari Kamis sampai Sabtu memakai bahasa Indonesia. “Intinya tidak selang-seling atau langsung menerjemahkan. Dalam pelajaran dengan topik yang sama, pertama digunakan Bahasa Daerah dahulu secara penuh, dan ketika guru yakin semua siswa menyerap pembelajarannya, barulah menggunakan Bahasa Indonesia,” ujarnya

Pendekatan model ini, sebagai langkah awal, akan diterapkan di SD Wunga, SD Kadahang dan SD Kapunduk di Kecamatan Hahar, Sumba Timur sebagai sekolah rintisan “Program Rintisan Pembelajaran Menggunakan Multi Bahasa Bagi Siswa Penutur Bahasa Daerah” yang diprakarsai oleh INOVASI bekerjasama dengan Kemendikbud dan pemerintah daerah setempat. Para guru di SD tersebut sudah berlatih dan menyatakan kesiapan untuk melakukannya.

Gunakan Pola Pikir ini agar Siswa anda Berhasil di Sekolah dan dalam Kehidupannya

Waikabubak, Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur, – Keberhasilan pembelajaran ternyata tidak cuma terkait dengan metode dan strategi mengajar yang tepat, tapi juga terkait pendekatan terhadap pola pikir guru dan siswa itu sendiri. Pendekatan pola pikir siswa yang benar dari awal akan mempengaruhi seluruh hidup siswa tersebut ke depannya. “Pendekatan pola pikir ini, pada dasarnya berdasarkan pendapat ahli psikologi dari Stanford University Carol Dweck dibagi dua, yaitu fixed mindset atau pola pikir tetap, dan growth mindset, atau pola pikir berkembang,”ujar Wuri, Education Specialist INOVASI saat memberikan pelatihan untuk 10 fasilitator daerah INOVASI yang akan mendampingi 19 sekolah yang ada di Sumba Barat di hotel Ronita, 10 Maret 2018.

Gunakan Pola Pikir

Menurut Wuri, sejogjanya guru menghindari fixed mindset atau pola pikir tetap ini. Guru yang berpola pikir tetap ini memandang bahwa kecerdasan, karakter dan kemampuan kreatif siswa adalah kapasitas yang tidak berubah, bawaan lahir dan memberlakukan siswa demikian juga. Siswa yang mengalami pendekatan ini pada akhirnya bepikir demikian juga, yang terpenting baginya adalah kelihatan pintar. Mereka pada akhirnya cenderung menolak belajar sesuatu yang baru, karena kalau gagal takut dianggap bodoh. Biasanya mereka menjadi malu kalau gagal atau tidak mengetahui sesuatu yang ditanyakan kepadanya.

Wuri menyarankan para pendidik mengarusutamakan pendekatan growth mindset atau pola pikir berkembang, yang melihat kecerdasan, kepribadian dan karakter seseorang atau siswa berproses untuk besar tumbuh karena tantangan dan kegagalan. Siswa tidak cuma dilihat berhasil dan tidaknya berdasarkan prestasinya tetapi proses dan kegagalan-kegagalannya dianggap sebagai batu loncatan untuk memperluas dan menajamkan kemampuan yang sudah ada. Kecerdasan dan kemampuannya akan terus berkembang seiring proses-proses yang bisa jadi penuh kegagalan. Para siswa yang memiliki growth mindset ini percaya kecerdasannya dan ketrampilannya bisa terus tumbuh berkembang melalui usaha dan kegigihan, kemauan menerima masukan, kritik dan feedback. “Mereka percaya yang terpenting adalah belajar. Mereka termotivasi untuk selalu berusaha dan bekerja keras,” ujar Wuri lebih lanjut.

“Menurut Carol Dweck, ahli psikologi dari Stanford University, perbedaan penerapan pendekatan pola pikir semenjak usia dini akan memunculkan perilaku yang berbeda, yang akhirnya berhubungan dengan besarnya kesempatan untuk sukses dan gagal seseorang baik dalam konteks profesional maupun pribadi, dan respon seseorang untuk cepat merasa bahagia. ” ujar Wuri lebih lanjut.

Menurut Wuri, penelitian yang diadakan di Amerika berdasarkan buku yang dikarnag oleh Carol Dweck, menunjukkan bahwa siswa yang terbiasa dikondisikan dengan growth mindset meningkat nilai ujiannya hingga dua tahun kemudian, bahkan murid yang paling rendah prestasinyapun dapat meningkat nilainya.

Pola pikir tetap juga akan membuat siswa akan terkuras berusaha membuktikan dirinya ia cerdas, terampil atau berkarakter. Berada di setiap situasi, dia merasa dirinya dievaluasi. “Siswa yang terbiasa dengan perlakuan fixed mindset akan cenderung memiliki rasa lapar untuk persetujuan atau konfirmasi,” ujar Wuri lebih lanjut meneruskan hasil penelitian Carol Dweck.

“Siswa akan menyatakan pada dirinya aku tidak mau kelihatan bodoh, aku tidak mau gagal dan sebagainya, yang pada akhirnya akan mengarahkan pada kenyataan bahwa ia bisa gagal, mengurangi percaya dirinya dan bahkan bisa menghancurkan prestasi-prestasi selanjutnya,” ujar Wuri

Bagaimana Cara Menciptakan Growth Mindset di Kelas Sehari-hari

Melihat masih banyak sekolah yang masih terlalu fokus pada hasil atau prestasi siswa atau pola pikir tetap dan bukan pada proses – prosesnya, berdasarkan berbagai sumber, Wuri memberikan tip-tip sebagai berikut;

Pertama, menurut Wuri, guru musti lebih sering memberikan dukungan pada proses bukan pada hasil. Evaluasi terhadap murid sebaiknya terfokus pada perencanaan, proses, usaha, kemajuan dan strategi siswa dalam menghadapi tantangan. Bukan kemampuan atau hasil yang dicapai. “Kalau kita lebih sering memuji perencanaan dan proses, maka siswa akan terbiasa merencanakan dan ikut dalam kegiatan pembelajaran dengan lebih baik,“ ujarnya.

Kedua, menurutnya, ciptakan lingkungan kelas yang menerima kesalahan. “Apabila kesalahan dianggap biasa, murid tidak akan takut untuk bertanya dan belajar sesuatu yang baru,” ujarnya

Ketiga, ajukan tantangan. “Pastikan bahwa para siswa cukup tertantang di kelas. Buat mereka memahami bahwa tugas yang sulit adalah kesempatan untuk melatih otak dan mempelajari hal baru,“ ujar Wuri.

Ke empat, pasang ekspektasi yang tinggi. Katakan secara jelas bahwa anda berharap banyak dari siswa-siswa anda, bahwa kritikan juga akan selalu mereka dapatkan untuk memperbaiki diri

Sesi pelatihan growth mindset ini merupakan langkah awal untuk menjadikan para fasilitator mengetahui salah satu pendekatan yang penting ketika mereka bertugas di lapangan. “Dengan pendekatan ini, kita bisa lebih bijak dalam mendampingi kepala sekolah nanti. Kita tidak mudah menghakimi dan lebih banyak memfasilitasi perencanaan dan proses,” ujar Paulus, salah satu fasilitator daerah Sumba Barat.

Menurt Pauline, fasda INOVASI yang lain, menjadi salah satu tugasnya nantinya untuk berusaha mengubah pendekatan guru ke siswa, “Guru-guru yang galak biasa marah kalau siswa tidak berhasil menjawab pertanyaan-pertanyaannya. Kondisi ini sering membuat siswa menjadi tidak percaya diri. Kita akan memfasilitasi bagaimana membuat kondisi ini berkurang,” ujarnya.

Menurut Wuri, pelatihan ini memang ditujukan agar fasda dapat menggali potensi para pemimpin sekolah lebih dalam, membuat mereka percaya bahwa setiap orang memiliki potensi untuk terus berkembang, melalui kerja keras dan menyukai tantangan.

Program INOVASI di NTT dimulai pada bulan Juli 2017. Penandatanganan MoUnya dengan pemerintah provinsi Nusa Tenggara Timur dilakukan bulan November 2017. Program pendidikan yang didanai oleh pemerintah Australia in akan dilaksanakan sampai tahun 2019.

Majelis Pembimbing Gugusdepan (Mabigus) Miliki Peran Penting

SLAWI, JURNALPOST – Majelis Pembimbing Gugusdepan (Mabigus) yang dijabat oleh para kepala sekolah memiliki peran penting dalam mendukung kegiatan Pramuka di pangkalan sekolah.

Majelis Pembimbing Gugusdepan (Mabigus) Miliki Peran Penting

Hal itu diungkapkan Camat Tarub, Kabupaten Tegal, Munawar selaku Ketua Mabiran Tarub saat pembukaan Kursus Orientasi Singkat (KOS) bagi Ketua Mabigus SD/MI se Kecamatan Tarub, Jum’at (29/9) di pendopo kecamatan setempat.

“Peran tersebut yakni berupa dukungan agar kegiatan Pramuka sebagai wadah pembinaan karakter generasi bisa berjalan dengan eksis,” tegas Munawar.

Munawar berharap, kegiatan KOS Mabigus dapat memberikan pemahaman dan bermanfaat bagi para Kepala Sekolah selaku ketua Mabigus.

“Dengan KOS ini, harapannya pemahaman tentang fungsi Mabigus akan meningkat, sehingga akan berdampak pada peningkatan pembinaan Pramuka di sekolah,” imbuhnya

Ketua Kwarran Tarub, Wuswanto mengatan, kegiatan KOS Mabigus digelar hasil kerja bareng Kwarran Tarub dengan Pusdiklatcab Dewaruci Kwarcab Tegal.

“KOS diikuti 49 peserta unsur Ka Mabigus SD/MI se kecamatan Tarub,” terangnya.

Dalam kegiatan itu, diberikan sejumlah materi antara lain tugas dan tanggung jawab Mabigus, Kepramukaan dan lainnya.

Kegiatan dihadiri oleh Wakil Ketua Kwarcab Tegal, Agus Subagyo, anggota Mabicab dokter Bimo Bayuadji, Kepala Pusdiklatcab Tegal, Joko Eko Pratomo, pengurus Kwarcab Tegal dan pengurus Kwarran Tarub. (Humas)

Tahun Ajaran Baru, semua Sekolah dilarang keras melestarikan Perploncoan tradisi lama

Tegal, Jurnal Post – Tinggal menghitung hari kegiatan belajar mengajar di sekolah akan kembali di aktifkan. Sesudah libur panjang lebaran dan akhir tahun ajaran, senin mendatang (17/7) tiba waktunya kembali ke sekolah. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kota Tegal mengingatkan kembali bahwa saat ini tidak musim lagi masa orientasi siswa (MOS) namun yang ada sekarang adalah Pengenalan lingkungan sekolah (PLS).

Melalui sekertaris Dinas Pendidikan, Soni, menghimbau agar semua sekolah tidak lagi mentradisikan perploncoan seperti dulu dimana peserta didik baru di tuntut kakak kelas supaya membawa benda-benda aneh dan berpenampilan norak. Larangan tersebut tertuang dalam Permendikbud Nomor 18 Tahun 2016 tentang PLS bagi siswa baru. Dalam Permendikbud tersebut di sebutkan, PLS harus berkonten kegiatan yang bermanfaat, edukatif, kreatif serta menyenangkan.

“Kalau masih ada sekolah yang memberlakukan perploncoan kepada siswa baru, kepala sekolah akan kami panggil dan di berikan sangsi berat”, terang Soni.

Soni menambahkan, kegiatan PLS seyogyanya di isi dengan kegiatan yang bermanfaat dan edukatif seperti mengenalkan lingkungan sekolah, guru-guru yang mengajar serta mengenalkan visi dan misi sekolah tersebut.

Di samping itu, sekolah juga tidak di perkenankan menugaskan siswa baru dengan tugas dan peraturan yang aneh yang dapat memberatkan siswa baru tersebut. (pr/kb)

Mulai 2018, Pemkot Tegal Menjanjikan Gaji UMR Untuk 353 Tenaga Honorer di Lingkungan Sekolah

Tegal, Jurnal Post – Pemkot Tegal melalui Dinas Pendidikan yang di wakili Kepala bidang pengembangan pendidikan kota Tegal, Sudoro, memberikan sambutan di kantor Disdikbud jalan Ki Gede Sebayu kota Tegal, kemarin selasa (11/7). Dalam sambutannya tersebut beliau mengatakan bahwa untuk tenaga honorer non kategori 2 (diluar K2-pen) sebanyak 353 akan di gaji sesuai upah minimum regional (UMR) pada 2018 mendatang. Alokasi anggaran gaji tersebut bersumber pada Anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD).

“Mulai tahun depan ada perbaikan kesejahteraan bagi tenaga honorer, gaji honerer bukan lagi bersumber dari dana BOS namun di biayai oleh APBD”, ujarnya.

Lebih lanjut dirinya menambahkan, dari 353 tenaga honorer sekolah tersebut terdiri dari 172 guru, 96 tenaga administrasi sekolah serta 85 penjaga sekolah.

Kendati demikian, sudoro belum bisa memastikan terkait besar nominalnya namun menurutnya ada kenaikan kesejahteraan untuk para tenaga honorer di lingkungan sekolah pada tahun mendatang khususnya sejumlah tanaga honorer yang telah di sebutkan diatas. (pr/kb)

Inilah Kegunaan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang Diterima Sekolah

Tegal, Jurnal Post – Dana BOS untuk Apa Saja?, Setiap sekolah tentunya mendapatkan bantuan dari pemerintah berupa dana BOS (Bantuan Operasional sekolah), namun bantuan tersebut kerap di salah gunakan oleh beberapa oknum. Padahal sasaran dari dana Bos adalah guna mewujudkan layanan pendidikan dasar dan menegah yang terjangkau dan bermutu. Lantas untuk perihal apa saja dana BOS dapat di gunakan ?

Inilah Kegunaan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang Diterima Sekolah

Menanggapi rasa penasaran masyarakat tentang untuk apa saja penggunaan dana BOS, jurnal post berhasil menghimpunnya.

Berdasarkan Informasi dari situs resmi Kabupaten Tegal, senin (20/3) ada beberapa kegiatan sekolah yang di perbolehkan menggunakan dana tersebut, di antaranya pengembangan perpustakaan, kegiatan penerimaan siswa baru, kegiatan ekstrakulikuler, kegiatan ulangan dan ujian sekolah, langganan daya dan jasa, perawatan sekolah, pembayaran honorarium bulanan (guru honorer), pengembangan profesi guru, membantu siswa/siswi miskin, pembiayaan pengelolaan BOS, pembelian perangkat komputer, pengadaan barang habis pakai serta kegiatan sekolah lainya yang non personal.

Adapun perihal yang di larang menggunakanya antara lain, ditabung dengan maksud dibungakan, dipinjamkan kepada pihak lain, membeli software pelaporan keuangan BOS, membiayai kegiatan yang bukan prioritas sekolah (seperti studi banding, studi tur dan sejenisnya), membayar iuran kegiatan (kecuali untuk menanggung biaya ke ikutsertaan dalam kegiatan tersebut).membayar bonus dan transpor rutin guru.

Selain itu, dana BOS juga tidak di perkenankan guna membeli fasilitas guru/siswa untuk kepentingan pribadi, rehabilitasi sedang dan berat, membangun gedung/ruangan baru, membeli LKS dan bahan/peralatan yang tidak mendukung proses pembelajaran, menanamkan saham, membiayai kegiatan yang telah dibiayai dari sumber lain secara penuh/wajar, membiayai kegiatan yang tidak ada kaitannya dengan operasi sekolah, (seperti upacara/ acara keagamaan), serta iuran dalam rangka upacara peringatan hari besar nasional.

Menurut Sekertaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaaan kabupaten Tegal, Wasari, S.Pd dalam sambutanya di SMP N 1 Tarub pada acara Kabar Bupati ku kemarin, senin (20/3). Kabupaten Tegal menerima dana BOS lebih dari 152 Milyar untuk tingkatan SD dan SMP. Dirinya memaparkan rinciannya untuk SD negeri 102 M, SD Swasta 36 M, SMP negeri 36,6 M dan SMP swasta 9,9 M.

“Ada perbedaan penerimaan Bos tahun ini dengan sebelumnya, tahun ini dana tersebut langsung di transfer ke rekening daerah sedangkan tahun lalu masuk ke rekening sekolah”, tambahnya.

Wasari melanjutkan paparanya, “penggunaan dana BOS harus bisa di pertanggung jawabkan dengan pembuatan laporan SPJ (Surat Pertanggung Jawaban), ada 2 kategori SPJ yang di katakan baik. pengelolaan yang bagus serta peng SPJ annya mengikuti aturan yang ada dan di laporkan tepat waktu” pungkasnya.

Melalui uraian tersebut, di harapkan tidak ada lagi oknum guru yang menyalah gunakan dana BOS untuk kepentingan pribadi yang tidak tercantum di atas. (kb)

LATEST NEWS

RANDOM NEWS