Topik: RGE

Royal Golden Eagle Meningkatkan Taraf Hidup Petani Kelapa Sawit Swadaya

Royal Golden Eagle
Source: Inside-rge.com

JURNALPOST – Petani menjadi bagian penting dari operasional Royal Golden Eagle (RGE). Sadar akan hal tersebut, RGE berusaha keras untuk meningkatkan kualitas hidup petani yang menjadi mitra, salah satunya dengan petani swadaya.

Petani swadaya merupakan istilah yang ada dalam industri kelapa sawit nasional. Mereka adalah para petani yang mengelola perkebunan kelapa sawit secara mandiri. Petani itu memanfaatkan lahan yang dimilikinya sendiri dan menjalankan tanpa dukungan perusahaan besar.
Saat ini, jumlah petani swadaya cukup besar. Sayangnya banyak di antara mereka yang memiliki taraf hidup yang kurang baik. Pasalnya, hasilnya perkebunan yang dikelolanya tidak maksimal.

Kebetulan kelapa sawit merupakan salah industri yang digeluti oleh Royal Golden Eagle. Mereka memiliki Asian Agri yang berkecimpung di sana. Anak perusahaannya ini termasuk sebagai salah satu produsen crude palm oil terbesar di Asia. Per tahun, mereka sanggup menembus kapasitas produksi hingga satu juta ton.

Asian Agri memiliki sejarah panjang dengan petani kelapa sawit. Mereka menjalankan kemitraan dengan mereka. Ada dua konsep kerja sama yang dijalankan. Pertama ialah dengan petani plasma yang sudah dimulai sejak 1987.

Kemitraan itu membuat anak perusahaan Royal Golden Eagle tersebut menyerahkan pengelolaan 96 ribu hektare dari total 196 ribu hektare lahan kepada petani plasma. Dengan langkah ini, ada 30 ribu keluarga yang mendapatkan manfaatnya. Mereka mendapatkan penghidupan dari mengelola 27 perkebunan Asian Agri.

Selain dengan petani plasma, Asian Agri memiliki kemitraan dengan petani swadaya. Mereka mulai menjajaki kerja sama setelah melihat kondisi petani. Banyak di antara mereka yang memiliki taraf hidup rendah. Gara-garanya adalah penghasilan yang minim berkebun kelapa sawit.

Para petani swadaya banyak yang terjebak ke dalam siklus negatif. Mereka sering kesulitan untuk mendapatkan peralatan atau pupuk yang diperlukan untuk mengelola perkebunan. Mereka pun tidak bisa mendapatkan pelatihan pertanian yang tepat. Hal itu dikarenakan ketiadaan biaya.

Akibat situasi seperti itu, para petani tidak bisa mendapatkan hasil panen kelapa sawit yang maksimal. Kondisi ini berujung terhadap kemampuan ekonomi yang kurang. Alhasil, siklus serupa terulang lagi karena hasil berkebun hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Unit bisnis RGE itu berupaya mengubah situasi tersebut. Mereka mengadakan kegiatan yang dinamai sebagai Desa Sawit Lestari sebagai upaya meningkatkan taraf hidup petani swadaya.

Unit bisnis dari Royal Golden Eagle ini mulai menggulirkan program Desa Sawit Lestari pada 2015. Awalnya ada dua desa yang menjadi perintis, yakni Desa Ukui Dua di Kabupaten Pelalawan dan Desa Petapahan di Kabupaten Kampar.

Di sana Asian Agri menggelar berbagai jenis kegiatan untuk mengangkat hasil perkebunan petani swadaya. Para petani tersebut diajak bekerja sama selama 3 tahun untuk memperbaiki lahan yang dikelola.

Selama ini terungkap fakta bahwa petani tidak tahu cara mengelola perkebunan kelapa sawit yang benar. Mereka tidak memahami praktik bertani berkelanjutan. Hal itu diperparah dengan kesulitan memperoleh akses peralatan yang memadai.

“Banyak dari mereka tidak mengerti bagaimana tata cara mengelola perkebunan yang baik dan benar, maka dari itu kami hadir untuk mengedukasi mereka,” kata Benjamin Hutagalung, selaku Koordinator CSR Asian Agri di Provinsi Riau. “Kami ingin masyarakat desa yang kami bina menjadi mandiri. Sehingga mereka tidak terus-menerus bergantung kepada orang lain”.

Asian Agri menurunkan tim khusus untuk melatih petani swadaya dalam berkebun kelapa sawit. Mereka juga menjadi pendamping sekaligus mentor bagi para petani.

HASIL YANG DIDAPAT

bibit sawit
Source: Inside-rge.com

Selain dukungan dalam bentuk pelatihan, Asian Agri juga membantu hal krusial yang dibutuhkan petani swadaya. Mereka meminjamkan peralatan yang diperlukan untuk mengelola perkebunan. Selain itu, akses ke pupuk dipermudah sehingga hasil perkebunan optimal.

Bukan hanya itu, unit bisnis grup yang lahir dengan nama Raja Garuda Mas ini juga memberikan bibit berkualitas kepada petani swadaya. Mereka tahu bahwa bibit merupakan salah satu komponen penting keberhasilan perkebunan. Jika kualitas bibit minim dipastikan hasil panen bakal buruk. Begitu pula sebaliknya.

Unit bisnis Royal Golden Eagle ini kemudian memberikan bibit Topaz untuk ditanam. Ini merupakan bibit berkualitas hasil pengembangan inovasi tim Riset dan Pengembangan Asian Agri.

Asian Agri memberikan pendampingan dan dukungan selama tiga tahun. Setelah itu, petani swadaya diharapkan sudah paham tata cara pengelolaan perkebunan yang baik, sehingga mampu berkebun secara mandiri.

“Jadi kami memberikan bekal yang cukup kuat kepada para warga desa untuk mereka mengelola perkebunannya secara mandiri,” papar Benjamin.

Kemitraan khusus juga dijalankan oleh Asian Agri. Mereka akhirnya bertindak sebagai perusahaan inti bagi petani swadaya. Dengan itu, petani swadaya bisa menjual hasil perkebunannya kepada mereka. Hal itu amat penting karena petani berarti mendapat harga acuan sesuai standar yang ditetapkan pemerintah.

“Selain itu, mereka juga tidak kebingungan lagi untuk memasarkan hasil perkebunannya, karena ketika masa panen tiba, mereka bisa langsung menjualnya ke Asian Agri,” lanjut Benjamin.

Program Desa Sawit Lestari akhirnya mulai membuahkan hasil. Upaya peningkatan taraf hidup petani swadaya ini memang berhasil mengangkat perekonomian. Itu tidak lepas dari hasil perkebunannya yang meningkat.

“Pendapatan mereka pun meningkat, seiring dengan meningkatnya hasil perkebunan,” ujar Benjamin.

Asian Agri juga menggandeng pemangku kepentingan seperti Pemerintah Desa dalam program Desa Sawit Lestari. Nanti, ada porsi dari setiap pendapatan dari hasil penjualan kelapa sawit yang akan dimasukkan ke kas koperasi unit desa,. Hasilnya nanti bisa digunakan membangun fasilitas desa. Dengan cara ini unit bisnis Royal Golden Eagle itu mampu untuk membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat di wilayah operasi perusahaan.

Kesuksesan ini membuat Asian Agri semakin bersemangat untuk menjalin kerja sama dengan petani swadaya. Pasalnya, banyak petani yang merasakan manfaat positif. Hal ini mendorong mereka untuk menggulirkan program Kemitraan One to One.
Ini adalah upaya bagi Asian Agri untuk menyeimbangkan luas lahan yang dikelola sendiri dengan yang ditangani oleh petani. Sekarang mereka sudah mengelola perkebunan seluas 100 ribu hektare. Sementara itu, ada lahan seluas 60 ribu hektare yang dikelola petani plasma.

Agar seimbang, Asian Agri kemudian menjalin kerja sama dengan petani swadaya. Kegiatan itu ditargetkan dapat mencakup lahan seluas 40 ribu hektare pada 2018.

Namun, Kemitraan One to One bukan hanya menambah luas lahan cakupan. Bagi Asian Agri, ada misi lain yang diusung di baliknya, yakni peningkatan taraf hidup petani kelapa sawit.

“Melalui program kemitraan One to One, kami menempatkan hubungan antara perusahaan dengan petani tidak hanya sebatas penjual dan pembeli. Namun kami turut berfokus pada peningkatan kesejahteraan seluruh petani mitra melalui pendampingan dan praktik-praktik berkelanjutan yang diterapkan oleh para petani,” kata Direktur Corporate Affairs Asian Agri, M. Fadhil Hasan.

Dengan program ini, Asian Agri mampu memberi manfaat kepada pihak lain khususnya petani kelapa sawit. Inilah yang menjadi kewajiban bagi unit-unit bisnis dari Royal Golden Eagle seperti mereka.

Berdiri Dengan Nama Raja Garuda Mas Perusahaan Ini Merintis Sumber Energi Terbarukan

JURNALPOST – Saat berdiri pada 1973, Royal Golden Eagle (RGE) menggunakan nama Raja Garuda Mas. Mulai saat itu, mereka memandang serius kelestarian alam melalui beragam cara. Salah satunya ialah dengan menggalakkan penggunaan energi terbarukan di anak-anak perusahaannya.

Sampai sekarang, energi di Indonesia masih didominasi dari bahan fosil. Minyak bumi tetap menjadi sumber energi utama. Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Migas (SKK Migas) menyebutkan porsi konsumsi minyak bumi masih mencapai sekitar 60 persen dari seluruh sumber energi yang ada di negeri kita.

Padahal, siapa pun tahu, energi dari minyak bumi tidak ramah lingkungan. Selain itu, jumlahnya terbatas dan tidak bisa diperbarui. Sebagai gambaran, Ego Syahrial, Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Minyak dan Gas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), mengatakan jika tidak ada penemuan baru dan konsumsi seperti sekarang ini, maka cadangan minyak yang ada di Indonesia hanya mampu bertahan sampai 12 tahun lagi.

Melihat kondisi tersebut, tidak mengherankan kalau Pemerintah Indonesia menggalakkan penggunaan energi terbarukan yang ramah lingkungan. Himbauan tersebut disambut baik oleh RGE. Maklum saja, sejak lahir dengan nama Raja Garuda Mas hingga kini, mereka selalu berupaya aktif melestarikan lingkungan supaya tetap alami. Pemanfaatan energi terbarukan yang aman untuk bumi jelas sejalan dengan misi tersebut.

Untuk menjawab ajakan tersebut, salah satu anak perusahaan Royal Golden Eagle, Asian Agri, mempelopori penggunaan energi terbarukan untuk industri. Mereka dengan jeli mampu memanfaatkan limbah produksinya untuk diolah menjadi sumber energi pembangkit listrik.

Asian Agri merupakan unit bisnis bagian RGE yang bergerak dalam industri kelapa sawit. Mereka berdiri pada 1979 dengan area perkebunan dan produksi di Jambi, Sumatra Utara, dan Riau.

Saat ini, Asian Agri termasuk sebagai salah satu pemain besar di industrinya. Hal itu tidak lepas dari kapasitas produksinya yang tinggi. Per tahun mereka mampu menghasilkan minyak kelapa sawit hingga satu juta ton.

Kemampuan itu tak lepas dari pengelolaan perkebunan secara modern. Kebun seluas 160 ribu hektare milik mereka jadi mampu menyuplai bahan baku secara konsisten.

Sebagai bagian dari RGE, Asian Agri juga selalu berusaha menjaga operasionalnya agar tidak merusak lingkungan. Itulah yang membuat mereka mulai melirik pemanfaatan energi terbarukan yang ramah terhadap alam.

Langkah yang dilakukan ialah dengan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBG). Asian Agri mulai melakukannya sejak 2015 lalu. Kala itu, mereka membangun lima PLTBG yang tersebar di Riau, Jambi, dan Sumatra Utara.

Putusan yang diambil oleh Asian Agri sangat cerdas. Mereka bisa mengolah limbah cair kelapa sawit yang sering disebut POME menjadi sumber energi listrik. Hal itu dapat dilakukan dengan tangki digester yang berasal dari teknologi Jepang.

Berkat itu, POME bisa diolah menjadi gas metan yang berguna sebagai sumber energi listrik. Saat ini, Asian Agri mengoperasikan tangki digester terbesar di dunia dari teknologi Kubota Anaerobic Membrane Bioreactor. Sebelumnya Asian Agri sering mengolah POME menjadi elemen penyubur tanah untuk perkebunannya.

Hal itu bagaikan sekali mendayung dua pulau terlampaui. Asian Agri bukan hanya mampu menciptakan energi terbarukan yang ramah terhadap alam. Mereka juga bisa meminimalkan jumlah limbah produksi yang dihasilkan. Lagi-lagi ini akan berpengaruh positif terhadap kelestarian lingkungan yang diharapkan oleh Royal Golden Eagle.

Hingga saat ini, Asian Agri telah membangun tujuh PLTBG. Namun, mereka ingin terus menambah jumlahnya. Unit bisnis bagian grup yang lahir dengan nama Raja Garuda Mas ini menargetkan sudah akan membangun 20 PLTBG hingga tahun 2020 nanti.

MENYUPLAI KEPADA MASYARAKAT

Selain terbarukan, energi listrik dari biogas dikenal lebih ramah terhadap lingkungan. Kerugian yang ditimbulkan jauh lebih kecil dibandingkan dari energi fosil seperti minyak bumi.

Bukan rahasia lagi, energi fosil seperti minyak bumi dan batubara memicu serangkaian kondisi yang merugikan. Energi ini melepaskan karbon dioksida ke udara. Inilah yang memicu pemanasan global, pencemaran udara, hingga gangguan kesehatan. Belum lagi penggunaan lahan yang lumayan besar dan potensi pencemaran air yang ditimbulkannya.

Tak heran, Asian Agri berusaha menekan penggunaan energi fosil di perusahaannya. Pelan-pelan mereka mengembangkan PLTBG sebagai sumber energi anyar. Maklum saja, energi listrik dari biogas diperkirakan bisa mengurangi emisi

Asian Agri memanfaatkannya untuk memutar operasional pabrik. Namun, keberadaan PLTBG juga membuka kesempatan kepada mereka untuk memberi manfaat kepada masyarakat dan negara.

Perlu diketahui, setiap PLTBG milik Asian Agri mampu menghasilkan energi listrik dengan kapasitas mencapai 2,2 megawatt. Dari jumlah itu, anak perusahaan RGE tersebut hanya membutuhkan 700 kilowatt untuk menjalankan operasionalnya. Akibatnya ada sisa energi listrik hingga 1,5 megawatt per PLTBG.

Oleh Asian Agri, kelebihan suplai listrik itu disalurkan kepada masyarakat di sekitarnya. Dengan asumsi bahwa satu rumah membutuhkan 900 watt, maka satu PLTBG bisa mendukung energi untuk sekitar 1.600 rumah.

Jumlah itu bertambah besar karena Asian Agri saat ini mengoperasikan 7 buah PLTBG. Jika ditotal, sekarang mereka telah mampu mendukung kebutuhan listrik untuk 11.600 rumah.

Ke depan, masyarakat yang mendapat dukungan suplai listrik dari Asian Agri akan bertambah. Pada 2020 nanti bakal ada setidaknya 32 rumah yang memperoleh suplai listrik dari mereka.

“Kepedulian dan komitmen nyata dari perusahaan kelapa sawit di Indonesia terhadap keseimbangan lingkungan hidup serta Sustainable Development Goals (SDG) akan berkontribusi secara signifikan bagi upaya Pemerintah Indonesia mengurangi pemanasan global dan perubahan iklim di dunia”, kata Head of Sustainability and Stakeholder Relations Asian Agri, Bernard A. Riedo.

Langkah Asian Agri mendapat apresiasi dari pemerintah. Kebetulan saat ini pemerintah tengah mengejar pertumbuhan energi terbarukan seperti biogas. Hal itu sejalan dengan misi untuk mendapat sumber energi listrik sebesar 35 ribu megawatt yang dicanangkan. Konsistensi Asian Agri dalam membangun PLTBG dinilai sejalan dnegan dua misi tersebut.

“Penciptaan energi baru terbarukan diharap dapat mencapai 23% pada 2025,” kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan di Sindonews.com. “Kami mengundang partisipasi sektor swasta agar mulai berinisiatif dan mengambil peran. Penciptaan energi hijau yang dilakukan Asian Agri ini sangat baik,” tambahnya.

Bagi Asian Agri, selain melaksanakan perlindungan alam, hal ini juga menjadi cara lain untuk mewujudkan prinsip kerja lain di RGE. Oleh pendirinya, Sukanto Tanoto, segenap pihak di Royal Golden Eagle diharapkan mampu memberi manfaat kepada pihak lain. Mereka diharuskan untuk berguna bagi masyarakat dan negara.

Kewajiban itu dikenal sebagai filosofi bisnis 5C. Hal itu pun menjadi arahan operasional bagi semua pihak di RGE. Membangun PLTBG ternyata memungkinkan Asian Agri memberi manfaat pada masyarakat dan negara. Inilah yang diharapkan oleh grup yang berdiri dengan nama Raja Garuda Mas tersebut ke semua anak perusahaannya. (ADV)

LATEST NEWS

RANDOM NEWS