Topik: Mahasiswa

Mahasiswa KKN STAI DDI Jeneponto Hijaukan Desa Bulusukka

KKN STAI DDI Jeneponto

Jenenponto, Jurnalpost – Mahasiswa KKN STAI DDI Jeneponto Angkatan XXIV menanam 300 Pohon di Desa Bulusukka Kecamatan Bontoramba Kabupaten Jeneponto. Rabu (13/02/2019).

Sebagai bentuk Kepeduliaannya terhadap lingkungan, Mahasiswa KKN STAI DDI Jeneponto melaksanakan Gerakan Penghijauan Sebanyak 300 pohon di sepanjang jalan Desa Bulusuka tepatnya di Dusun Parang Boddong dan Dusun Tappalalo.

“Aksi tanam pohon ini merupakan salah satu Program KKN kami yang melibatkan pemuda dan warga Bulusuka untuk bersama-sama melakukan penghijauan. Pohon yang sudah ditanam akan terus kami pantau selama proses KKN berlangsung,” ujar Akbar Selaku Kordes.

Taufiq juga menambahkan bahwa, 300 pohon yang ditanam meliputi jenis Jati Putih dan Trembesi, bibit Pohon tersebut didapatkan dari Proposal yang mereka ajukan beberapa waktu lalu ke Dinas Lingkungan Hidup, tambah Taufiq yang juga merupakan sebagai Sekretaris KKN.

Sementara salah satu warga, Yaseng juga mengapresiasi kegiatan Penghijauan yang dilakukan oleh mahasiswa KKN tersebut.

“Saya sangat Mengapresiasi atas program kerja yang dilakukan oleh adik-adik Mahasiswa KKN STAI DDI Jeneponto,” katanya.

“Saya harap kegiatan gerakan tanam pohon tersebut dapat menghijaukan kembali Desa Bullusuka,” ungkap Yaseng, salah satu warga yang berdomisili di Dusun Parangboddong. (Hardiono/SimpulRakyat)

Kritik Aktivisme Mahasiswa Oleh: Muhlis Pasakai

Muhlis Pasakai
Muhlis Pasakai

JURNALPOST – Oleh: Muhlis Pasakai (Mantan Ketua MPM Stmik Handayani Makassar), Ketika kekuatan konvensional dianggap tidak sanggup mengatasi kelemahan-kelemahan yang terdapat dalam mekanisme politik formal, maka gerakan sosial menjadi jalur alternatif untuk mendorong perubahan politik dan kebijakan publik.

Gerakan mahasiswa adalah salah satu varian gerakan sosial yang dianggap memiliki kapasitas dalam mempengaruhi kebijakan, mendorong isu-isu tertentu menjadi tema perdebatan publik, bahkan gerakan secara masif dapat berujung pada tumbangnya sebuah rezim.

Mahasiswa yang memotori gerakan di kampus-kampus disebut sebagai aktivis. Aktivis mahasiswa adalah mereka yang kritis dan mampu menggerakkan massa untuk melakukan demonstrasi. Dalam politik dan pemerintahan, istilah aktivis memang diartikan seseorang yang menggerakkan (demonstrasi dsb).

Tak dapat dipungkiri, bahwa peran para aktivis mahasiswa sangat berjasa dalam mengawal perjalanan demokrasi sebuah negara. Karena itu, menjadi aktivis dikalangan mahasiswa adalah sebuah prestasi yang patut diapresiasi sebagai pelaku sejarah di masanya. Namun demikian, menjadi aktivis mahasiswa yang heroik itu, harus ditautkan pada genuinitas nilai-nilai yang diperjuangkan. Mengapa?, agar generasi mahasiswa tidak menjadikan label “aktivis” itu bermetamorfosis menjadi bajakan.

Aktivis mahasiswa biasanya lahir dari proses dinamika kampus dan kondisi politik melalui pengkaderan oleh organisasi-organisasi kemahasiswaan, internal maupun eksternal dengan segenap afiliasinya. Mereka yang memiliki potensi akan berkembang sesuai corak ideologi dan pemikiran yang membentuknya.

Menjadi aktivis mahasiswa memang memiliki daya tarik tersendiri. Biasanya disegani oleh dosen dan birokrat kampus, memiliki prestise khusus bagi mahasiswa yang lain, dan yang paling magnetis adalah akses terhadap pejabat dan elit penguasa yang melahirkan pergaulan papan atas.

Ketidakadilan, penindasan, melawan, pembebasan, adalah kosakata yang melekat dalam kamus seorang aktivis mahasiswa. Itulah doktrin yang ditanamkan seperti chip dalam memori otak sehingga mampu melacak sinyal ketidakadilan, penindasan dan kawan-kawannya itu, layaknya perangkat teknologi jaringan dalam sistem komunikasi digital.

Daya kritis itu akan mendorong untuk melakukan pergerakan dan perlawanan, umumnya dalam bentuk demonstrasi. Karena itu, belum lengkap nampaknya mahasiswa disebut sebagai aktivis sebelum turun ke jalan, orasi, membakar ban, dan teriak-teriak menggunakan toa megaphone, bahkan terkadang merusak fasilitas publik.

Berorasi dan menjadi jenderal lapangan memang sesuatu yang sangat bergengsi, disorot beragam media dan terkesan sebagai pahlawan. Apalagi di republik ini, gerakan demonstrasi mahasiswa menjadi salah satu kebanggaan yang melegenda dalam melengserkan rezim orde baru.

Asupan energi lainnya, ada semacam dogma bahwa para bintang seperti di parlemen adalah mantan demonstran. Inilah yang terkadang mendorong gairah mahasiswa semakin bernyali untuk menjadi “singa jalanan”. Apalagi, selalu disuarakan sebagai hak kebebasan mengeluarkan pendapat yang dilindungi oleh pasal 28E UUD 1945.

Demonstrasi mungkin dianggap hal yang biasa, selama tidak mengganggu. Meskipun sebetulnya demonstrasi itu adalah upaya untuk menganggu aktivitas normal agar dapat menyita perhatian publik. Semakin demonstrasi itu “mengganggu”, semakin cepat, semakin besar dan semakin luas respon yang didapatkannya. Itulah sifat dasar demonstrasi. Mungkin karena itulah, salah satu panggung yang paling diminati para aktivis untuk menyalurkan perlawanannya adalah melalui demonstrasi.

Demonstrasi memang bukan kolektifitas liar berupa anarkisme jalanan, tapi kerusuhan, teriakan kata-kata kasar, perusakan adalah hal yang rentan bahkan terkadang menjadi langganan dalam sebuah demonstrasi.

Demonstrasi dengan berbagai ekses yang ditimbulkannya ini mungkin disebabkan oleh mindset bahwa untuk menjadi aktivis sejati, untuk membentuk diri menjadi figur, terlebih dahulu harus menjadi demonstran.

Sisi lain yang menarik adalah ketika seorang aktivis mahasiswa sangat kritis namun sekaligus “dekat” dengan para penguasa yang selalu dikritiknya, bahkan terlihat sangat bersahabat, mungkin setelah diajak “ngopi”. Hal semacam ini terkadang menjadi sesuatu yang sulit dimengerti pada diri seorang aktivis. Dikhawatirkan, jika menjadi aktivis hanya modus untuk dapat ikut menikmati hidangan kue kekuasaan yang mewah, itulah hedonisme aktivis.

Tak kalah menariknya dalam dunia aktivisme dan pergerakan adalah mendapatkan “panggung” untuk menokohkan diri. Sering tampil membela dan mendampingi orang-orang yang dianggap sebagai korban adalah salah satu cara praktis untuk menjadi figur. Tentu tidak masalah, selama “panggung” itu tidak dipaksa-paksa atau selera penokohannya yang lebih dominan. Jika iya, maka aktivisme itu hanyalah menjadi sirkulasi penokohan untuk menjadi elit, sehingga siklus yang terbentuk adalah demonstran mendemo mantan demonstran. Menjadi aktivis mahasiswa akhirnya diterjemah sebagai cara melenggang ke panggung kekuasaan.

Untuk menjaga semua itu, untuk merawat sakralitas aktivis, maka muatan istilah “aktivis” harus diperkaya.

Aktivis tidaklah harus selalu identik dengan perlawanan frontal, menyuarakan ketidakadilan, mengadvokasi korba-korban penindasan, dan vokal mengkritik sebuah kebijakan.

Mahasiswa yang berorasi dipinggir jalan untuk mengumpulkan donasi terhadap berbagai korban bencana dan solidaritas kemanusiaan juga adalah aktivis yang melakukan perlawanan terhadap individualisme dan keserakahan. Mahasiswa yang bergabung sebagai pegiat literasi juga aktivis yang melakukan pembebasan terhadap penjara kebodohan. Mahasiswa yang melakukan inovasi-inovasi pemberdayaan ekonomi dan wirausaha juga aktivis yang melawan penindasan kemiskinan. Mahasiswa yang aktif bergerak di bidang da’wah juga aktivis yang melawan virus-virus spiritualitas. Mahasiswa yang berkecimpung dalam kegiatan-kegiatan yang memberikan perhatian terhadap sekolah-sekolah dan lembaga pendidikan juga aktivis yang melakukan perang terhadap keterbelakangan. Begitupula dengan mahasiswa dengan aktivitas intelektual di berbagai bidang pemikiran, juga layak disebut sebagai aktivis.

Aktivis adalah orang yang aktif mendorong pelaksanaan sesuatu atau berbagai kegiatan dalam organisasinya, itulah arti aktivis sebagai nomina dalam KBBI, tidak diartikan sebagai demonstran.

Berhati-hatilah menjadi aktivis yang meneriakkan kebebasan, tapi sekaligus memenjarakan kebebasan. Itu dicela dalam as-Shaff: 2, “mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan”. Alih-alih memperjuangkan dan mengurusi orang lain, diri sendiri saja berantakan bahkan mungkin menjadi beban keluarga, miskin nilai keteladanan, kendati aktivisme itu adalah tentang ekspektasi kolektif. (*)

Mahasiswa Sydney kunjungi Balai Sakinah Aisyiyah Pangkep

PANGKEP, JURNALPOST, – Sejumlah mahasiswa Sydney mengunjungi Balai Sakinah Aisyiyah Pangkep, 17-19 Juli 2018. Adapun tujuan kunjungan ini untuk melihat tata kelola dan pengorganisasian komunitas perempuan binaan organisasi Perempuan Islam Aisyiyah Pangkep.

Sekitar 5 kelompok BSA yang tersebar di sejumlah Desa dan Kelurahan Di Pangkep ini menjadi tujuan kunjungan diantaranya Desa Panaikang, Kelurahan Pabundukang, Desa Bonto Manai, Bonto Puca Biraeng dan Desa Bowong Cindea.

Dalam kesempatan itu mahasiswa Sydney ini melihat dan mendengar cerita perubahan anggota BSA bagaimana partisipasi mereka sebagai kaum perempuan dalam pembangunan desa melalui Musrenbang Desa, pemberdayaan ekonomi melalui BUEKA, serta terlibat aktif membangun jaringan dengan para pihak untuk meningkatkan layanan kesehatan melalui program Layanan Umpan Balik yang bekerjasama dengan Puskesmas seperti Puskesmas Minasatene, Puskesmas Bowong Cindea dan Puskesmas Pundata Baji untuk mengkampanyekan pentingnya Kesehatan Reproduksi dan partisipasi masyarakat dalam memperbaiki mutu layanan kesehatan di Unit Layanan Kesehatan.

Menurut Ketua Pimpinan Daerah Aisyiyah Sri Hati Fachrul kunjungan ini juga sebagai bentuk pembelajaran mahasiswa Sydney terhadap pengelola pengorganisasian kelompok perempuan di komunitas selama 5 tahun terakhir dimana Aisyiyah sudah bekerjasama dengan pemerintah Australia dalam mendorong kemajuan perempuan dalam berbagai bidang.

“Kami sudah 5 tahun bekerjasama dengan Pemerintah Australia melalui MAMPU, Aisyiyah Pangkep merupakan salah satu daerah yang dianggap sukses dalam memajukan perempuan di Pangkep sehingga menjadi salah satu tujuan kunjungan pembelajaran bagi sejumlah mahasiswa sydney untuk pemberdayaan perempuan di tingkat komunitas. Dan kunjungan Unsyd ini sudah masuk tahun ke-3” tutur Sri Hajati

Salah satu Mahasiswa Sydney, yang ternyata masih memiliki Keturunan Indonesia-Australia namun telah lama menetap di Sydney menyampaikan bahwa kegiatan BSA binaan Aisyiyah Pangkep telah memberikan banyak pengalaman kepada ibu2 yang lebih banyak berprofesi sebagai IRT untuk mandiri secara ekonomi, trus berani berbicara dan mampu bekerjasama dengan Puskesmas untuk meningkatkan layanan kesehatan.

“ibu-ibu disini ternyata begitu senang bergabung dalam kegiatan Aisyiyah Pangkep, artinya udah banyak memberikan manfaat kepada perempuan di desa” Ujar Ayu dalam dialek Inggris campur Indonesia. (Citizen Report)

Mengapa Mahasiswa Harus Mengikuti Les Bahasa Inggris?

JURNALPOST – Bahasa inggris merupakan bahasa internasional yang wajib untuk dipelajari. Karena, dengan bahasa inggris, Anda dapat berinteraksi dengan banyak orang di seluruh penjuru dunia. Mengingat bahasa inggris merupakan bahasa internasional yang penting untuk dipelajari, maka tak heran jika Bahasa inggris diajarkan mulai dari level sekolah dasar di Indonesia.

Les Bahasa Inggris

Tak hanya sekolah dasar dan menengah, seorang mahasiswa juga harus mempelajari bahasa inggris. Karena, bahasa inggris dapat memberikan beragam manfaat untuk mahasiswa meskipun pelajaran tersebut tidak lagi dipelajari di sistem perkuliahan. Lalu, mengapa seorang mahasiswa harus mempelajari bahasa inggris? Berikut ini beberapa alasannya :

Agar meningkatkan nilai jual

Seorang mahasiswa yang lulus nantinya akan bersaing dengan jutaan mahasiswa lainnya untuk mencari pekerjaan. Untuk memudahkan proses pencarian pekerjaan, maka mahasiswa haruslah mempelajari bahasa inggris selama masa studi perkuliahannya. Karena, beberapa perusahaan mensyaratkan calon pekerjanya untuk menguasai bahasa inggris secara fasih. Tak hanya itu, kemampuan bahasa inggris yang dimiliki seorang mahasiswa juga dapat meningkatkan nilai jualnya di mata perusahaan sehingga membuatnya lebih diperhitungkan untuk dapat bekerja di perusahaan tersebut.

Untuk menguasai bahasa inggris, ada berbagai cara yang dapat dilakukan salah satunya dengan mengikuti les bahasa inggris di English First Adults. Mengapa english first adults? Karena English First Adults merupakan tempat yang terbaik untuk belajar bahasa inggris dan tersebar di berbagai kota di Indonesia. Tempat les bahasa inggris mahasiswa di surabaya terbaik merupakan English First Adults sehingga jika Anda ingin mempelajari bahasa inggris, tempat inilah tempat terbaik untuk Anda.

Sebagai syarat kelulusan

Mempelajari bahasa inggris tidak hanya meningkatkan nilai jual melainkan juga merupakan syarat kelulusan bagi mahasiswa. Pada beberapa kampus di Indonesia, setiap mahasiswa diharuskan untuk mengikuti tes untuk mengukur kemampuan bahasa inggrisnya. Tes ini nantinya akan dijadikan syarat kelulusan agar mencetak kualitas sumber daya manusia yang lebih baik dari kampus tersebut. Oleh karena itu, mahasiswa wajib mempelajari bahasa inggris meski tidak diajarkan di bangku perkuliahan

Itulah beberapa alasan mengapa mahasiswa harus mempelajari bahasa inggris. Jika Anda ingin belajar bahasa inggris di English First Adults, silahkan kunjungi laman berikut ini https://www.ef.co.id/englishfirst/adults/ untuk mengetahui beragam hal yang ditawarkan di EF Adults. Semoga bermanfaat. (ADV)

Utusan Mahasiswa Sesulsel Nyatakan Dukung Agus-Tanribali

Makassar, Jurnalpost – Sejumlah mahasiswa dan pemuda berkumpul di salah satu cafe di bilangan jalan perintis kemerdekaan Makassar, Minggu (13/05/18) sore.

Utusan Mahasiswa Sesulsel Nyatakan Dukung Agus-Tanribali

Para mahasiswa dan pemuda ini masing-masing berasal dari beberapa kampus di kota Makassar dan juga dari 24 Kabupaten/ Kota yang ada di Sulsel.

Mereka mendeklarasikan dukungannya di pilgub Sulsel untuk paslon nomor urut 2 Agus Arifin Nu’mang–Tanribali Lamo.
Ahmad Wahyudi yang dipercaya sebagai Koordinator mengatakan alasan para pemuda dan mahasiswa Sulsel ini untuk mendukung paslon nomor urut 2.

“Sulsel ini propinsi yang besar dan menjadi salah satu tolok ukur perpolitikan Indonesia. Pemuda yang peduli dengan daerahnya tentunya akan terlibat aktif dalam pesta demokrasi dan memilih paslon yang betul-betul bisa membawa Sulsel lebih bagus lagi ke depan. Pak Agus dan Pak Tanribali, keduanya sosok sederhana teruji dan berpengalaman. Keduanya adalah pilihan tepat bagi warga Sulsel begitu pun juga para pemuda dan mahasiswa”, terang Ahmad Wahyudi.

Selain itu menurut Ahmad, keduanya adalah figur yang bersih jauh dari korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN).
” Insya Allah kami siap membantu untuk terus mensosialisasikan kepada masyarakat agar memilih paslon nomor 2 Agus-Tanribali dengan gaungkan #SayaDua”, ucap Ahmad yang juga disaksikan oleh tim Agus-Tanribali, Suardi Bakri dan Ruslan.

Sementara itu, menurut Suardi apa yang dilakukan oleh para mahasiswa dan pemuda Sulsel ini adalah sebuah keputusan yang tepat dalam melihat figur dan menjatuhkan pilihannya.

“Tentunya, kita sangat bangga dengan adik-adik mahasiswa dalam mengamati perpolitikan di Sulsel. Pilihan mereka ini sifatnya objektif tanpa adanya iming-iming”, pukas Suardi.

Stand Up Comedy UPS Tegal Buat Ratusan Mahasiswa Tertawa Lepas

Tegal, Jurnalpost – Ada kegiatan menarik yang digagas oleh Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Pancasakti Tegal yaitu lomba Stand Up Comedy bertempat di Auditorium UPS hari Selasa (8/5). Ratusan mahasiswa tertawa oleh aksi komika.

Stand Up Comedy UPS Tegal Buat Ratusan Mahasiswa Tertawa Lepas
Para Juara Stand Up Comedy UPS Tegal berpose dengan Kaprodi Pendidikan Bahasa Indonesia Lely Triyana.(foto : prodi PBSID)

Sekitar 30 peserta dari berbagai kota di Jawa Tengah mengikuti ajang ini yang memperebutkan juara 1,2,3 dan juara harapan.

“Stand up comedy tidak hanya lucu saja tetapi juga ada unsur pendidikan, teater dan sastra. Jadi tujuan nya untuk menerapkan stand up comedy dengan mata kuliah di prodi Pendidikam Bahasa Indonesia” kata Lukman Alfaris Ketua Panitia.

Ia mengatakan kegiatan ini pertama kali di gelar di UPS yang mengundang komika Ipul.

“Kami mengundang Ipul yang tidak asing lagi bagi mahasiswa, suasana kocak membuat banyak mahasiswa tertawa” ujarnya.

Setelah melalui tahapan penjurian, diperoleh juara 1 Yoga dari Banjarnegara, juara 2 Muhamad Zadnan dari Kota Tegal dan juara 3 Doni Prabowo dari Kabupaten Kudus. Sedangkan juara harapan 1, 2 dan 3 diperoleh Didi dari Brebes, Dandi dari Pemalang dan Kiswoyo dari Losari.

Lomba Stand Up Comedy dibuka oleh Dekan FKIP UPS Tegal Masfuad dan ditutup oleh Rektor UPS Burhan Eko Purwanto. (ydt)

Ini Harapan Direktur Perdik Untuk Rektor Baru UNHAS

Makassar, Jurnalpost – Rektor baru unhas periode 2018-2022, Prof. Dr. Dwia Aries Tina Pulubuhu, dilantik pada jumat, 27 April 2018 di Baruga AP Pettarani Universitas Hasanuddin. Acara pelantikan ini dibuka secara langsung oleh ketua majelis wali amanat UNHAS, Prof. Dr. Basri Hasanuddin, MA, yang didampingi sejumlah anggota MWA UNHAS lainnya.

Ini Harapan Direktur Perdik Untuk Rektor Baru UNHAS
Ini Harapan Direktur Perdik Untuk Rektor Baru UNHAS

Direktur eksekutif pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan (PerDIK), Abd. Rahman, turut memberi selamat pada Prof Dwia, yang kembali dipercaya memimpin UNHAS 4 tahun kedepan. Rahman berharap, kedepannya kampus merah (julukan universitas Hasanuddin), bisa lebih memperhatikan mahasiswa difabel yang berkuliah di UNHAS.

“Di Unhas itu sudah banyak difabel yang berkuliah disana, kira-kira sejak tahun sembilan puluhan, sudah adami difabel yang kuliah di UNHAS, tapi sejauh ini belum ada perhatian dari pimpinan universitas untuk menyediakan fasilitas yang memudahkan difabel saat bermobilitas di UNHAS.” Jelas Rahman.

Rahman atau lebih kerap dipanggil Gus Dur melanjutkan, bahwa PerDIK, juga sudah beberapa kali mengadakan diskusi dengan mahasiswa himapol UNHAS terkait isu-isu difabel.

harapan diadakannya diskusi tersebut adalah untuk meningkatkan kesadaran ditingkat sivitas akademi UNHAS mengenai pentingnya kampus yang inklusif di Makassar. apalagi, masih menurut Gus Dur, di Indonesia timur belum ada satupun kampus negeri yang memiliki pusat studi dan layanan disabilitas. karena itu, Gus Dur bisa menjadi kampus percontohan dalam memberikan pelayanan yang ramah difabel untuk kawasan indonesia timur.

Gus Dur juga menyampaikan bahwa beberapa dosen muda UNHAS juga telah menjalin komunikasi dengan PerDIK tentang tekhnis kampus inklusif dan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mendirikan pusat studi disabilitas di UNHAS.

“Sekarang itu sudah ada tim risetnya dari mahasiswa unhas, mereka sedang menidentifikasi prodi apasaja yang pernah menerima mahasiswa difabel, dan kira-kira prodi apa saja yang memungkinkan mahasiswa difabel untuk berkuliah. Semoga apa yang telah kita rencanakan ini dapat terrealisasi di kepemimpinan Prof Dwia.” tutupnya. (*pr)

Mahasiswa FH UMI Diskorsing, Mahasiswa itu Akan Tuntut Dekan FH UMI

JURNALPOST.COM, MAKASSAR —Kampuslah satu-satunya sebagai ruang mimbar bebas mahasiswa dalam menyampaikan aspirasinya maupun menuangkan gagasan yang cemerlan, tapi ternyatanya itu sudah terbalik karena mahasiswa yang menyampaikan pendapat itu dianggap sebagai suatu pelanggaran.

Terjadi dalam fakultas hukum universitas muslim indonesia makassar (UMI ) yang mengeluarkan skorsing kepada dua orang mahasiswanya yang bernama Andi Fajar Gusnawan angkatan 2015 dan Fikram Maulana angkatan 2014.

Mahasiswa yang di akorsing ini dituduh melanggar peraturan UMI No 1 tahun 2014 tentang ketentuan pokok akademik maupun peraturan UMI No 1 tahun 2013 tentang ketentuan pokok kemahasiswaan.

Mahsiswa yang diskorsing ini hanya melakukan aksi dalam kampus dengan menuntut transparansi anggaran dan meminta mahasiswa dilabatkan dalam pembahasan kebijakan kampus karena justru tuntutan inilah berujung pada dikeluarkannya SK skorsing oleh dekan dan diberikan kepada mahsiswa yang bersangkutan pada hari kamis, 8 Maret 2018.

“Saya kaget pada saat saya terima surat skorsing itu karena saya hanya turun aksi dengan mempertanyakan transaparansi anggran tapi justru saya di skorsing, nah padahal itu persolan transparansi diatur dalam UU No 14 tahun 2008 tentang keterbukaan informasi publik dan uu no 12 tahun 2012 tentang pendidikan tinggi dalam pasal 63 huruf B bahwa otonomi pengelolaan perguruan tinggi harus didasarkan pada prinsip  transparansi. Hal senada yang disampaikan juga andi F Fajar Gusnawan yang sebagai korban skorsing juga, Lanjut fikram bahwa kasus ini saya akan bawa ke pengadilan,” kata Fikram Maulana.

Sementara itu, Saeful sebagai alumni fakultas Hukum UMI, mengungkapkan, ia merasa miris mendengar SK skorsing yang dikeluarkan Dekan Fakultas Hukum UMI dia berpendapat bahwa sanksi itu sebelum dijatuhkan kepada mahasiswa seharusnya  diberikan ruang dulu untuk melakukan pembelaan terhadap apa yang dituduhkan.

“Kita ketahui bersama bahwa menyampaikan pendapat itu kan sudah di jamin dan dilindungi oleh UUD 1945 pasal 28 E ayat 3 bahwa setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat dan diatur lebih lanjut dalam uu no 9 tahun 1998 tentang kemerdekaan menyampaikan pendapat dimuka umum,” ungkap Saeful.

Skorsing ini, lanjut Saeful, adalah suatu pelanggaran terhadap UUD 1945 maupun UU No 9 tahun 1998, dan ini tidak bisa di diamkan harus ditindak lanjuti dirana hukum, katanya. (*)

Mahasiswa Agribisnis UIM Gelar Pameran Kewirausahaan dan Seminar Nasional

JURNALPOST – Himpunan Mahasiswa Program Studi Agribisnis (HIMAPROAGRI) Fakultas Pertanian Universitas Islam Makassar (UIM) menggelar Seminar Nasional dan Pameran Kewirausahaan dengan tema “Let’s Be an Entrepreneurs Not Just A Worker (Mari berwirausaha, jangan cuma jadi pekerja) di Auditorium KH. Muhyiddin Zain UIM, Jalan Perintis Kemerdekaan KM. 9, Tamanrea Makassar.

Kegiatan seminar ini menghadirkan pemateri utama bapak Ir. H. Lutfi Halide, MP. pelaku wirausaha sukses dalam bidang pertanian. Selain itu, hadir sebagai pemateri dari BPC HIPMI Kota Makassaar Andi Ali Imran Mappasonda, Kornas Gempita Muhammad Riyada dan Ketua UMKM Mutiara Timur Hasidah S. Lipoeng.

Mahasiswa Agribisnis UIM

Dekan Fakultas Pertanian UIM, Dr La Sumange mengatakan, kegiatan ini patut diapresiasi karena merupakan bagian dari pembelajaran akademik yang mendukung kesuksesan mahasiswa di masa yg akan datang.

Sementara itu, Pembina HIMAPROAGRI dan UKM Kewirausahaan UIM, Dr. Andi Kasirang T Baso, mengungkapkan bahwa mahasiswa dibina dan dibimbing untuk menjadi wirausaha yang mandiri dan sukses. “kami membina mahasiswa untuk berwirausaha sejak dibangku kuliah, berharap mereka menjadi pencipta lapangan kerja” Imbuh Andi Kasirang.

“Pameran Kewirausahaan ini juga memamerkan berbagai macam produk hasil pertanian seperti keripik sukun, pisang, salad buah, keripik daun kemangi, aneka produk dari bambu, limbah plastik dan tanaman hias serta pestisida nabati” Tutup Andi Kasirang.

Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan Fakulas Pertanian UIM Herman Nursaman menerangkan, kegiatan ini diikuti oleh 300 peserta yang berasal dari mahasiswa UIM dan juga universitas lain yang ada di makassar. “tujuan kegiatan ini adalah memperdalam dan mengembangkan ilmu kewirausahaan, memberikan motivasi kepada mahasiswa agar berani berwirausaha” Ungkap Herman.

Hadir pada kegiatan tersebut, Pimpinan Fakultas Pertanian UIM, Ketua LPPM UIM Dr Musdalifah Mahmud, Ketua LPMI UIM A. Abd Rahman Syafar, Asisten Direktur Pascasarjana UIM Dr Suardi Bakri, Direktur Koperasi UIM dan dosen-dosen Fakultas Pertanian UIM.

Dilaporkan oleh: Muh. Nur (Humas FKIP UIM)

Mahasiswa FKIP UIM IKuti Semarak IMABSII di Padang

JURNALPOST – Pengurus Himpunan Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (HIMAPBSI) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Makassar (FKIP UIM) mengikuti kegiatan Simposium Nasional dan Semarak IMABSII Untuk Negeri.

Mahasiswa FKIP UIM IKuti Semarak IMABSII di Padang

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Pengurus Pusat Ikatan Himpunan Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Se-Indonesia (IMABSII) bertempat di STKIP PGRI Padang Sumatera Barat pada Rabu-Sabtu, 20-23 Desember 2017 mengangkat tema “Peran Bahasa dan Sastra Indonesia dalam Membendung Radikalisme dan Terorisme”.

Ketua HIMAPBSI UIM Ade Irma Amrina mengungkapkan, Kegiatan ini menjadi ajang silaturahim antar pengurus lembaga serta penggiat Bahasa dan Sastra Indonesia dari berbagai perguruan tinggi yang ada.

“Kegiatan ini terdiri dari Simposium Nasional, Seminar Nasional, Parade Cinta Bahasa dan Sastra Indonesia, Rembuk IMABSII dan Wisata Budaya” Ujar Irma.

“Kami berharap dengan hadirnya kegiatan ini dapat meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap upaya pengembangan, pembinaan dan perlindungan bahasa, sehingga Bahasa dan Sastra Indonesia dapat membumi di negeri sendiri” Tutup Irma.
Dilaporkan Oleh: Muh. Nur (Humas FKIP UIM)

LATEST NEWS

RANDOM NEWS