Topik: Madrasah

Madrasah Berkembang Pesat, Karena Rutin Curhat dengan Masyarakat

Madrasah Berkembang Pesat
Sartono Kasi Penma Kemenag Balikapapan saat membuka kegiatan Pelatihan Praktik Baik Peran Serta Masyarakat di hotel Swiss Bellin Balikpapan, 10 Januari 2019

Balikapapan, Kaltim, Jurnalpost – Menurut Sartono, Kasi Pendidikkan Madrasah Kemenag Balikpapan, peran komite dan masyarakat sangat sentral dalam pengembangan sekolah. Bahkan ia menegaskan komite adalah ruh sekolah. “Tanpa bantuan komite, madrasah yang dulu saya pimpin tidak pernah semaju saat ini. Komite telah menggerakkan masyarakat menyumbangkan dana, pemikiran dan tenaga untuk membantu madrasah kami berkembang,” ujarnya ketika membuka Pelatihan Praktik Baik Peran Serta Masyarakat yang diadakan oleh Tanoto Foundation bekerjasama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dan Kemenag Balikpapan untuk para komite, kepala sekolah, dan guru dari 16 SD/MI mitra Tanoto Foundation Balikpapan.

Pentingnya peran serta masyarakat juga telah dirasakan oleh Gunanto Kepala Madrasah MI Nahdatul Ulama Balikpapan. Menurutnya madrasahnya berkembang pesat karena pergerakan komite yang massif untuk menggerakkan masyarakat mendukung madrasah.

Untuk menggerakkan masyarakat dan komite sekolah agar mau membantu sekolah dengan baik, menurut Gunanto ada dua hal utama yang harus dilakukan,”Pertama adalah transparansi. Saya selalu melaporkan pemasukan dan pengeluaran sekolah, bahkan sampai gaji para guru saya laporkan ke komite sekolah, komite atau paguyuban kelas dan masyarakat. Kedua adalah sifat rendah hati dan menunjukkan kemajuan dan prestasi,” ujarnya.

Pak Gunanto memiliki cara sendiri agar bisa melaporkan perkembangan sekolah ke masyarakat dan memantik keperdulian mereka yaitu lewat lewat pertemuan yang di dalamnya berisi laporan dan diskusi perkembangan sekolah, pengajian, arisan dan penggalangan dana yang diadakan setiap bulan sekali di musholla sekolah.

“Setiap bulan sekali, saya curhat terhadap semua anggota komite dan masyarakat tentang masalah-masalah madrasah, melaporkan semua pemasukan dan pengeluaran, alokasi-alokasinya dan mana-mana yang masih dibutuhkan bantuan masyarakat. Dengan keterbukaan tersebut, masyarakat menjadi tahu mana yang masih butuh bantuan mereka. Pengajian yang diadakan juga menumbuhkan keperdulian mereka untuk membantu,” tegas salah satu Fasilitator Daerah Program PINTAR Tanoto Foundation ini.

Berkat ‘curhat’ rutin tersebut masyarakat akhirnya tergerak membantu pengadaan buku untuk literasi, pengadaan amplifier, pembangunan tangga dan toilet, dan banyak lainnya.

“Salah satu yang luar biasa adalah peran serta masyarakat saat madrasah mengadakan Muharram Fair MI Nahdatul Ulama kemarin. Siswa-siswa bersama guru kelas dan komite kelas membuat benda-benda prakarya seperti tempat tisu, tempat permen dan lain-lain dari barang bekas. Benda-benda itu dijual pada bazzar siswa dan semua barang laku hingga memberikan masukan untuk kelas,”katanya bangga.

Menurutnya, tiap kelas memperoleh dana masukan 200 sampai 300 ribu karena kegiatan tersebut dan dibelikan untuk alat kebersihan seperti sapu, penghapus dan lain-lain.

Berkat peran yang besar dari masyarakat, tampilan MINU banyak berubah, dan murid yang mendaftar ke MINU juga semakin bertambah. “Kami terpaksa menolak banyak siswa yang mau mendaftar ke sini,” ujar Gunanto

Mengaktifkan peran serta masyarakat juga telah dilakukan oleh MIN 1 Balikpapan untuk membangun pagar madrasah tersebut. “Setelah bertemu komite dan masyarakat, masyarakat secara sukarela membantu menyumbangkan semen, batu bata, dan lain,” ujar Agus Hardiyanto, Kepala Madrasah.

“Komite sekolah memiliki fungsi untuk menggerakkan masyarakat perduli sekolah. Komite harus benar-benar memahami fungsi dan perannya. Selama ini saya lihat beberapa komite hanya ditunjuk dan kurang mengetahui tugas-tugasnya,” ujar Mukiran Kabid pembinaan Sekolah Dasar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Balikpapan yang baru diangkat akhir bulan 2018.

Baik Sartono maupun Mukiran menyatakan apresiasinya terhadap Tanoto Foundation yang telah memperhatikan komite dengan memberikan mereka pelatihan khusus. “Baru kali ini ada pelatihan khusus untuk komite, saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Tanoto Foundation. Semoga mereka semakin tahu fungsi dan tugasnya” ujar Sartono.

Ingin Sukses Kembangkan Madrasah, Bacalah Buku Terbitan USAID dan Kemenag Ini

Jakarta, Jurnalpost – Kementerian Agama bekerja sama dengan USAID melalui program PRIORITAS (Prioritizing Reform, Innovation and Opportunities for Reaching Indonesia’s Teachers, Administrators and Students) menerbitkan buku praktik yang baik dalam pembelajaran, manajemen, budaya baca dan pelayanan khusus di madrasah ibtidaiyah (MI) dan madrasah tsanawiyah (MTs). Buku ini berisi pengalaman para guru dan kepala madrasah dalam menerapkan manajemen sekolah dan pembelajaran berkelas dunia di madrasah.

Buku ini berisi banyak cerita praktik pembelajaran aktif yang mempu membuat siswa menghubungkan pengetahuannya dengan kebutuhan praktis kehidupan sehari-hari. Dengan demikian siswa mampu berpikir tingkat tinggi. Seperti yang dilakukan Pak Akidin, guru matematika MTsN 2 Tangerang yang mengajak siswa kelas IX membuat miniatur madrasah dalam bentuk tiga dimensi untuk menerapkan konsep kesebangunan, perbandingan senilai, pengukuran, dan bangun ruang sisi datar.

“Pembelajaran praktik dengan model pembelajaran aktif demikian membuat siswa mampu mengetahui konsep kesebangunan sekaligus berpikir mengasoisiasikan dengan praktik di dunia nyata. Dari pembelajaran ini, siswa bisa belajar langsung menerapkan konsep matematika dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Stuart Weston, Direktur USAID PRIORITAS menjelaskan salah satu isi buku praktik yang baik, di Jakarta, Kamis (13/7/2017).

Pengalaman manajemen MIN Pattiro Banggae, Takalar, Sulawesi Selatan, yang diulas dalam buku ini juga patut dicontoh. Mereka menerapkan transparansi dan akuntabilitas anggaran, serta melibatkan peran serta masyarakat dalam pengelolaan program madrasah. Misalnya, mereka memasang papan keuangan besar-besar sehingga semua orang tahu biaya dan pengeluaran madrasah ini. Berbagai strategi manajemen yang diterapkan madrasah ini telah memantik partisipasi masyarakat untuk terlibat dalam pengembangan sekolah. Berkat kepemimpinan pak Zulfikah, pembelajaran aktif dan budaya baca juga diterapkan secara aktif di madrasah ini.

Ada juga cerita dari MIN Sumurrejo, Semarang, Jawa Tengah, yang mendirikan pondok baca sebagai pusat kendali program pembudayaan membaca setiap hari di madrasahnya. Madrasah ini berupaya membentuk ekosistem cinta membaca baik melalui keteladanan, komunitas, program pembiasaan, pembelajaran literasi, dan fasilitas membaca. Orang tua juga difasilitasi layanan membaca dan diberikan pemahaman pentingnya membaca. Dampak dari program ini, kesenangan siswa membaca telah tumbuh baik. Dalam satu semester ada siswa kelas IV, V, dan VI yang membaca lebih dari 100 buku. Seperti Rizki siswa kelas V yang telah membaca sebanyak 152 judul buku dan mendapat penghargaan dari madrasah.

“Buku praktik yang baik ini diharapkan dapat memberikan motivasi dan inspirasi bagi kabupaten/kota, guru, kepala madrasah, dan praktisi untuk meningkatkan mutu pendidikan di madrasah,” kata Dirjen Pendidikan Islam, Kemenag, Prof Dr Kamaruddin Amin dalam sambutannya pada buku tersebut.

USAID PRIORITAS selama lima tahun (2012-2017) telah melatih lebih dari 7.000 MI dan MTs mitra di tujuh provinsi yaitu Aceh, Sumatra Utara, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan, untuk menerapkan praktik yang baik dalam pembelajaran, manajemen, dan budaya baca. Penerbitan buku ini untuk menyebarluaskan praktik-praktik yang baik di madrasah dan akan didistribusikan ke perwakilan kantor Kemenag provinsi di seluruh Indonesia. Buku dan berbagai dokumen praktik baik yang lain juga dapat diunduh melalui situs www.prioritaspendidikan.org

LATEST NEWS

RANDOM NEWS