Topik: Kalimantan Timur

Begini Cara Guru ini Mendidik Siswa Agar Berpikir Ilmiah Semenjak Dini

Mendidik Siswa Agar Berpikir Ilmiah
Siswa melakukan pengamatan dan menulis hasil pengamatan selama pembelajaran

Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Jurnalpost – Sekolah-sekolah yang menciptakan lingkungan berpikir ilmiah, akan membuat siswa semenjak dini terdorong suka bertanya, berpikir kritis dan suka melakukan percobaan-percobaan. Selain itu, mereka juga lebih cakap dalam mengomunikasikan nalar berpikirnya, lebih suka membaca, menulis dan bahkan membuat model-model karya siswa sendiri, mengadopsi atau mengembangkan dari yang sudah ada.

Mengutip penelitian Rachel Goldman, Khundori Muhammad, Spesialis Pembelajaran Sekolah Dasar program PINTAR Tanoto Foundation Kaltim mengatakan bahwa penciptaan lingkungan semacam ini tak bisa dicapai dengan model pembelajaran ceramah, tapi pembelajaran aktif.

“Berdasarkan penelitian Goldman, baik siswa sekolah dasar maupun kelas menengah kebanyakan sebenarnya tak menyukai pembelajaran model ceramah. Metode pembelajaran yang lebih menarik adalah yang interaktif. Metode ini juga lebih menunjang penciptaan lingkungan yang berpikir ilmiah,” ujarnya.

Tanoto Foundation bersama Dinas Pendidikan dan Kemenag berusaha mendorong sekolah menciptakan suasana ilmiah di kelas dengan melatihkan guru metode pembelajaran aktif dengan pendekatan MIKIR (Mengalami, Interaksi, Komunikasi dan Refleksi). Salah satu yang sudah konsisten untuk melakukannya adalah ibu Kurnia Astuti, guru kelas IV SDN 003 Tenggarong, Kutai Kartanegara.

Untuk membuat siswa menjadi kritis dia awali dengan menumbuhkan kemampuan dan kebiasaan bertanya. Pada saat pembelajaran tentang daur hidup hewan. Bu Kurnia menyuruh siswa kelas empat yang diasuhnya membaca senyap terlebih dahulu bacaan dari internet yang sudah dia print.

Setelah selesai, ibu Kurnia membagi dadu pada para 8 kelompok siswa di kelas tersebut. Masing-masing kelompok siswa terdiri dari 4 – 5 orang. Kalau dilempar dan yang muncul dadu satu berarti kelompok harus menyusun pertanyaan dengan awalan apa, dadu dua siapa, tiga dimana, empat kapan, lima mengapa dan enam bagaimana, berdasarkan bacaan yang sudah dibaca.

“Kemampuan bertanya mereka menjadi makin terasah karena sering saya lakukan seperti ini. Mereka bermain sambil menyusun kalimat untuk menanyakan lebih jauh, kadang bahkan diluar teks,” ujar bu Kurnia. Kurnia berharap dengan model demikian, lama-lama siswa terbiasa membuat hipotesis.

Pertanyaan tersebut oleh ibu Kurnia kemudian dilempar ke siswa yang lain untuk dijawab. Fungsi ibu Kurnia adalah menguatkan jawaban yang dilakukan oleh siswa.

Melakukan Observasi dan Melaporkan

Pendidikan modern juga menuntut siswa tidak sekedar mengetahui, memahami dan menerapkan apa yang diketahuinya, tapi juga mampu menganalisis, mengevaluasi dan lebih jauh lagi mengkreasi. “Sejauh ini, model ceramah hanya membuat siswa pada tingkat mengetahui, tidak sampai pada analisis, evaluasi, apalagi mengkreasi, padahal era industry 4.0 yang segera hadir di hadapan kita butuh manusia-manusia kreatif” ujar Khundori.

Untuk mencapai kompetensi tersebut dalam pembelajaran tentang daur hewan, ibu Kurnia, meminta para siswa membawa jentik nyamuk, kucing dan beberapa hewan lain. Para siswa diminta langsung mengamati hewan tersebut sambil diajak membedakan antar siklus hidup nyamuk dan ikan. Anak-anak diajak untuk membedakan antara hewan yang tidak bermetamorfosis dan bermetamorfosis.

“Idealnya penelitian ini dilakukan beberapa hari, namun dengan cara membuat siswa mengamati, membuat pertanyaan dan mencoba menjawab sendiri, anak-anak dikondisikan untuk suka meneliti semenjak dini,” ujar Kurnia.

Untuk melatih kecerdasan motoriknya, ibu Kurnia juga meminta siswa menggambar hewan yang diamati. Mereka juga diminta melaporkan di depan kelas hasil pengamatan beserta gambar yang sudah mereka lukis. “Anak-anak saya biasakan juga tampil ke depan, karakter percaya diri penting untuk menghadapi persaingan hidup ke depan,” ujarnya.

Menurut Mustajib, Spesialis Komunikasi Tanoto Foundation Kaltim, tidak ada penemuan-penemuan besar, kecuali dihasilkan dari penelitian-penelitian. “Anak-anak yang semenjak dini dikondisikan untuk suka meneliti, besarnya akan lebih kreatif dan inovatif. Guru juga harus mampu membuat siswa berpikir secara logis selama mengamati dengan membuat pertanyaan-pertanyaan panduan yang mendorong siswa melakukan pengamatan lebih detail dan menemukan pengetahuan sendiri,” ujarnya.

Menurut Kurnia, siswa menjadi lebih antusias belajar dengan model yang ia terapkan sekarang, dibanding dengan model ceramah. “Sekolah memang harus menjadi Taman Siswa. Siswa belajar dengan bermain, tidak diceramahi dan itu yang saya sedang terapkan di kelas,” ujarnya bangga.

Semenjak bulan Oktober 2018, Tanoto Foundation bersama Dinas Pendidikan dan Kemenag Balikpapan dan Kutai Kartanegara, Universitas Mulawarman dan IAIN Samarinda telah melatih pendidik di 66 sekolah mengenal pembelajaran dengan pendekatan MIKIR. “Semoga darurat pendidikan di Indonesia bisa terpecahkan dengan banyaknya guru yang menerapkan model pendekatan ini,” ujar Khundori menutup.

Ketika Kucing, Merpati dan Ikan pun Masuk Kelas

Ketika Kucing, Merpati dan Ikan pun Masuk Kelas
Para siswa kelas IV MIN Balikpapan mengamati ikan dan bertukar ide gagasan tentang bagian-bagian tubuh dan fungsinya

Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan MIKIR atau Mengalami, Interaksi, Komunikasi dan Refleksi telah dikenalkan oleh program PINTAR Tanoto Foundation. Program yang bekerjasama dengan Dinas Pendidikan dan Kemenag ini mencoba memasukkan unsur-unsur soft skill yang amat penting dimiliki murid agar bisa menghadapi era industry 4.0 yaitu kemampuan berpikir kritis, berkreasi, berkomunikasi, berkolaborasi dan tampil percaya diri. Nah bagaimanakah pelaksanaannya di kelas? Akan tergambar sedikit dalam pembelajaran yang dilakukan ibu Wiwik Kustinaningsih, Guru kelas IV MIN 1 Balikpapan.

Balikpapan, Kalimantan Timur Jurnalpost – Biasanya kalau mengajar tentang hewan dan fungsi-fungsi tubuhnya, ibu Wiwik Kustinaningsih cuma pakai buku paket, atau media-media gambar saja.

Namun setelah ikut pelatihan di Tanoto Foundation, ia memiliki ide yang baru. Ia ingin pembelajarannya untuk kelas 1V yang diasuhnya jadi benar-benar kontekstual dan sangat menyenangkan. Ia ingin anak-anak langsung mengobservasi objeknya.

“Untuk itu, saya berpesan pada siswa saya agar waktu pelajaran tentang hewan dan fungsi tubuhnya, mereka membawa secara berkelompok hewan yang mereka pilih,” ujarnya.

Ternyata 5 kelompok siswa membawa hewan yang berbeda-beda. Ada yang masih hidup dan ada yang sudah mati. Yang masih hidup seperti kucing, dan burung, dan yang mati seperti ikan bandeng, ikan tongkol dan udang.

Namun agar tumbuh literasi siswa sebelum siswa melakukan pengamatan langsung hewan yang dibawa, mereka diminta membaca terdahulu tentang topik pembelajaran hari itu. “Setelah membaca dan diskusi untuk mengerti garis besarnya, saya minta mereka mengamati secara berkolompok hewan yang mereka bawa dan menuliskan pada lembar kerja tugas hari itu yaitu menyebutkan bagian-bagian tubuh dan fungsinya,” ujarnya menerangkan.

Ternyata siswa sangat antusias mengerjakan tugas tersebut. “Sangat jauh bedanya kalau kita cuma belajar pakai buku paket. Mereka menulis, berdiskusi dan berbagi ide. Mereka menjadi belajar untuk terlibat diskusi ilmiah yang kreatif, ” ujar bu Wiwik

Dika, salah seorang anggota kelompok hewan kucing menyatakan kesenangannya belajar dengan cara demikian “Belum pernah pembelajaran seperti ini. Kami membawa kucing, hewan yang begitu kami sukai, untuk kami teliti langsung. Kami sambil belajar bisa mengelus-elusnya agar tetap kucingnya senang bersama kami. Saya senang sekali belajar hari ini,” ujarnya

Untuk menumbuhkan soft skill kemampuan berkomunikasi dan percaya diri, Setelah selesai mengerjakan tugas, Bu Wiwik meminta perkelompok mempresentasikan hasilnya kepada kelompok lain. Siswa juga antusias memberikan feed back dan berdiskusi.

“Salah satu keuntungan membawa hewan ke kelas ini adalah siswa menemukan sendiri berbagai macam bagian-bagian tubuh hewan yang berbeda dengan fungsi-fungsi yang berbeda pula. Insang pada ikan, ekor berbulu pada kucing, bulu-bulu pada merpati dan lain-lain sehingga memperkaya pengetahuan mereka,” ujar bu Wiwik

Untuk menguatkan apa yang sudah ditemukan, sebagai kesimpulan bu Wiwik bersama-sama siswa menyebutkan kembali beberapa bagian tubuh dan fungsi-fungsinya secara bersama-sama.

Menurut bu Wiwik ternyata pembelajaran secara kontekstual tersebut sangat menarik. Anak-anak yang dulu beberapanya kurang antusias belajar, kelihatan benar-benar terlibat aktif dalam pembelajaran.

“Kami memiliki group whats app dengan orang tua siswa. Salah satu orang tua selama ini melihat anaknya sangat pemalu, dan kurang percaya diri. Ketika saya kirim foto-foto aktifitas kelompok yang memperlihatkan dia terlibat aktif dalam pembelajaran, dia sangat gembira melihat anaknya jadi pemberani dan terlibat,” ujarnya.

Menurut Khundori, Spesialis Pembelajaran Sekolah Dasar Tanoto Kaltim, Pembelajaran model MIKIR yang dilakukan oleh bu Wiwik perlahan bisa menumbuhkan beberapa soft skill yang amat dibutuhkan untuk mengahadi era Industry 4.0. “Untuk menjadi kreatif, maka dibutuhkan pikiran yang analitis seperti yang telah dicoba kembangkan ibu Wiwik dengan meminta siswa mengamati dan menemukan sendiri pengetahuan. Selain itu, karena era Industry 4.0 itu mesin banyak mengambil alih pekerjaan, salah satu hal yang masih tidak bisa dilakukan mesin adalah kemampuan bekerjasama untuk menghasilkan sesuatu yang kreatif. Hal ini juga telah dilakukan olehnya,” ujarnya.

Khundori berharap, demi memastikan siswa memiliki soft skill demikian, pembelajaran model MIKIR seperti ini diadopsi oleh banyak pihak. “Saat terjadi bonus demografi pada tahun 2030 nanti, anak-anak yang ditumbuhkan kemampuan soft skill semacam itu, akan lebih siap menghadapai persaingan ekonomi. Mereka lebih analitis, kreatif, mampu bekerjasama, dan tampil percaya diri, “ujarnya menutup.

Kisah Inspiratif Kepala Madrasah Tukangi Sendiri Pembangunan Pojok Baca Madrasahnya

Pondok Baca

Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. MIN 1 Kutai Kartanegara mulai bersolek dan tampak lebih nyaman dengan adanya dua tempat yang mungil untuk dijadikan tempat duduk-duduk membaca. Tempat tersebut berbentuk balai dan tempat duduk berpayung yang dibuat dari bambu sederhana, tripleks dan kayu-kayuan. Tertera di salah satu bangunan itu tulisan “Pondok Baca”

Bangunan ini adalah buah karya kepala madrasah, Pak Safriansah (52 tahun), agar anak-anak tertarik membaca. Menyediakan tempat membaca yang mudah dijangkau dan menarik adalah salah satu strategi madrasah tersebut untuk meningkatkan minat baca siswa.

Walaupun sudah berkiprah di madrasah ini selama hampir sepuluh tahun, semangatnya untuk membangun madrasah tetap menyala-nyala. “Saya menukangi sendiri pendirian bangunan ini agar madrasah semakin berkembang dalam segi pembelajaran dan budaya baca,” ujarnya bersemangat. Ide membangun tersebut berasal dari salah satu guru di sekolah tersebut yaitu Pak Azhar, salah satu Fasilitator Daerah Program PINTAR Tanoto Foundation.

“Kalau mau membangun budaya baca, saya setuju, memang harus ada sarana yang mendukung, yang menarik dan menjadi ikon supaya anak-anak tergerak untuk membaca,”ujarnya.

Ia kemudian membuat desain bangunan taman baca tersebut. Setiap selesai jam sekolah, ia pulang kembali ke rumahnya, sholat, makan dan berganti baju seperti buruh kasar, pakai kaos atau baju lain yang tidak lagi memperlihatkan dia sebagai kepala madrasah. Dibantu oleh sekuriti dan cleaning service, ia memotong-motong bambu, menggergaji tripleks dan lain-lain, mewujudkan desain bangunan yang telah ia buat dari jam 2 sampai jam 5.30 sore.

Selama membangun, ia tidak kekurangan bahan-bahan dan juga makanan dan minuman. Para guru ikut menyumbang secara sukarela tambahan biaya yang digunakan untuk membeli cat, paku, makanan dan minuman selama bekerja. Kepala sekolah sendiri juga sukarela mengeluarkan sebagian uangnya untuk pembelian bahan-bahan.

“Agar bangunan ini menarik anak-anak, maka catnya harus berwarna-warni dan tempatnya musti dingin,” ujarnya menerangkan desainnya. Untuk menghasilkan cat yang berwarna-warni, kepala madrasah membeli tiga warna cat yaitu merah, kuning dan hijau dan kemudian sebagian dioplos untuk menghasilkan warna baru.

Setelah dikerjakan kurang lebih empat hari, dua bangunan pondok baca pun akhirnya berdiri. Satunya berbentuk seperti balai-balai lesehan dan satunya berbentuk payung dengan beberapa tempat duduk. Yang seperti balai-balai cukup untuk menampung 20 anak.

Ternyata respon siswa memanfaatkan tempat tersebut baik untuk belajar maupun membaca sangat luar biasa. “Sangat menggembirakan bagi saya. Ternyata anak-anak tiap saat berebutan memanfaatkan tempat tersebut untuk membaca. Para guru juga sering duduk disitu menemani anak-anak membaca,” ujar pria beranak tiga ini sangat gembira menikmati hasil kerjanya.

Melihat respon itu, ke depan, kepala madrasah akan menukangi tiga lagi model bangunan sejenis, supaya anak-anak tidak berebutan. “Saya akan membangun tiga taman baca lagi,” tekadnya.

Selain diluar kelas, kepala madrasah juga telah memerintahkan para guru membuat pojok baca di masing-masing kelas yang diampu. Setiap kelas, oleh karenanya, sekarang ini sudah memiliki pojok baca masing-masing. Orang tua siswa juga telah diminta untuk membantu dalam pengadaan buku-buku bacaan.

“Untuk pengadaan buku lebih lanjut, nanti saya juga minta siswa yang akan lulus menyumbangkan buku pada sekolah. Kalau ada 52 anak didik, setidaknya kita bisa dapatkan buku tambahan sejumlah itu,” ujar kepala kepala Madrasah yang madrasahnya merupakan salah satu mitra Program PINTAR Tanoto Foundation.

Pak Safri merupakan contoh kepala sekolah yang sadar akan pentingnya membangun literasi bagi anak didiknya. Ia mencontohkan pada guru-guru di sekolahnya dengan langsung berbuat, sehingga guru-guru tergerak untuk melaksanakan program membaca di kelasnya sendiri-sendiri.

Indonesia saat ini merupakan negara yang tangkat literasinya sangat rendah. Berdasarkan penelitian dari Central Connecticut University tahun 2016 yang lalu, Indonesia berada di urutan ke 60 dari 61 negara yang diteliti. “Semangat yang pak Sapri lakukan, mesti menular ke banyak orang. Rendahnya minat baca di Indonesia adalah masalah yang serius karena menghilangkan potensi pendapatan ekonomi triliunan rupiah. Jika masyarakat Indonesia literate, pendapatan ekonomi pun akan cenderung meningkat dengan pesat,” ujar Mustajib, Communication Specialist Tanoto Foundation Kaltim.

900 Pendidik Kaltim Telah Dilatih Siapkan Siswa Hadapi Era Industri 4.0

Para peserta pelatihan
Para peserta pelatihan manajemen berbasis sekolah di Samarinda alot diskusi tentang manajemen sekolah yang telah mereka pantau

Kalimantan Timur, JURNALPOST – Sebanyak kurang lebih 900 pendidik di Kalimantan Timur, baik dari kalangan guru, kepala sekolah, pengawas, dinas pendidikan, kemenag dan bahkan dosen-dosen perguruan tinggi telah mendapatkan pelatihan Progam PINTAR (Pengembangan Inovasi dan Kualitas Pembelajaran) dari Tanoto Foundation.

Pelatihan yang berlangsung mulai bulan September sampai bulan November 2018 tersebut diikuti para pendidik sekolah dari dua kabupaten mitra program yaitu Balikpapan dan Kutai Kartanegara, dan sekolah mitra dan dosen dari Universitas Mulawarman dan IAIN Samarinda.

Pelatihan tersebut meliputi beberapa aspek, pertama, manajemen berbasis sekolah; kedua pelatihan pembelajaran dan; ketiga pelatihan literasi untuk mengenalkan berbagai stretegi meningkatkan literasi anak didik.

Manajemen berbasis sekolah fokus pada dukungan manajemen terhadap pembelajaran di kelas. Sedangkan pembelajaran yang dikenalkan adalah pembelajaran aktif dengan pendekatan MIKIR atau mengalami, interaksi, komunikasi dan refleksi. Pendekatan ini dikhususkan untuk membekali para siswa memiliki lima kompetensi dasar untuk bisa bersaing di era industry 4.0, yaitu: kemampuan berpikir kritis, berkreasi, berkomunikasi, berkolaborasi dan tampil percaya diri.

“Untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis, dalam MIKIR dilakukan dengan melibatkan para siswa untuk mengamati, mengobservasi dan menganalisis suatu topik khusus dalam mata pelajaran, sampai menyimpulkan secara rasional. Para siswa tidak lagi hanya menerima pengetahuan dari guru lewat ceramah. Mereka mencari sendiri dan menyimpulkan sendiri, tentu dibawah fasilitasi guru,” ujar Khundori Muhammad, spesialis pembelajaran sekolah dasar program Tanoto Foundation Kaltim (18 Desember 2018).

Selama pelatihan, para pendidik juga dilatih untuk membuat pertanyaan tingkat tinggi yang bisa mengarahkan siswa untuk berpikir kritis.

Menurut Khundori, kemampuan berkreasi didorong dengan melibatkan anak-anak untuk menjawab lembar kerja siswa yang mengarahkan siswa untuk kreatif. “Salah satu tujuan pelatihan PINTAR adalah guru mampu membuat pertanyaan yang mendorong siswa berpikir sendiri secara kritis dan kreatif. Selama pelatihan, kami menyaksikan banyak guru belum memiliki kemampuan untuk itu,” tambahnya

Sedangkan untuk membangun kemampuan berkolaborasi, para siswa diarahkan untuk belajar secara berkelompok atau berpasangan, berbagi ide gagasan, dan berdiskusi ilmiah. “Sudah dibuktikan bahwa kerja kolaboratif ilmiah telah melahirkan raksasa-raksasa industri seperti google, whats app dan lain-lain. Raksasa-raksasa Industri tersebut ditemukan berkat kerja kolaboratif ilmiah, bukan hanya satu orang,” ujarnya kembali

Para siswa juga diasah percaya dirinya dengan banyak kegiatan, diantaranya tampil presentasi di depan kelas.

“Era Industri 4.0 adalah era informasi digital dan era disrupsi yang membutuhkan kompetensi seperti itu. Banyak pabrik besar, yang jatuh karena kurang kreatifitas, dan banyak industry kecil meraksasa karena kreatif mencari peluang memanfaatkan kecanggihan teknologi,” ujarnya lagi.

Penyebarluasan Program secara Mandiri

Program pembelajaran PINTAR telah menarik para pendidik di sekolah untuk menyebarluaskan ke para guru yang belum mendapatkan pelatihan. Sekolah-sekolah tersebut melatih para guru dengan biaya sendiri. Hal ini seperti yang dilakukan oleh sekolah- sekolah di Kecamatan Tenggarong Seberang Kabupaten Kutai Kartanegara yaitu SDN 03, 07, 08, dan 027 yang melibatkan 34 guru, SD 007 Muara Jawa dengan peserta 22 orang, MI Sentra Cendekia Muslim Balikpapan dan lain-lain.

Kemenag Balikpapan juga telah meminta pada Tanoto Foundation melatih 265 guru yang berasal dari 24 madrasah ibtidayah yang akan dilaksanakan pada 5 Januari sampai Februari 2019.

“Karena mereka menganggap pelatihan ini sangat bagus, mereka sukarela membuat pelatihan mandiri. Harapan kita pemerintah nanti mengalokasikan dalam APBD khusus untuk penyebarluasan pelatihan ini, supaya persebarannya semakin massif dan kualitas pembelajaran di daerah mitra meningkat secara merata,” ujar Khundori.

Lahir dari Passion Meningkatkan Kualitas Pendidikan

Anggota Dewan Pembinda Tanoto Foundation, Belinda Tanoto menyatakan semua program ini dibiayai oleh keluarga Tanoto dari uang pribadi mereka atau bersifat filantropis. “Kami membiayai program yang berlangsung di lima provinsi ini secara sukarela karena passion kami yang besar untuk meningkatkan kualitas pendidikan,” ujarnya.

Keinginan kuat untuk melakukan itu karena latar belakang pak Sukanto Tanoto yang terpaksa putus sekolah menengah demi membantu orang tuanya bekerja. “Kami percaya tidak boleh lagi ada yang putus sekolah dan pendidikan yang berkualitas mempercepat kesetaraan peluang bagi semua orang untuk maju berkembang, ” ujarnya.

Sebelumnya sejak tahun 2010, Tanoto Foundation telah menjalankan program peningkatan kualitas pendidikan, atau Pelita Pendidikan. Program ini telah bermitra dengan lebih dari 500 sekolah yang menjangkau 43.000 siswa, serta meningkatkan kapasitas dan kompetensi lebih dari 5.000 guru di tiga provinsi, yaitu Sumatera Utara, Riau, dan Jambi.

PINTAR adalah kelanjutan dan pengembangan program Pelita Pendidikan yang juga dirancang untuk menjawab tantangan sistem pendidikan di Indonesia yang kompleks, di mana Indonesia menempati posisi keempat sebagai negara dengan sistem pendidikan terbesar, setelah China, India, dan Amerika Serikat. Lebih dari 250.000 sekolah tersebar di seluruh Nusantara, serta lebih dari 2,6 juta guru dan 50 juta murid. Program PINTAR diharapkan memberi dampak yang lebih dalam dan menjangkau wilayah Indonesia lebih luas.

Mulai tahun 2018 program PINTAR diperluas ke 14 kabupaten dan kota dan 10 LPTK di 5 provinsi, yaitu Sumatera Utara, Riau, Jambi, Jawa Tengah, Kalimantan Timur, dan akan berkembang ke 30 daerah dan bermitra dengan 810 sekolah pada tahun 2019. Bekerja sama dengan pemerintah, yaitu Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan; Kementerian Agama; Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi; pemerintah provinsi; serta pemerintah kabupaten dan kota; pada 2022 program PINTAR ditargetkan menjangkau 12.000 sekolah di Indonesia.

Jadikan Siswa lebih Inovatif, 194 Pendidik Sekolah Dasar Kukar Mengajar dengan Pendekatan Baru

Jadikan Siswa lebih Inovatif, 194 Pendidik Sekolah Dasar Kukar Mengajar dengan Pendekatan Baru

Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur – Sebanyak 192 guru pengajar, kepala sekolah dan pengawas SD dan MI di Kukar selama tiga hari dilatih mengenal dan mempraktikkan mengajar dengan pendekatan yang relatif baru bagi mereka, yaitu pendekatan MIKIR atau Mengalami, Interaksi, Komunikasi dan Refleksi. Selama ini dalam mengajar, mereka lebih banyak menggunakan pendekatan model klasik ceramah. Pelatihan terbagi dalam dua gelombang, gelombang pertama tanggal 13-15 Oktober, dan gelombang kedua akan dilaksanakan tanggal 16-18 Oktober.

Dalam mempraktikkan MIKIR, para guru mengajar dengan mengarahkan siswa menjadi lebih aktif, inovatif dan komunikatif dengan cara membuat siswa lebih terlibat melakukan percobaan, pengamatan dan pengolahan informasi, berkolaborasi dalam kelompok untuk memecahkan masalah selama percobaan, dan mempresentasikannya di hadapan siswa yang lain.

Ibu Laksmi dari SD 004 yang praktik mengajar di kelas 6 SD 003 Tenggarong tentang rangkaian listrik merasakan hal yang baru selama praktik mengajar. “Selama ini, kami mengajar tanpa banyak perencanaan dan skenario yang baik, dan sering menjadikan siswa hanya sebagai pendengar yang pasif dengan model ceramah. Dengan pendekatan MIKIR, kami lebih mudah menyusun skenario pembelajaran yang membuat siswa menjadi antusias, lebih kreatif dan inovatif,” ujarnya setelah berpraktik, Senin, 15 Oktober 2018.

Para guru yang berpraktik di beberapa sekolah tersebut berasal dari 16 Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah di Kabupaten Kutai Kartanegara yang terpilih menjadi mitra program PINTAR Tanoto Foundation. Agar benar-benar berubah, masing-masing sekolah mengirim rata-rata 12 utusan dan diharapkan ketika pulang bisa menularkan pendekatan tersebut ke guru-guru lain sisanya.

Sebelumnya, Kabid Pendidikan Sekolah Menengah Pertama Kukar, Tulus Sutopo saat membuka kegiatan menyatakan kegembiaraannya atas program pelatihan ini. “Sudah sejak 2013 tidak ada pelatihan bagi para guru disini, sehinga metode mengajar guru kurang terupdate. Pelatihan ini sangat sesuai dengan visi misi daerah ini untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di daerah,” ujarnya.

Selain praktik langsung, untuk menginternalisasi pendekatan baru ini, para guru tersebut nantinya juga akan didampingi beberapa kali saat mengajar di sekolah. Pendampingan tersebut akan dilakukan oleh tim fasilitator daerah program PINTAR dari Kukar yang sudah terpilih sebelumnya.

Program PINTAR atau Pengembangan Inovasi Kualitas Pembelajaran merupakan program yang peluncurannya dilakukan oleh Kemendikbud pada akhir bulan September yang lalu di Jakarta. Program yang awalnya bernama Pelita Pendidikan ini adalah hasil kerjasama antara Kemendikbud, Kemenristekdikti, Pemerintah Daerah dan Tanoto Foundation. Salah satu tujuan program adalah menjadikan siswa selama bersekolah tidak hanya memperoleh pengetahuan yang cukup, tapi juga terasah ketrampilan-ketrampilan hidupnya yang dibutuhkan untuk menghadapai tantangan abad dua satu, yaitu mampu berpikir kritis, mampu bekerjasama dalam lingkungan multikultur, kreatif, inovatif dan komunikatif.

Koinku untuk Buku Gerakan Unik Literasi MTs Negeri 1 Balikpapan

Balikpapan, Kalimantan Timur, Jurnalpost – Tingkat literasi Indonesia yang dalam banyak survei relatif rendah telah memicu pemerintah untuk mengadakan Program Gerakan Literasi Sekolah (GLS) sebagai amanat Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2015 tentang budi pekerti.

Program GLS ini memicu banyak sekolah secara kreatif menempuh berbagai cara meningkatkan minat baca para siswa. Salah satu yang paling menonjol adalah pengadaaan buku yang lebih banyak dan bervariasi. Buku-buku yang banyak dan bervariasi akan membuat siswa tidak kehabisan sumber buku untuk dibaca. Habisnya sumber buku yang dibaca, akan menurunkan minat membaca siswa, bahkan di sekolah-sekolah yang awalnya minat bacanya sudah meningkat.

Untuk mengatasi kekurangan buku menarik dan bervariasi, ada praktik yang baik yang dilakukan oleh MTs Negeri 1 Balikpapan. Salah satu Madrasah Tsanawiyah terbaik di kota ini.

Madrasah yang merupakan salah satu mitra program Pelita Pendidikan Tanoto Foundation ini, memiliki banyak siswa. Jumlahnya lebih dari 800 orang. Tiap jenjang kelas memiliki rata-rata 8 kelas.

Menurut Ibu Umi Putri Ibalia, kepala perpustakaan madrasah, minat baca siswa cukup tinggi di madrasah tersebut, sayangnya buku di perpustakaan terbatas. Kebanyakan buku yang ada adalah buku-buku paket pelajaran. Kurang banyak buku yang bisa menarik siswa membaca.

Untuk terus menjaga dan bahkan meningkatkan minat baca lebih jauh, perlu terobosan pengadaan buku. Dana dari sekolah sangat terbatas karena masih banyak kebutuhan lain yang harus dibiayai.

Didukung Aliansi Bikers Sosial Balikpapan, ibu Umi mengadakan terobosan program yang ia sebut dengan nama “Koinku untuk Buku”. Program ini bertujuan mengumpulkan infaq koin sebanyak-banyaknya dari siswa untuk menambah koleksi buku perpustakaan. Koin yang sudah terkumpul kemudian diserahkan ke Aliansi Bikers Sosial Balikpapan untuk pembelian buku.

Aliansi Bikers Sosial Balikpapan adalah komunitas biker yang aktif melakukan program Gemar Membaca di masyarakat, misalnya mengadakan program Lapak Gemar Membaca di Lapangan Merdeka, Pustaka Baca Keliling, Kampung Baca dan lain-lain.

“Kerjasama dengan gerakan literasi yang tumbuh dari masyarakat seperti Aliansi Bikers Sosial ini sangat mengutungkan. Selain memperluas jaringan, Harga per bukunya kalau beli dari mereka, lebih murah dibandingkan dengan membeli dari toko buku,” ujar ibu Umi (27 Agustus 2018)

Berdasarkan persetujuan dengan sekolah, program “Koinku untuk Buku” dilakukan tiap bulan sekali. Biasanya pada Senin awal bulan, setelah selesai upacara. Para siswa yang telah ditunjuk khusus berkeliling ke semua peserta upacara membawa kotak infak. Minggu sebelumnya para siswa tersebut dihimbau membawa koin yang dibutuhkan.

“Kita lakukan sekali saja sebulan, karena senin-senin berikutnya diadakan kegiatan yang sama, tapi untuk kebutuhan yang lain, “ ujarnya.

Program dimulai pada awal bulan Maret 2018 dan sampai bulan Agustus terlaksana sebanyak dua kali. “Banyak ujian, hari libur dan kegiatan lain sehingga pelaksanaannya tidak memungkinkan diadakan tiap awal bulan,” ujar bu Umi.

Total infak dihasilkan dari dua kali kegiatan tersebut kurang lebih 1,5 juta. Dana itu kemudian diserahkan ke Aliansi Bikers Sosial Balikpapan untuk dibelikan buku-buku yang menarik yang ternyata siswa sangat senang membacanya; buku cerita, buku motivasi diri dan sebagainya.

“Perintah membaca itu perintah yang pertama kali turun kepada Nabi. Ini menyiratkan betapa pentingnya gerakan literasi. Demi amanat itu, kami berharap tidak cuma hari Senin saja siswa menyumbang, tapi kapan saja kalau dia mau. Kalau masyarakat mau ikut berpartisipasi secara meluas, kami juga sangat bersyukur,” ujar ibu Umi.

Didampingi Dr. H. Sartono, MM Kasi Pendidikan Madrasah Kemenag Balikpapan, Stuart Weston, Direktur Program Pelita Pendidikan Tanoto Foundation, yang baru-baru ini melakukan kunjungan ke sekolah tersebut menyatakan ketertarikannya dengan program kreatif ini. Ia bahkan ikut mengisi wadah infaq koin tersebut.

“Sebuah madrasah atau sekolah yang siswanya rajin membaca, akan sangat berbeda dengan sekolah yang siswanya tidak banyak membaca. Banyak membaca akan lebih memicu munculnya kreatifitas-kratifitas, membuka lebih banyak potensi mereka untuk lebih pintar dan berwawasan,” ujarnya.

Sartono sendiri berharap program Koinku untuk Buku ini bisa ditiru oleh madrasah-madrasah lain. “Kita mendorong program seperti ini tersebar juga di madrasah-madrasah di kota ini,” ujarnya.

Menurut Stuart Weston, Program Pelita Pendidikan yang diprakarsai oleh Tanoto Foundation hadir di Kaltim untuk memperkuat inisiasi-inisiasi kreatif program peningkatan minat baca seperti yang dilakukan ibu Umi ini.

“Program Pelita Pendidikan akan mendorong sekolah mengembangkan berbagai kegiatan literasi sesuai dengan kondisi dan kebutuhan sekolah. Diantara program yang akan dilakukan adalah mendorong sekolah mengadakan kegiatan mendekatkan buku dengan siswa seperti pengembangan sudut baca, taman baca dan lain-lainnya dan membiasakan siswa membaca tiap hari lewat program membaca 15 menit sebelum pembelajaran,” ujar Stuart Weston.

- Advertisement -

LATEST NEWS

RANDOM NEWS