Royal Golden Eagle Meningkatkan Taraf Hidup Petani Kelapa Sawit Swadaya

0
135
Royal Golden Eagle
Source: Inside-rge.com

JURNALPOST – Petani menjadi bagian penting dari operasional Royal Golden Eagle (RGE). Sadar akan hal tersebut, RGE berusaha keras untuk meningkatkan kualitas hidup petani yang menjadi mitra, salah satunya dengan petani swadaya.

Petani swadaya merupakan istilah yang ada dalam industri kelapa sawit nasional. Mereka adalah para petani yang mengelola perkebunan kelapa sawit secara mandiri. Petani itu memanfaatkan lahan yang dimilikinya sendiri dan menjalankan tanpa dukungan perusahaan besar.
Saat ini, jumlah petani swadaya cukup besar. Sayangnya banyak di antara mereka yang memiliki taraf hidup yang kurang baik. Pasalnya, hasilnya perkebunan yang dikelolanya tidak maksimal.

Kebetulan kelapa sawit merupakan salah industri yang digeluti oleh Royal Golden Eagle. Mereka memiliki Asian Agri yang berkecimpung di sana. Anak perusahaannya ini termasuk sebagai salah satu produsen crude palm oil terbesar di Asia. Per tahun, mereka sanggup menembus kapasitas produksi hingga satu juta ton.

Asian Agri memiliki sejarah panjang dengan petani kelapa sawit. Mereka menjalankan kemitraan dengan mereka. Ada dua konsep kerja sama yang dijalankan. Pertama ialah dengan petani plasma yang sudah dimulai sejak 1987.

Kemitraan itu membuat anak perusahaan Royal Golden Eagle tersebut menyerahkan pengelolaan 96 ribu hektare dari total 196 ribu hektare lahan kepada petani plasma. Dengan langkah ini, ada 30 ribu keluarga yang mendapatkan manfaatnya. Mereka mendapatkan penghidupan dari mengelola 27 perkebunan Asian Agri.

Selain dengan petani plasma, Asian Agri memiliki kemitraan dengan petani swadaya. Mereka mulai menjajaki kerja sama setelah melihat kondisi petani. Banyak di antara mereka yang memiliki taraf hidup rendah. Gara-garanya adalah penghasilan yang minim berkebun kelapa sawit.

Para petani swadaya banyak yang terjebak ke dalam siklus negatif. Mereka sering kesulitan untuk mendapatkan peralatan atau pupuk yang diperlukan untuk mengelola perkebunan. Mereka pun tidak bisa mendapatkan pelatihan pertanian yang tepat. Hal itu dikarenakan ketiadaan biaya.

Akibat situasi seperti itu, para petani tidak bisa mendapatkan hasil panen kelapa sawit yang maksimal. Kondisi ini berujung terhadap kemampuan ekonomi yang kurang. Alhasil, siklus serupa terulang lagi karena hasil berkebun hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Unit bisnis RGE itu berupaya mengubah situasi tersebut. Mereka mengadakan kegiatan yang dinamai sebagai Desa Sawit Lestari sebagai upaya meningkatkan taraf hidup petani swadaya.

Unit bisnis dari Royal Golden Eagle ini mulai menggulirkan program Desa Sawit Lestari pada 2015. Awalnya ada dua desa yang menjadi perintis, yakni Desa Ukui Dua di Kabupaten Pelalawan dan Desa Petapahan di Kabupaten Kampar.

Di sana Asian Agri menggelar berbagai jenis kegiatan untuk mengangkat hasil perkebunan petani swadaya. Para petani tersebut diajak bekerja sama selama 3 tahun untuk memperbaiki lahan yang dikelola.

Selama ini terungkap fakta bahwa petani tidak tahu cara mengelola perkebunan kelapa sawit yang benar. Mereka tidak memahami praktik bertani berkelanjutan. Hal itu diperparah dengan kesulitan memperoleh akses peralatan yang memadai.

“Banyak dari mereka tidak mengerti bagaimana tata cara mengelola perkebunan yang baik dan benar, maka dari itu kami hadir untuk mengedukasi mereka,” kata Benjamin Hutagalung, selaku Koordinator CSR Asian Agri di Provinsi Riau. “Kami ingin masyarakat desa yang kami bina menjadi mandiri. Sehingga mereka tidak terus-menerus bergantung kepada orang lain”.

Asian Agri menurunkan tim khusus untuk melatih petani swadaya dalam berkebun kelapa sawit. Mereka juga menjadi pendamping sekaligus mentor bagi para petani.

HASIL YANG DIDAPAT

bibit sawit
Source: Inside-rge.com

Selain dukungan dalam bentuk pelatihan, Asian Agri juga membantu hal krusial yang dibutuhkan petani swadaya. Mereka meminjamkan peralatan yang diperlukan untuk mengelola perkebunan. Selain itu, akses ke pupuk dipermudah sehingga hasil perkebunan optimal.

Bukan hanya itu, unit bisnis grup yang lahir dengan nama Raja Garuda Mas ini juga memberikan bibit berkualitas kepada petani swadaya. Mereka tahu bahwa bibit merupakan salah satu komponen penting keberhasilan perkebunan. Jika kualitas bibit minim dipastikan hasil panen bakal buruk. Begitu pula sebaliknya.

Unit bisnis Royal Golden Eagle ini kemudian memberikan bibit Topaz untuk ditanam. Ini merupakan bibit berkualitas hasil pengembangan inovasi tim Riset dan Pengembangan Asian Agri.

Asian Agri memberikan pendampingan dan dukungan selama tiga tahun. Setelah itu, petani swadaya diharapkan sudah paham tata cara pengelolaan perkebunan yang baik, sehingga mampu berkebun secara mandiri.

“Jadi kami memberikan bekal yang cukup kuat kepada para warga desa untuk mereka mengelola perkebunannya secara mandiri,” papar Benjamin.

Kemitraan khusus juga dijalankan oleh Asian Agri. Mereka akhirnya bertindak sebagai perusahaan inti bagi petani swadaya. Dengan itu, petani swadaya bisa menjual hasil perkebunannya kepada mereka. Hal itu amat penting karena petani berarti mendapat harga acuan sesuai standar yang ditetapkan pemerintah.

“Selain itu, mereka juga tidak kebingungan lagi untuk memasarkan hasil perkebunannya, karena ketika masa panen tiba, mereka bisa langsung menjualnya ke Asian Agri,” lanjut Benjamin.

Program Desa Sawit Lestari akhirnya mulai membuahkan hasil. Upaya peningkatan taraf hidup petani swadaya ini memang berhasil mengangkat perekonomian. Itu tidak lepas dari hasil perkebunannya yang meningkat.

“Pendapatan mereka pun meningkat, seiring dengan meningkatnya hasil perkebunan,” ujar Benjamin.

Asian Agri juga menggandeng pemangku kepentingan seperti Pemerintah Desa dalam program Desa Sawit Lestari. Nanti, ada porsi dari setiap pendapatan dari hasil penjualan kelapa sawit yang akan dimasukkan ke kas koperasi unit desa,. Hasilnya nanti bisa digunakan membangun fasilitas desa. Dengan cara ini unit bisnis Royal Golden Eagle itu mampu untuk membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat di wilayah operasi perusahaan.

Kesuksesan ini membuat Asian Agri semakin bersemangat untuk menjalin kerja sama dengan petani swadaya. Pasalnya, banyak petani yang merasakan manfaat positif. Hal ini mendorong mereka untuk menggulirkan program Kemitraan One to One.
Ini adalah upaya bagi Asian Agri untuk menyeimbangkan luas lahan yang dikelola sendiri dengan yang ditangani oleh petani. Sekarang mereka sudah mengelola perkebunan seluas 100 ribu hektare. Sementara itu, ada lahan seluas 60 ribu hektare yang dikelola petani plasma.

Agar seimbang, Asian Agri kemudian menjalin kerja sama dengan petani swadaya. Kegiatan itu ditargetkan dapat mencakup lahan seluas 40 ribu hektare pada 2018.

Namun, Kemitraan One to One bukan hanya menambah luas lahan cakupan. Bagi Asian Agri, ada misi lain yang diusung di baliknya, yakni peningkatan taraf hidup petani kelapa sawit.

“Melalui program kemitraan One to One, kami menempatkan hubungan antara perusahaan dengan petani tidak hanya sebatas penjual dan pembeli. Namun kami turut berfokus pada peningkatan kesejahteraan seluruh petani mitra melalui pendampingan dan praktik-praktik berkelanjutan yang diterapkan oleh para petani,” kata Direktur Corporate Affairs Asian Agri, M. Fadhil Hasan.

Dengan program ini, Asian Agri mampu memberi manfaat kepada pihak lain khususnya petani kelapa sawit. Inilah yang menjadi kewajiban bagi unit-unit bisnis dari Royal Golden Eagle seperti mereka.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here