Profetik Institute Gelar Dialog Eksistensi MEA di Graha Pena Fajar

  • Whatsapp

JURNALPOST.COM – Profetik Institute menggelar dialog merefleksi kembali Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) di Graha Pena Fajar Jl. Urip Sumoharjo sabtu, 20 Februari 2016 dengan mengankat tema “Membangun Ekonomi Insani Menyongsong Masyarakat Insani”.

Ibu Tenry Amriani, SE sebagai moderator dalam dialog ini sempat dia mengupas bahwa kita perlu merefleksikan ulang atau mengambil jarak sejenak dari percepatan ekonomi global khususnya terhadap Masyarakat Ekonomi ASEAN, agar kita bisa memilah, menilai dan memilih manakah aspek dari MEA yang bisa memperkuat ke-manusiaan kita dan mana aspek yang malah mereduksi kemanusiaan kita, karena pada dasarnya Ekonomi memang ada untuk manusia bukan sebaliknya, kata moderator itu.

Muat Lebih

Profetik Institute Gelar Dialog Eksistensi MEA  di Graha Pena Fajar
Profetik Institute Gelar Dialog, Merefleksikan Kembali Eksistensi MEA

Dialog kali ini, diawali dengan prakata dari Direktur Umum Profetik Institute, Muh. Asratillah Senge, ST. Dia menjelaskan bahwa saat ini masyarakat sedang mengalami kebingungan (confuse) dalam menghadapi realitas ekonomi disekitarnya terkhusus MEA, ini ditandai dengan paradoks yang ada.
Di satu sisi publik begitu gandrung dalam menggunakan tafsir ekonomi politik sebagai framing dalam membaca realitas kekinian tapi di satu sisi ada semacam ketakutan terhadap realitas ekonomi pasar, jelas asra.

Maka dari itu dia sangat mengharapkan bahwa perlu melakukan kajian yang cukup mendalam terhadap isu-isu ekonomi kontemporer, jelasnya.

Dalam dialog tersbut ada tiga panelis yang menjadi narasumber. Panelis yang pertama yaitu Abdul Rachmat Noer, SE selaku wakil ketua KADIN Sulsel, dia mengatakan bahwa pada hakikatnya MEA merupakan tantangan bagi masyarakat Indonesia, hal ini dikarenakan bahwa globalisasi ekonomi merupakan sesuatu yang tak terhindarkan, maka dari itu peningkatan kompetensi Sumber Daya Manusia merupakan sesuatu yang mutlak untuk dilakukan, kata rahmat nur.

Ishak Ngeljaratan selaku budayawan Sulsel dan berperan sebagai panelis ke dua dalam dialog tersebut, menegaskan bahwa ada dua poros nilai yang perlu ditegakkan dan dijadikan sebagai fondasi dalam menghadapi perekonomian global, poros yang pertama adalah poros nilai-nilai keadilan yang dalam terminologi budaya bugis makassar diwakili oleh terma “lempu’ ” yang bisa diartikan sebagai kejujuran dan keikhlasan, dan terma “siri’ ” yang dapat diartikan rasa malu jika melakukan kesalahan terhadap sesama. Poros nilai yang kedua adalah poros nilai “rahmat” atau “kasih sayang” yang dalam kosakata budaya bugis makassar diwakili oleh terma “pacce” yang dapat diartikan sebagai rasa malau jika tak melakukan kebaikan terhadap sesama. Bagi pak Ishak jika kedua poros nilai ini bisa diaktualisasikan maka akan tercipta keharmonisan hidup dalam kebersamaan, tegas ishak.

Selain itu yakni panelis pertama Dr. Muh. Sabri. A.R, M.Ag, mengemukakan bahwa tak dapat dipungkiri bahwa kini telah terjadi pergeseran nilai hidup, parameter prestise dan kebudayaan di tengah-tengah masyarakat kita. Ada satu kecenderungan yang menurut dia yang perlu untuk diwaspadai, yaitu kecenderungan era kebudayaan kontemporer untuk mengkomoditaskan segala sesuatu termasuk dalam hal ini mengkomoditaskan (komodifikasi) terhadap manusia. Sehingga seseorang tak lagi dihampiri, didekati sebagai manusia tetapi hanya sebagai objek, benda atau barang. Dengan kata lain terjadi penekanan yang berlebihan terhadap sisi objek-empirik pada manusia dan pengabaian terhadap aspek subjek-maknawi manusia, jelas sabri.

Maka dari itu dia mengharapkan bahwa perlu melakukan penemuan kembali aspek subjek-maknawi manusia yang diabaikan tersebut di tengah-tengah gemuruh roda perekonomian global, tutupnya.(Basri)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *