Politik untuk Kemanusiaan Ala Muhammad Asri Pato

0
306

JURNALPOST.COM, BULUKUMBA — Momentum tahun politik 2018-2019 adalah ajang pertarungan demokrasi di seluruh Indonesia. 2019 adalah pemilihan secara serentak, pemilihan Presiden, DPD RI, DPR RI, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/kota.

Beberapa Partai Politik (Parpol) baik partai baru maupun lama di Kabupaten Bulukumba telah hadir atau dinyatakan lolos dari KPU. Sehingga Parpol tersebut, baik parpol baru maupun lama adalah hadir bersaing demi mendapatkan kursi minimal 1 kursi, karena kursi di DPRD Bulukumba hanya 40 kursi dengan 4 dapil dan 10 Kecamatan.

Parpol itu, sejumlah 15 parpol yang ikut bersaing di Kabupaten Bulukumba dengan persyaratan mengusung Calon Legislatif (Caleg) setiap partai masing-masing 40 caleg dengan 4 dapil itu. Salah satunya Partai baru yaitu Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Nomor urut 11 adalah ikut bersaing di Bulukumba.

Saya Muhammad Asri Pato, selain saya sebagai calon legislatif 2019 juga saya Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PSI Kabupaten Bulukumba. Menghimbau seluruh pengurus PSI dan seluruh caleg PSI agar mengutamakan Politik untuk Kemanusiaan.

Politik untuk Kemanusiaan adalah politik untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa memberikan hak pilih anda adalah hak anda sepenuhnya untuk siapa diberikan. Tapi sebelum anda memberikan hak pilihnya, masyarakat harus paham betul bahwa mana figur yang benar-benar untuk membangun Daerah atau Bangsa dan Negara nantinya ketika terpilih.

Caranya masyarakat mengetahui, bahwa itu figur akan membangun daerah jika dia terpilih. Maka masyarakat harus cerdas melihat terhadap figur bahwa apa figur yang pernah dia perbuat sebelum melangkah sebagai calon legislatif.

Saya berani hadir di publik, bukan bangga dan merasa bahwa pernah berbuat terhadap masyarakat. Tapi biarlah masyarakat dan Tuhan menilai perjuangan kami sebelum terjun ke politik. Sehingga saya harapkan kepada masyarakat, agar tidak memilih caleg yang melakukan money politik.

Sistem politik saya terhadap masyarakat, bukan hadir di rumahnya meminta untuk saya dipilih. Tapi saya hadir, untuk memberikan pemahaman tentang Politik untuk Kemanusiaan, bahwa memilih seorang kandidat atau figur bukan karena materi atau uang, tapi dilihat potensi kandidat. Karena saya sadari, bahwa memberikan uang dan menerima sama-sama dipidana, sesuai yang diatur dalam undang-undang pemilu.

Memilih adalah hak setiap orang, dan tidak ada paksaan bahwa sih A harus dipilih. Saya selaku Caleg, hanya bertugas memberikan gambaran tentang politik, terserah mereka mau pilih saya atau tidak. Kalaupun mereka tersentuh dalam hatinya untuk memilih saya, maka biar siapa yang mempengaruhi untuk tidak memilih saya maka yakin mereka tetap memilih saya.

Persoalan memilih, bukan karena adanya dilihat sehingga kita memilih sih A. Tapi memilih karena dari hati kita, bahwa siapa akan dipilih, karena yakin dan percaya kata hati tidak bisa dibohongi. Jadi siapapun yang melawan kata hatinya, itulah orang tidak bisa tenang dalam kehidupannya, karena orang seperti itu adalah orang pembohong. (*)

Bulukumba, 26 Agustus 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here