Pembangunan Underpass, Kemacetan Simpang Lima Mandai Bandara Internasional

  • Whatsapp

JURNALPOST.COM – Pelaksanaan pembangunan jalan Underpass di Simpang Lima Bandara Internasional Sultan Hasanuddin sudah mulai memasuki pekerjaan pengeboran sejak Minggu (20/3) malam. Akibat pelaksanaan proyek tersebut, kemacetan di lokasi pengerjaan proyek tersebut pun tidak bjsa dihindarkan.

Jalan samping (frontage) yang dibuat di sisi kiri dan kanan jalur utama yang dimaksudkan untuk menjadi jalur alternatif untuk mengalihkan arus kendaraan di lokasi pengerjaan lroyek tersebut pun tidak mampu menampung kendaraan, mengingat di lokasi tersebut memang merupakan jalur pada kendaraan.

Baca Juga

Pembangunan Underpass, Kemacetan Simpang Lima Mandai Bandara Internasional

Untuk meminimalisir atau paling tidak mengurangi kemacetan di lokasi tersebut, kontraktor proyek bersama Satker Jalan Metropolitan Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional (BPPJN) VI Makassar melakukan perubahan untuk pengalihan arus lalu lintas di lokasi pengerjaan proyek Undepass.

Tempat memutar kendaraan dari bandara yang ingin menuju ke jalan tol yang sebelumnya berada di lokasi proyek, dipindahkan lebih jauh. Kendaraan harus memutar di Baddoka.

Kepala Satker Jalan Metropolitan BBPJN VI, Rahman Djamil, mengatakan, sesuai manajemen rekayasa lalu lintas yang sudah diujicobakan sejak Jumat pekan lalu, tempat mutar di lokasi proyek tidak tepat, karena kendaraan yang memutar akan mengganggu laju arus lalu lintas dari kota menuju ke Bandara maupun yang langsung menuju ke Maros.

“Jadi di sana terjadi konflik ketika tetap dibuat ruang memutar di lokasi sebelumnya. Lebih baik kita prioritaskan kendaraan dari kota menuju Bandara atau Maros, sebab mereka biasanya mengejar waktu. Untuk jadwal penerbangan misalnya,” terang Rahman.

Masalah lain dari hasil uji coba yang sudah dilakukan, lanjutnya, yaitu masih rendahnya tingkat kepatuhan pengendara roda dua pada kanalisasi yang telah ditetapkan. Padahal sejak dari oprit ke jalan samping, sudah dibuatkan kanalisasi.

“Di tempat pemberhentian traffic light, kami juga buatkan jalur khusus. Kita maunya antara roda dua dan roda empat itu ada pemisahan. Harapannya, ketika lampu hijau, roda dua bisa cepat bergerak tanpa menganggu arus roda empat,” paparnya.

Sementara itu, Deputy Project Manager Adhi Karya jo Wijaya Karya, Rizki Jatiwasesa, mengatakan, penutupan total sudah dilakukan sejak akhir minggu lalu. Alat berat yang akan melakukan pengeboran pun sudah disiapkan sebanyak tiga unit. Begitu juga dengan bor pile yang akan dipasang.

“Pengeboran sudah berlangsung, dan itu akan terus berlangsung. Rekayasa sudah kita mantapkan. Kita juga dibantu kepolisian untuk pengaturan lalu lintas,” terangnya.

Rizki menjelaskan, jumlah personil kepolisian yang dilibatkan untuk membantu pengaturan arus lalu lintas di lokasi pengerjaan proyek tersebut sebanyak 20 orang personel.

Sewaktu-waktu, lanjutnya, pihak kontraktor bersama petugas kepolisian akan menerapkan sistem manual pada traffic light. Hal itu dilakukan ketika kendaraan sudah menumpuk dan terlalu padat.

“Sambil proses pengerjaannya berjalan, kita akan evaluasi terus rekayasanya. Tetapi untuk pengerjaan pengeboran, kita sudah intenskan,” ujarnya.

Terpisah, Pengamat Transportasi, Lambang Basri, yang juga sebagai ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Sulsel, mengatakan, kemacetan yang terjadi di sekitar lokasi pengerjaan pembangunan Underpass adalah merupakan konsekuensi yang harus diterima oleh masyarakat sebelum bjsa menikmati jalan yang bebas dari kemacetan di lokasi tersebut.

“Setelah melalui beberapa kali kajian dan uji coba rekayasa, yang saat ini dilakukan disana itu adalah yang dianggap paling baik dan paling tepat untuk diterapkan,” kata Lambang.

Menurutnya, satu-satunya cara yang bisa dilakukan untuk meminimalisir kemacetan yang terjadi disana adalah dengan mengoptimalkan dan memfungsikan jalur atau jalan-jalan alternatif dan akses-akses jalan tembus yang ada di sekitar lokasi pengerjaan proyek Undepass.

“Jalan-jalan akses dan jalan tembus yang ada di sekitar lokasi tersebut harus bisa dioptimalkan fungsinya. Seperti jalan Bandara lama, dan jalan sebelah kiri sebelum pasar Mandai yang bisa tembus di Sudiang hingga ke Paccerakkang,” ujarnya.

Lebih jauh, Lambang mengatakan, masyarakat untuk sementara harus bisa bersabar dengan kemacetan yang terjadi di lokasi tersebut, karena proyek itu juga dimaksudkan untuk bisa memberikan akses jalan yang bebas macet kepada masyarakat. (fo)

Disarankan Untuk Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *