Kritik Aktivisme Mahasiswa Oleh: Muhlis Pasakai

Muhlis Pasakai
Muhlis Pasakai

JURNALPOST – Oleh: Muhlis Pasakai (Mantan Ketua MPM Stmik Handayani Makassar), Ketika kekuatan konvensional dianggap tidak sanggup mengatasi kelemahan-kelemahan yang terdapat dalam mekanisme politik formal, maka gerakan sosial menjadi jalur alternatif untuk mendorong perubahan politik dan kebijakan publik.

Gerakan mahasiswa adalah salah satu varian gerakan sosial yang dianggap memiliki kapasitas dalam mempengaruhi kebijakan, mendorong isu-isu tertentu menjadi tema perdebatan publik, bahkan gerakan secara masif dapat berujung pada tumbangnya sebuah rezim.

Mahasiswa yang memotori gerakan di kampus-kampus disebut sebagai aktivis. Aktivis mahasiswa adalah mereka yang kritis dan mampu menggerakkan massa untuk melakukan demonstrasi. Dalam politik dan pemerintahan, istilah aktivis memang diartikan seseorang yang menggerakkan (demonstrasi dsb).

Tak dapat dipungkiri, bahwa peran para aktivis mahasiswa sangat berjasa dalam mengawal perjalanan demokrasi sebuah negara. Karena itu, menjadi aktivis dikalangan mahasiswa adalah sebuah prestasi yang patut diapresiasi sebagai pelaku sejarah di masanya. Namun demikian, menjadi aktivis mahasiswa yang heroik itu, harus ditautkan pada genuinitas nilai-nilai yang diperjuangkan. Mengapa?, agar generasi mahasiswa tidak menjadikan label “aktivis” itu bermetamorfosis menjadi bajakan.

Aktivis mahasiswa biasanya lahir dari proses dinamika kampus dan kondisi politik melalui pengkaderan oleh organisasi-organisasi kemahasiswaan, internal maupun eksternal dengan segenap afiliasinya. Mereka yang memiliki potensi akan berkembang sesuai corak ideologi dan pemikiran yang membentuknya.

Menjadi aktivis mahasiswa memang memiliki daya tarik tersendiri. Biasanya disegani oleh dosen dan birokrat kampus, memiliki prestise khusus bagi mahasiswa yang lain, dan yang paling magnetis adalah akses terhadap pejabat dan elit penguasa yang melahirkan pergaulan papan atas.

Ketidakadilan, penindasan, melawan, pembebasan, adalah kosakata yang melekat dalam kamus seorang aktivis mahasiswa. Itulah doktrin yang ditanamkan seperti chip dalam memori otak sehingga mampu melacak sinyal ketidakadilan, penindasan dan kawan-kawannya itu, layaknya perangkat teknologi jaringan dalam sistem komunikasi digital.

Daya kritis itu akan mendorong untuk melakukan pergerakan dan perlawanan, umumnya dalam bentuk demonstrasi. Karena itu, belum lengkap nampaknya mahasiswa disebut sebagai aktivis sebelum turun ke jalan, orasi, membakar ban, dan teriak-teriak menggunakan toa megaphone, bahkan terkadang merusak fasilitas publik.

Berorasi dan menjadi jenderal lapangan memang sesuatu yang sangat bergengsi, disorot beragam media dan terkesan sebagai pahlawan. Apalagi di republik ini, gerakan demonstrasi mahasiswa menjadi salah satu kebanggaan yang melegenda dalam melengserkan rezim orde baru.

Asupan energi lainnya, ada semacam dogma bahwa para bintang seperti di parlemen adalah mantan demonstran. Inilah yang terkadang mendorong gairah mahasiswa semakin bernyali untuk menjadi “singa jalanan”. Apalagi, selalu disuarakan sebagai hak kebebasan mengeluarkan pendapat yang dilindungi oleh pasal 28E UUD 1945.

Demonstrasi mungkin dianggap hal yang biasa, selama tidak mengganggu. Meskipun sebetulnya demonstrasi itu adalah upaya untuk menganggu aktivitas normal agar dapat menyita perhatian publik. Semakin demonstrasi itu “mengganggu”, semakin cepat, semakin besar dan semakin luas respon yang didapatkannya. Itulah sifat dasar demonstrasi. Mungkin karena itulah, salah satu panggung yang paling diminati para aktivis untuk menyalurkan perlawanannya adalah melalui demonstrasi.

Demonstrasi memang bukan kolektifitas liar berupa anarkisme jalanan, tapi kerusuhan, teriakan kata-kata kasar, perusakan adalah hal yang rentan bahkan terkadang menjadi langganan dalam sebuah demonstrasi.

Demonstrasi dengan berbagai ekses yang ditimbulkannya ini mungkin disebabkan oleh mindset bahwa untuk menjadi aktivis sejati, untuk membentuk diri menjadi figur, terlebih dahulu harus menjadi demonstran.

Sisi lain yang menarik adalah ketika seorang aktivis mahasiswa sangat kritis namun sekaligus “dekat” dengan para penguasa yang selalu dikritiknya, bahkan terlihat sangat bersahabat, mungkin setelah diajak “ngopi”. Hal semacam ini terkadang menjadi sesuatu yang sulit dimengerti pada diri seorang aktivis. Dikhawatirkan, jika menjadi aktivis hanya modus untuk dapat ikut menikmati hidangan kue kekuasaan yang mewah, itulah hedonisme aktivis.

Tak kalah menariknya dalam dunia aktivisme dan pergerakan adalah mendapatkan “panggung” untuk menokohkan diri. Sering tampil membela dan mendampingi orang-orang yang dianggap sebagai korban adalah salah satu cara praktis untuk menjadi figur. Tentu tidak masalah, selama “panggung” itu tidak dipaksa-paksa atau selera penokohannya yang lebih dominan. Jika iya, maka aktivisme itu hanyalah menjadi sirkulasi penokohan untuk menjadi elit, sehingga siklus yang terbentuk adalah demonstran mendemo mantan demonstran. Menjadi aktivis mahasiswa akhirnya diterjemah sebagai cara melenggang ke panggung kekuasaan.

Untuk menjaga semua itu, untuk merawat sakralitas aktivis, maka muatan istilah “aktivis” harus diperkaya.

Aktivis tidaklah harus selalu identik dengan perlawanan frontal, menyuarakan ketidakadilan, mengadvokasi korba-korban penindasan, dan vokal mengkritik sebuah kebijakan.

Mahasiswa yang berorasi dipinggir jalan untuk mengumpulkan donasi terhadap berbagai korban bencana dan solidaritas kemanusiaan juga adalah aktivis yang melakukan perlawanan terhadap individualisme dan keserakahan. Mahasiswa yang bergabung sebagai pegiat literasi juga aktivis yang melakukan pembebasan terhadap penjara kebodohan. Mahasiswa yang melakukan inovasi-inovasi pemberdayaan ekonomi dan wirausaha juga aktivis yang melawan penindasan kemiskinan. Mahasiswa yang aktif bergerak di bidang da’wah juga aktivis yang melawan virus-virus spiritualitas. Mahasiswa yang berkecimpung dalam kegiatan-kegiatan yang memberikan perhatian terhadap sekolah-sekolah dan lembaga pendidikan juga aktivis yang melakukan perang terhadap keterbelakangan. Begitupula dengan mahasiswa dengan aktivitas intelektual di berbagai bidang pemikiran, juga layak disebut sebagai aktivis.

Aktivis adalah orang yang aktif mendorong pelaksanaan sesuatu atau berbagai kegiatan dalam organisasinya, itulah arti aktivis sebagai nomina dalam KBBI, tidak diartikan sebagai demonstran.

Berhati-hatilah menjadi aktivis yang meneriakkan kebebasan, tapi sekaligus memenjarakan kebebasan. Itu dicela dalam as-Shaff: 2, “mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan”. Alih-alih memperjuangkan dan mengurusi orang lain, diri sendiri saja berantakan bahkan mungkin menjadi beban keluarga, miskin nilai keteladanan, kendati aktivisme itu adalah tentang ekspektasi kolektif. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here