31 C
Makassar
Senin, Februari 24, 2020

KKN BV UNAIR di Ponggok Ajak Warga Buat Batik Eco-print

Batik Eco-print

JURNALPOST – Sepuluh mahasiswa Kuliah Kerja Nya Back to Village (KKN-BV) ke-61 Universitas Airlangga (UNAIR) di Desa Ponggok, Kabupaten Blitar ajak warga ciptakan produk inovatif. Produk yang diciptakan berupa batik dengan metode eco-print.

Bahan yang digunakan dalam pembuatannya adalah daun jati dan alpukat. Program pembuatan batik eco-print itu kemudian berkesinambungan dengan program sosialisasi digital business. Tujuan sosialisasi digital business adalah untuk menambah wawasan warga desa ponggok dalam memasarkan produk mereka.

Omega Chrisnes selaku penanggungjawab program batik menceritakan awal mula ide tersebut muncul, yakni desa ponggok memiliki potensi pohon alpukat dan jati. Namun sayangnya mereka belum memanfaatkannya dengan maksimal, lalu tercetuslah ide batik eco-print.

“Fokus utama KKN kami adalah sustainability, yaitu dengan mengutamakan penggunaan bahan di sekitar guna memberi nilai tambah. Dimulai pada tanggal 6 januari 2020, kami melakukan pembukaan di balai desa sekaligus berdiskusi terkait permasalahan di Desa Ponggok bersama kepala desa dan perangkatnya,” ungkapnya (23/1).

Lanjut Omega, menurutnya pembuatan batik eco-print merupakan program unggulan, karena memanfaatkan bahan-bahan yang tersedia di alam. Hal itu membuat warga tidak perlu mengeluarkan biaya besar, karena dapat memanfaatkan sumber alam yang ada sehingga produk unik unggulan pun dapat tercipta.

“Selain mengajarkan dalam membuat batik, kami melakukan sosialisasi digital business guna pemasaran produk. Hal ini kami pilih supaya produk warga Ponggok dapat dipasarkan lebih luas jangkauannya. Selain itu metode pemasaran online merupakan cara yang mudah untuk mengekspos hasil produksi warga,” tambahnya.

Sebenarnya warga Ponggok banyak menghasilkan produk potensial yang dapat bersaing, seperti keripik dan selai nanas. Namun sayangnya warga Ponggok masih kurang paham terhadap pentingnya branding produk. Kebanyakan warga menjual produk mereka pada tengkulak, yang kemudian akan dijual ulang dengan label dari tengkulak tersebut dan tentunya dengan harga yang lebih tinggi.

Hal itu membuat penghasilan produsen yang notabenenya warga desa Ponggok masih rendah, sementara tengkulak-tengkulak mendapat keuntungan lebih tinggi. Sayangnya sejauh ini warga Ponggok tidak mengetahui fakta tersebut dan tetap menjual produk mereka kepada tengkulak. Padahal jika produsen mengerti pentingnya kemasan, label serta dapat menjual produk mereka sendiri, penghasilan mereka pasti akan meningkat drastis.

“Dari permasalahan tersebutlah kami memutuskan untuk giat mensosialisaikan terkait branding, pelabelan, serta pemasaran yang efektif terhadap warga Desa Ponggok. Antusiasme warga sangat positif dalam setiap kegiatan yang kami lakukan, hal ini membuat program kami berjalan dengan baik,” ujarnya.

Harapannya lewat program kerja yang telah terlaksana, warga Desa Ponggok memperoleh wawasan dan pengetahuan baru dalam mengembangkan potensi produk lokal. Selain itu, dengan tema besar sustainability and eco-living, dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa secara berkelanjutan dengan memanfaatkan sumber daya alam di desa.(Penulis: Muhammad Wildan Suyuti)