23 C
Makassar
Kamis, April 9, 2020

Kenali Lebih Detail Sejarah Islam melalui Masjid Agung Surakarta

JURNALPOST – Solo memiliki masjid bersejarah yang pada zamannya sebagai tempat beribadah dan pusat syiar perkembangan Islam. Dengan bentuknya yang menyerupai Masjid Demak, masjid ini menjadi pusat kebudayaan dan tradisi Islam di Solo sampai sekarang. Masjid ini adalah Masjid Agung Surakarta.

Masjid Agung Surakarta
(sumber: indonesiakaya.com)

Yuk, kenali lebih detail sejarah Islam dan hal yang berhubungan dengan masjid agung di Solo ini.

Tempat Penyebaran Islam pada Masa Prakemerdekaan di Solo

Masjid Agung Surakarta atau dikenal juga Masjid Agung Keraton Surakarta dibangun pada tahun 1749. Masjid yang dulunya bernama Masjid Ageng Keraton Hadiningrat ini memiliki fungsi sebagai tempat penyiaran agama Islam.
Pada zaman dulu Masjid Agung Surakarta berfungsi sebagai pusat tempat pelaksana keperluan kasunanan yang berhubungan dengan acara keagamaan, seperti garebeg dan sekaten. Bagian alun-alun Masjid Agung Surakarta difungsikan sebagai sarana raja bertemu dengan rakyat dan pasar tempat kegiatan ekonomi berlangsung.

Arsitektur Masjid Bergaya Tajug Beratap Tumpang Tiga

Masjid Agung Surakarta memiliki kemiripan dengan masjid di Jawa pada umumnya. Masjid ini memiliki desain berupa tajug dengan atap bertumpang tiga. Di samping itu, ornamen mustaka ditambahkan pada puncak masjid. Atap tumpang tiga ini melambangkan kesempurnaan kehidupan yang dijalani oleh orang muslim, yaitu Islam, iman, dan ihsan.

Masjid Bergaya Tajug
(sumber : inibaru.id)

Masjid Agung Surakarta berdiri di lahan dengan luas sekitar 19.180 meterĀ² dan terdapat pagar yang mengelilingi masjid.

Memiliki 5 Bagian Bangunan Masjid

Masjid Agung Surakarta memiliki 5 bagian bangunan: kuncungan, serambi, gapura, menara, dan pagongan.

Kuncungan

Bagian pertama bangunan Masjid Agung Surakarta adalah kuncungan. Kuncungan ini terletak di pintu masuk utama sebelah depan masjid dan berfungsi untuk menyambut tamu.

Serambi

Bagian kedua adalah serambi masjid. Serambi Masjid Agung Surakarta memiliki bentuk persegi panjang dan dibangun pada masa Pakubuwono XII.

Gapura

Bagian ketiga adalah gapura. Gapura ini berfungsi sebagai gerbang utama yang menghubungkan kompleks Masjid Agung Surakarta dengan Alun-alun Keraton Surakarta.

Menara

Menara merupakan bagian keempat dari Masjid Agung Surakarta. Menara ini dulunya berfungsi sebagai tempat untuk mengumandangkan azan. Menara terbuat dari besi yang melingkar dan memiliki 138 buah anak tangga.

Pagongan

Pagongan berupakan bagian kelima dari Masjid Agung Surakarta. Bagian ini merupakan lokasi untuk menaruh gamelan. Saat itu gamelan digunakan sebagai media dakwah ulama untuk mengajak orang-orang mengenal Islam.

Mengalami Berbagai Renovasi

Masjid Agung Surakarta juga sudah mengalami beberapa kali renovasi atau pemugaran. Renovasi yang pertama dilakukan pada tahun 1856 pada masa pemerintahan Pakubuwono IV dan disempurnakan renovasinya pada zaman pemerintahan Pakubuwono X. Pada tahun 1858 Pangkubuwono IV melakukan pemugaran dengan menambahkan pagar yang mengelilingi masjid.

Pada masa pemerintahan Pakubuwono X, menara dan jam matahari dibangun di sekitar masjid. Jam matahari ini memiliki fungsi sebagai penentu waktu salat. Selain itu, pintu masjid diganti dari pintu yang bercorak gapuran bangunan Jawa dengan atap limasan menjadi tiga pintu yang bercorak Timur Tengah.

Pakubuwono XIII juga melakukan renovasi di masjid agung ini. Renovasi berupa pembangunan kolam yang mengelilingi bangunan utama masjid, ruang keputren dan serambi bagian depan masjid. Namun, kolam ini tidak lagi digunakan.

Inilah informasi mengenai sejarah dan kebudayaan Islam di Solo melalui Masjid Agung Surakarta. Kenali lebih dekat tradisi Islam di Solo dengan berkunjung ke Masjid Agung Surakarta. Segera lakukan reservasi hotel syariah di Solo atau cari informasi berbagai penginapan murah di Solo melalui Airy.