Karaengta Institute Bincang Budaya di Graha Pena Fajar

JURNALPOST.COM – Karaengta Institute menggelar diskusi budaya di Aula Mini Graha Pena Fajar Jalan Urip Sumoharjo Rabu, (27/1/2016). Mengangkat tema “Refleksi kearifan, masihkah kita berbudaya” kegiatan ini menghadirkan narasumber Dr. Halilinta Latif (Antropolog), Wawan Mattaliu (Budayawan dan anggota DPRD Sulsel) dan Drs. H. Jufri Rahman, M.Si (Kepala dinas kebudayaan & Parawisata Sulsel). Kegiatan tersebut dihadiri sekitar 50 peserta yang sebagian besar dari berasala dari kalangan pemuda dan mahasiswa.

Karaengta Institute Bincang Budaya di Graha Pena Fajar

Ketua panitia, Ashabul Kahfi menjelaskan bahwa kegiatan tersebut tidak terlaksana atas kerjasama yang padu dari anak muda pecinta budaya. Melalui kegiatan ini katanya, ia berharap dapat membangun kepedulian masyarakat khususnya kalangan muda dalam hal kebudayaan. Kebudayaan adalah karya, ia harus selalu dihidupkan,” jelas kahfi.

Direktur Karaengta Institute, Rizal Pauzi mengatakan bahwa saat ini ketika mahasiswa dibatasi 4 tahun di kampus harus selesai, maka butuh ruang baru untuk mengasah nalar kritis mahasiswa. Olehnya itu dia mengharapkan, Karaenta institute lahir dengan sembuh spirit membangun tradisi literasi dengan lapas Iqra (Membaca). “Karena perjuangan butuh wadah, maka karaengta menjawab itu dengan “Gagasan terbuka” dan tanpa menungungkung dengan mekanisme yang rumit,” tandas rizal.

Sementara Wawan Mattaliu, dalam pemaparan materinya mengungkapkan motto yang biasa yang disampaikan oleh orang dulu yaitu biar lambat yang penting selamat, motto itu katnya, ketika melihat sekarang tidak lagi berlaku, yang berlaku sekaarag adalah bagaimana kegiatan itu cepat selesai tidak dilihat lagi entah kita selamat atau tidak. Menurutnya, Kebudayaan itu harus dijadikan sebagaiidentitas atau nilai yang melekat pada diri setiap manusia.

Senada dengan Wawan, Jufri Rahman, mengemukakan bahwa ada dua nilai ketika bercerita tentang budaya. Pertama nilai injibel, yaitu yang dapat dilihat, diraba, sedangkan yang kedua adalah intenjibel, yaitu nilai yang tidak telihat tapi dibutuhkan. “Olehnya itu ketika dikaitkan dengan budaya ini maka kebudayaan kita tidak bisa diperjualbelikan, tetap diasah dan dijaga seperti juga siri na pacce”.

Dr. Halilintar Latif dia menjelaskan bahwa menurut tema yang diangkat adalah pertanyaan propokator. lanjut dari pada itu bahwa Adat kajang dulunya tidak masuk hp tapi sekarng sudah masuk karna mengikuti arus, karna cepat atau lambat akan beruba, jelasya.

Lebih lanjut sambung Halilintar, “Sekarang malu kalau kita tidak bisa bahasa Inggris, tapi tidak malu ketika kita tidak pintar bahasa Bugis atau bahasa daerahnya, padahal bahasa Inggris adalah budaya orang asing, karna kebudayaan tidak bisa mati budaya itu tetap dipertahankan,” tandasnya.

Dalam kesimpulan diskusi, ketiga pembicara ini mengharapkan agar kebudayaan itu tetap dilestarikan. Budaya tidak boleh terhapus dengan masukya paham-paham orang asing, apalagi saat ini era ekonomi ASEAN, sebuah fakta yang tidak bisa lagi ditolak. (Basri)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here