Jayengan Kampung Permata, Alternatif Wisata Kota Solo

Jayengan Kampung Permata, Alternatif Wisata Kota Solo
Pemilik showroom Yusuf Jewellery sekaligus ketua FJKP, Bapak Yusuf Ahmad Alkaitri sedang menerima pelanggan setia produk permata yang terletak di Jl. Gatot Subroto, Jayengan, Solo pada hari Jumat (05/07/2019). Showroom dibuka untuk transaksi jual-beli permata pada hari Senin-Sabtu, melayani konsultasi pada hari Jumat, dan libur pada hari Minggu.

SOLO, JURNALPOST – Daya tarik Kota Solo bertambah satu lagi, khususnya bagi pecinta batu mulia dengan adanya Jayengan Kampung Permata (JKP). Sesuai dengan namanya, JKP terletak di Jl. Gatot Subroto, Jayengan, Solo. Kampung ini dihuni oleh para pengrajin permata dan perhiasan batu mulia lainnya yang berasal dari Martapura, Kalimantan Selatan. Kedatangan para pengrajin Martapura ini dikarenakan adanya permintaan dari Keraton Solo untuk membuat perhiasan bagi keluarga istana. Akhirnya, banyak dari para pengrajin yang menetap dan beranak pinak di Jayengan sejak abad ke-19. Para pengrajin ini kemudian membentuk home industry yang hingga saat ini masih dipertahankan oleh generasi penerusnya dan membetuk Forum Jayengan Kampung Permata (FJKP).

FJKP hadir sebagai wadah bagi para pengrajin home industry untuk meningkatkan peluang dan jaringan bisnis. Diketuai Bapak Yusuf Ahmad AlKatiri yang sekaligus pengusaha berlian, FJKP mampu menarik perhatian Dinas Pariwisata dan Dinas Perdagangan Kota Solo dengan menetapkannya sebagai salah satu ikon industri kreatif Kota Solo dan meresmikan Jayengan Kampung Permata sebagai destinasi wisata pada Oktober 2015 lalu. Bapak Yusuf mengaku senang karena selain mendapat perhatian dari pemerintah, FJKP juga mendapat bimbingan dari akademisi Universitas Sebelas Maret (UNS) dan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) hingga tercipta grand design Gedung Jayengan Kampung Permata.

“ Kebetulan saat itu ada tim dari UNS yang dipimpin oleh Ibu Winny Astuti, yang mengajukan diri untuk menjadi tim pendamping desain gedung, sedangkan untuk fisiknya, kami mendapat bimbingan dari tim UMS yang dipimpin oleh Bapak. Qomarun . Akhirnya saya terima dengan senang hati karena saya merasa terbantu untuk mengembangkan visi ke depannya.”

Dengan kerjasama ini, FJKP tengah merintis gedung dua lantai yang akan menjadi pusat aktivitas pengrajin batu mulia di Jayengan. Lantai pertama akan digunakan sebagai showroom alias galeri yang dapat mengakomodasi kegiatan jual-beli permata karya pengrajin asal Jayengan. Uniknya, konsep ini akan dipadukan dengan wisata kuliner sehingga pembeli dapat lebih nyaman dalam melakukan transaksi. Di lantai kedua, pengunjung dapat melihat proses pengolahan batu mulia sekaligus berinteraksi secara langsung dengan para pengrajinnya.

Tidak hanya berlian, FJKP juga beranggotakan UKM pengrajin perhiasan jenis lainnya, seperti Nasrina Silver, sebuah toko perhiasan di Jayengan, yang memiliki spesialisasi pada perhiasan perak, perunggu serta imitasi. Tim kami mendapat kesempatan untuk melihat langsung proses pembuatan aksesoris pengantin Jawa seperti timang, tusuk konde, dan bros yang menjadi produk unggulan Nasrina Silver.

Jayengan Kampung Permata
Adi, salah satu karyawan Nasrina Silver sedang membuat tusuk konde. Pembuatan satu tusuk konde ini membutuhkan waktu selama 3-4 hari.

Menurut penuturan Adi, salah satu pengrajin perhiasan untuk Nasrina Silver, mengaku bahwa batu yang dipergunakannya untuk untuk membuat tusuk konde berasal dari pengrajin setempat. Pemilik Nasrina Silver, Bapak Wawan pun menyatakan bahwa Nasrina Silver merupakan salah satu anggota FJKP yang telah menempati gedung sementara realisasi grand design Jayengan Kampung Permata.
“ Setelah empat tahun diresmikan, kami butuh proses ya, jadi untuk saat ini pembangunanya masih dilakukan secara bertahap, salah satunya gedung yang ditempati oleh lima toko di Jl. Jl. Gatot Subroto tadi”

Di akhir wawancara, Pak Wawan pun menyatakan harapannya agar grand design Jayengan Kampung Permata selesai setidaknya pada tahun 2022 sehingga dapat segera menjadi sarana jual-beli batu mulia, destinasi wisata hingga edukasi masyarakat.

Citizen Journalism : Mutiara Firsty Linggar Nagisa Al-Asyifa

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here