30 C
Makassar
Kamis, April 2, 2020

Bullying di Kalangan para Pelajar

Bullying

JURNALPOST – Siapa yang tidak kenal dengan istilah bullying? Yah, bullying merupakan perilaku seseorang yang melakukan sesuatu terhadap orang lain dan menyebabkan orang tersebut merasa terhina atau merasa tersakiti. Perilaku bullying yang sering terjadi dikalangan para pelajar biasanya antara lain bullying fisik, bullying verbal, bullying relasional dan bullying elektronik. Bullying kata-kata yang sudah tidak asing lagi di telinga kita dan nampaknya hampir semua orang tahu tentang bullying, namun masih banyak pelaku bullying yang belum sadar khususnya di kalangan para pelajar.

Bullying dilakukan oleh para pelajar dikarenakan mereka sedang menginjak masa remaja atau masa-masa goncangan, dimana pada fase tersebut perkembangan emosi sedang melonjak, labil, dan masih mencari jati dirinya. Karena masa-masa tersebut merupakan suatu fase perkembangan antara masa dewasa dan masa anak-anak hingga mereka masih berpikiran negatif dan belum berpikiran luas tanpa memperdulikan sekitar mereka.

Bullying sering kali terjadi dilingkungan institusi pendidikan seperti di sekolah ataupun di perguruan tinggi. salah satu contoh bullying fisik dikalangan para pelajar yaitu saat penerimaan siswa baru (MOS) dimana kakak tingkat sebagai panitia melakukan kekerasan kepada para siswa baru. Contoh perilaku bullying verbal yaitu perilaku yang dilakukan dengan mengucapkan sesuatu yang kasar, menyakiti, atau menghina seseorang atau teman mereka. Contoh perilaku bullying relasional seperti mengucilkan atau mengintimadasi teman kelas mereka yang memiliki kondisi fisik tertentu dalam kelas. Contoh bullying elektronik memiliki kesamaan dengan bullying verbal akan tetapi bullying elektronik melakukan proses bullying di media sosial seperti melakukan komentar di foto teman atau orang lain dengan kata-kata yang sangat kasar dan menghina.

Mungkin kita bertanya-tanya, apa saja faktor pada anak yang menjadi penyebab mereka melakukan tindakan bullying di sekolah? Faktor individu (biologi dan tempramen), faktor keluarga, teman sepergaulan, sekolah dan media. Gabungan faktor individu, sosial, risiko lingkungan, perlindungan berinteraksi dalam menentukan menentukan tindakan bullying. Anak yang sebagai korban bullying akan mengalami gangguan psikologis dan fisik, lebih sering mengalami kesepian, kesulitan dalam mendapatkan teman, dan takut untuk kembali bersekolah. Sedangkan anak sebagai pelaku bullying cenderung memiliki nilai rendah.

Siswa yang menjadi korban bullying biasanya termasuk anak yang pintar, cerdas atau mungkin memiliki kehalian yang membuatnya sering dipuji. Pelaku perundungan bisa merasa minder atau iri dengan keahlian anak tersebut.

Anak-anak yang disukai oleh siswa-siswi lain juga kerap menjadi sasaran bullying di sekolah. Pelaku bullying kerap merasa terancam dengan popularitas yang dimiliki oleh korban. Jenis bullying ini disebut dengan agresi relasional yang cenderung sering dilakukan oleh geng murid perempuan yang popular terhadap anak perempuan lain.

Bullying di sekolah merupakan hal yang nyata, apabila anak menjadi korban bullying ada beberapa langkah yang perlu dilakukan untuk membatu korban bullying seperti mengekspresikan kepedulian kita, menyampaikan bahwa menjadi korban bullying di sekolah bukan kesalahan anak, meminta bantuan kepada pihak sekolah, dan mencari bantuan psikologi atau psikiater jika kondisi sang anak sangat parah karena memngalami bullying.

Perundungaan atau bullying di sekolah merupakan keadaan serius yang harus kita tangani. Apabila dibiarkan, anak akan tidak bersemangat ke sekolah untuk belajar sehingga performa akademiknya akan menurun.

Membiarkan anak terus di bully juga akan membuat ia rentan untuk menderita gangguan mental seiring dengan tumbuh kembanganya si anak tersebut.

Citizen Report by RESTU AYU NINDI (Mahasiswa Akuntansi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar)