Roofi Jabbar (kader HMI Cabang Gowa Raya) Angkat Bicara Soal Pengurus Cabang

Rabu, Jan 24, 2018 | 154 views

Roofil Jabbar

JURNALPOST.COM, GOWA — Pada hakekatnya HMI bukanlah organisasi massa dalam pengertian fisik dan kualitatif, sebaliknya HMI secara kualitatif merupakan lembaga pengabdian dan pengembangan ide, bakat dan potensi yang mendidik, memimpin dan membimbing anggota-anggotanya untuk mencapai tujuan dengan cara-cara perjuangan yang benar dan efektif.

Tugas anggota HMI adalah berkewajiban meningkatkan kualitas dirinya menuju kualitas insan cita Himpunan Mahasiswa Islam. Independensi organisatoris adalah watak independensi HMI yang teraktualisasi secara organisasi didalam kiprah dinamika HMI baik dalam kehidupan intern orgnisasi maupun dalam kehidupan masyarakat berbangsa dan bernegara. Aplikasi dari dinamika berpikir dan berperilaku secara keseluruhan merupakan watak asasi kader HMI dan teraktualisasi secara riil melalui watak dan kepribadian serta sikap-sikap yang cenderung kepada kebenaran (hanief), bebas terbuka dan merdeka, obyektif rasional dan kritis, progresif dan dinamis, demokratis, jujur dan adil.

Sebagai sebuah lembaga yang menaungi komisariat-komisariat dalam lingkup kekuasaannya. Kepengurusan HMI Cabang Gowa Raya telah berada pada titik nadir persoalan moralitas berlembaga, dan menjadi perhatian kita bersama selaku kader HMI Cabang Gowa Raya.

Dalam perjalanan kepengurusan HMI Cabang Gowa Raya periode 2017-2018 ini telah banyak melakukan disorientasi. Dengan sadar menciptakan suasana permusuhan antar anggota HMI yang berada di komisariat-komisariat dibawah naungannya. Bukan memperbaiki malah memperkeruh suasana. Ada apa dengan Pengurus HMI Cabang Gowa Raya ? kami berpikir dan merasa, Cabang Gowa Raya saat ini tidak sehat. Dan jika tidak sehat tentulah sedang sakit.

Semenjak kepengurusan cabang Gowa Raya dipimpin oleh Andi Jimmy Rusman, militansi dan independensi Cabang Gowa Raya menjadi dipertanyakan. Kepekaan menghadapi isu-isu sentral sudah tidak lagi dirasakan untuk segera ditindak lanjuti sebagai sebuah himpunan yang menyatukan para aktivis untuk bertukar gagasan.

Netralitas pengurus cabang Gowa Raya dalam menyelesaikan konflik menjadi hal yang sulit ditemui bagi kader yang dirugikan, hal ini tentunya akan menjadi bumerang tersendiri bagi kepengurusan HMI Cabang Gowa Raya kedepannya. Kepengurusan periode ini kami anggap tidak mengedepankan kebersamaan sebagai keluarga besar Himpunan Mahasiswa Islam yang harus saling merangkul dan membesarkan. Dan hanya memberikan preseden buruk terhadap citra Cabang Gowa Raya dimata Nasional.

Sebenarnya telah menjadi rahasia umum bahwa kepengurusan HMI Cabang Gowa Raya ini diisi oleh beberapa kader yang tidak sesuai dengan kriteria dari aturan main HMI, dimana dalam Anggaran Rumah Tangga telah mengatur dengan jelas tentang personalia Pengurus Cabang (Pasal 29 ayat a-f). Hal ini kami anggap sebagai sikap yang hanya mementingkan kepentingan sebagian kelompok saja dan tidak bersifat universal kepada semua kader dibawah naungan Cabang Gowa Raya.

Dalam persoalan ketertiban administratif kepengurusan internal cabang yang tidak berjalan dengan baik tentu juga menjadi perhatian bagi kami. Dimana masa kepengurusan cabang yang hanya setahun harus melakukan berbagai evaluasi dan proyeksi dengan mengadakan Rapat Pleno minimal dua kali dalam jangka waktu persemester, namun dimasa kepengurusan yang sudah menginjak kurang lebih sembilan bulan ini, cabang Gowa Raya belum melaksanakan rapat pleno.

Selain itu, pengurus cabang Gowa Raya juga mengingkari tugasnya dengan tidak bersedia melantik kepengurusan Komisariat yang terpilih dari hasil Rapat Anggota Komisariat (RAK) yang sah di komisariat-komisariat tertentu. Hal ini tentu sangat menyedihkan.

Apalagi dalam hal melakukan pembahruan pengurus Koordinator Komisariat (KORKOM)  UIN Alauddin Makassar yang sudah beberapa kepengurusan cabang berlalu belum tergantikan padahal masa jabatan KORKOM hanya mengikuti masa jabatan kepengurusan cabang yang melantiknya dan dalam hal mengadakan KORKOM Ahmad Dahlan sesuai pembahasan Konferensi Cabang yang berlangsung beberapa waktu yang lalu, itu belum terealisasi. Padahal hal ini sangat jelas diatur dalam Anggaran Rumah Tangga (Pasal 30) tentang Tugas dan Wewenang Pengurus Cabang. Sikap untuk membangun dan mengembangkan wilayah Cabang Gowa Raya sama sekali tidak ada, begitu banyak Sekolah tinggi ataupun Universitas atau yang sederajat bermunculan tetapi tidak menjadi perhatian bagi pengurus cabang untuk menindak lanjuti hal tersebut.

Menyebarkan mission HMI menjadi buntu karena banyaknya Pengurus Cabang yang tidak paham akan status dan fungsinya sebagai seorang fungsionaris. Maka dari itu kami berkesimpulan agar sekiranya Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB-HMI) yang berada di Jakarta mengambil sikap atas Pengurus Cabang Gowa Raya yang kami anggap mencederai Nilai-Nilai Dasar Perjuangan HMI sebagai sebuah pedoman dari setiap kader.

Sekian pernyataan ini, sekiranya bisa menjadi atensi bagi kita semua.(*)

Like it? Share it!

Leave A Response