Panlih Muswil Muhammadiyah ke 39 Gugurkan Satu Profesor

Kamis, Des 24, 2015 | 600 views

JURNALPOST.com – Panitia Pemilihan Musyawarah Wilayah (Panlih Muswil) Muhammadiyah Sulsel ke-39 telah mengesahkan 41 calon tetap PWM Sulsel periode 2015 – 2020, Rabu, 23 Desember 2015 malam di Aula STIE Muhammadiyah Palopo. Sebelumnya, dalam proses penjaringan, panlih menggugurkan satu calon, yaitu Prof. Arifuddin Ahmad. Alasannya, Arifuddin dinilai bertentangan dengan poin ketaatan dan kepatuhan terhadap persyarikatan Muhammadiyah yang merupakan syarat dan ketentuan calon formatur Pimpinan Muhammadiyah.

Panitia Pemilihan Gugurkan Satu Profesor

Prof Arifuddin Ahmad

Ketua Panlih, Mawardi Pewangi, menjelaskan, panlih telah berkonsultasi dengan Pimpinan Pusat Muhammadiyah terkait tafsir atas poin tersebut. Pimpinan pusat menjelaskan bahwa yang dimaksud patuh dan taat terhadap Persyarikatan adalah menaati dan mengikuti segala kebijakan atau putusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah, seperti putusan hari pelaksanaan Idulfitri atau iduladha. “Kemarin ada putusan pimpinan pusat terkait lebaran, tapi dia (Arifuddin Ahmad) tidak mengikuti kebijakan itu. Itu termasuk dalam kategori,” jelas Mawardi.

Arifuddin menilai alasan panlih menggugurkan dirinya tidak objektif untuk dijadikan alasan. Ia menyatakan, sikapnya merupakan ijtihad yang berdasarkan pada quran dan sunah. Selain itu, ungkap Arifuddin, dirinya tidak pernah mengatasanamakan persyarikatan saat melaksanakan ijtihad tersebut. “Saya khotbah id atas nama pribadi. Saya tidak pernah menuliskan di spanduk-spanduk atau menyebut diri saya sebagai Pimpinan Muhammadiyah. Setahu saya, berdasarkan penjelasan Pimpinan Pusat, tidak termasuk melanggar kalau perseorangan” jelasnya saat diwawancarai Kamis pagi ini.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, tindakan tersebut karena ia berkeyakinan bahwa saat itu, belum memasuki hari Lebaran. Menurut Arifuddin, wujudul hilal setiap daerah berbeda, terlebih antara barat dan timur. “Masa waktu salat Makassar harus sama juga dengan Yogyakarta? Kalau berbicara tentang mathla, tidak ada itu hadis tentang mathla. Ini tidak berkesusaian dengan ilmu saya,” jelas Arifuddin.

Ia menambahkan, dirinya bisa menerima pengguguran ini jika beberapa calon yang ia ketahui memang tidak memenuhi syarat juga digugurkan. “Dalam hal ini, panitia pemilihan telah tidak adil kepada saya. Ada calon yang juga berkhotbah, kenapa lulus tongji? Bahkan, ada calon yang tidak pernah pimpinan atau di majelis, tapi lolos juga,” ungkap Arifuddin.

Akan tetapi, Guru Besar Ilmu Hadis ini menyayangkan jika ada calon yang digugurkan karena sikap ijtihadnya. Arifuddin menilai tindakan tersebut bertentangan dengan karakter Muhammadiyah yang selalu terbuka atas ijtihad. “Ini merupakan kemunduran Muhammadiyah menurut saya. Selama ijtihadnya sesuai dengan quran dan hadis, mengapa tidak?” ungkap Arifuddin.

Selain itu, ia juga menyayangkan Majelis Tarjih Muhammadiyah yang kurang membuka ruang kepada ulama dan cendekiawan muslim di bagian Timur Indonesia dalam Musyawarah Nasional Tarjih Pimpinan Pusat Muhammadiyah. “ Munas Tarjih itu selalu kebanyakan dari Jawa. Saya tidak pernah dilibatkan. Ada beberapa nama juga, seperti Prof. Ambo Asse, dan pakar ilmu falak Sulsel, Prof. Ali Parman yang bisa memberikan bahan pemikiran seperti ini, tapi tidak pernah diundang, padahal munas perlu mendengarkan ijtihad seperti ini,” jelas Arifuddin.(*)

Like it? Share it!

Leave A Response